Membumikan Konsep Islam Progresif Bung Karno

0
443
sumber ilustrasi : breakingnews.co.id

Oleh :Erlangga Danny Rimba Pradana

Sebagai fajar penghabis kegelapan, di awal abad kedua puluh, berkilaulah sinarnya dalam dunia gelap Indonesia, seorang de Grote Leider yang namanya tiada mungkin dilupakan. Soekarno, putra sang fajar yang telah membawa seluruh rakyat Indonesia dari zaman gelapnya menuju sinarnya kemerdekaan.

Pidatonya yang berapi-api dibarengi jiwa revolusionernya senantiasa membangunkan jiwa-jiwa rakyat Indonesia melawan imperialisme Barat saat itu. Hingga wafatnya pada 1970, beliau tiada pernah lelah menanamkan benih-benih persatuan, membangunkan keyakinan, membangkitkan semangat perlawanan terhadap ketamakan bangsa imperialis Barat.

Bung Karno bukanlah seorang yang dogmatis dan kaku dalam memahami Islam, namun sebaliknya progesif dalam Islam. Tatkala ia masih menjadi mahasiswa, ia menulis artikel yang berjudul Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme yang dimuat di Suluh Indonesia Muda pada tahun 1926.

Baginya, Islam ialah alat pemersatu ketiga golongan itu bagi bangsa Indonesia dalam melawan kungkungan imperialisme Barat. Walaupun golongan Islam mengecualikan adanya nasionalisme dan konsep materialisme dalam Marxisme, tetapi Islam mengandung semangat persaudaraan umat seperti sabda Nabi s.a.w.Sesungguhnya semua manusia itu bersaudara dan sama-sama menentang adanya praktek imperialisme yang pada kenyataannya mengeksploitasi manusia.

Islam jang sedjati tidaklah mengandung azas anti-nasionalis; Islam jang sedjati tidaklah bertabiat anti-sosialistis, selama kaum Islamis memusuhi kaum nasionalis jang luas budi dan Marxisme jang benar, selama itulah kaum Islamis tidak berdiri di atas Sirothol Mustaqim; selama itu tidaklah ia bisa mengangkat Islam dari kenistaan dan kerusakan tahadi. (Soekarno, 1964: 10)

Konsepsi persatuan ketiga golongan inilah yang sebenarnya menjadi gagasan Islam progresif Bung Karno. Dari konsepsi ini, lahirlah gagasan Nasakom ketika ia memimpin pada saat demokrasi terpimpin. Namun konsepsi ini dimanfaatkan oleh golongan komunis sebagai yesman Bung Karno untuk kepentingan politik mereka.

Kedua, Islam harus menerima kemajuan ilmu pengetahuan. Bahkan Bung Karno membuktikan alasan kaum pelajar Indonesia tidak mau belajar Islam sebagai berikut:

Islam tidak mau membarengi zaman, dan karena salahnja orang-orang jang memprogandakan Islam; mereka kolot; mereka orthodox; mereka anti-pengetahuan; dan memang tidak berpengetahuan, tachajul, djumud, menjuruh orang bertaqlid sahadja orang pertjaja sahadjamesum mbahnja mesum! (Soekarno, 1964: 337)

Ini menggambarkan betapa progresifnya Islam Bung Karno dengan tidak mengharamkan kemajuan IPTEK yang notabene buatan umat non-muslim yang oleh sebagian kalangan umat Islam dianggap sebagai buatan orang kafir. Tentulah ini tidak baik bagi peradaban umat Islam.

Islam is progress. Progress berarti suatu barang ciptaan baru yang tidak mengcopy barang lama. Umat Islam haruslah menerima segala kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tetapi janganlah umat Islam lupa bahwa mereka tiada boleh bersikap taqlid saja menerima kemajuan dan pengajaran yang mereka peroleh tanpa referensi yang logis. Mereka harus melandasinya dengan pemikiran yang kritis.