Membumikan Kemanusiaan untuk Perdamaian

0
209
sumber ilustrasi: http://indonesiauntukkemanusiaan.org

Oleh: M. Nur Arif Afendi

Kehidupan manusia selalu mengalami dinamika perubahan dalam masyarakat, problematisasi, stagnasi, konflik, mediasi, agensi, hegemoni, dan resistensi semua itu adalah gambaran kompleksitas kehidupan manusia. Tentu semuanya berkaitan dengan manusia, kemanusiaan yang selalu mengimbangi nilai kehidupan baik secara individu maupun kelompok. Kompleksitas kehidupan terjadi adanya manusia itu sendiri dari mulai sikap, etika, perilaku, pilihan rasional yang ingin menang sendiri dan lain sebagainya. Semuanya itu memiliki pengaruh dan urgensi bahkan dampak yang signifikan dan besar terhadap kehidupan manusia.

Dewasa ini dapat kita lihat banyak sekali terjadi konflik perpecahan, permusuhan, perselisihan, saling ujar kebencian satu dengan yang lainnya, dan masih banyak lagi konflik-konflik yang terjadi saat ini. Hal itu dikarenakan nilai kemanusian atau Humanitas sangat rendah, kecil serta tidak memiliki kesadaran akan hal tersebut. Hal tersebut karena adanya eksistensi terhadap simbol-simbol pengakuan terhadap suatu kelompok yang sangat kuat dan kefanatikan terhadap simbol yang menjadi pengakuan kebenaran atas individu atau kelompok tersebut. Pengakuan terhadap suatu diri sendiri dan kelompok yang sangat kuat membuat pengaruh hegemoni menjadi lebih besar utuk mendominasi kelompok tersebut.

Tanpa dipungkiri lagi konflik perselisihan, saling memusuhi dan saling membenarkan suatu kelompok dan diri sendiri masing-masing akan tetap mengakar dan menjadi pengahalang untuk mencipatkan suatu perdamaian, jika sifat memanusiakan manusia masih saja sangat jarang dilakukan. Memanusiakan manusia masih sangat minim dilakukan, kepedulian sosial terhadap sesama juga menjadi salah satu faktor terciptanya suatu perdamaian antar individu bahkan kelompok. Kurangnya menyadari dan memahami beberapa nilai identitas individu, sosial, dan humanitas, yang dapat mempengaruhi karakter, tindakan, dan berfikir manusia, menjadikan mereka selalu bersifat berkuasa dan tidak memikirakan kehiduapan manusia, sehingga sangat jauh dan sulit untuk mewujudakan kehidupan yang tentram dan damai.

Kemanusiaan Untuk Perdamaian

Kemanusiaan untuk perdamaian adalah sebuah usaha dimana konsep kemanusiaan yang saling peduli antar sesama, dengan menyadari akan adanya nilai ketentraman, kesejahteraan, kedamaian, ketenangan satu sama lain dan sebagainya. Sebagai masyarakat sosial yang terikat pada suatu sistem yang sangat kuat dunia kompetisi, komersialisasi, dan lain sebagainya, namun tetaplah nilai kemanusian yang penuh dengan empati, simpati dan apresiasi tidak dapat lepas dari kehidupan bermasyarakat.

Dunia saat ini tidak lagi kekurangan dan kehilangan nilai materi melainkan kekurangan dan kehilangan nilai humanitarian atau kemanusiaan. Semua teori materialisme mengarahkan orang untuk memperlakukan semua orang, termasuk dirinya sendiri sebagai objek, yaitu suatu rangkaian reksi-reaksi yang dapat dipastikan sebelumnya. Manusia dianggap berbeda dengan kualitas-kualitas dan fenomena-fenomena yang menyatakan sebuah meja, kursi atau batu. Tujuan kita adalah bagaimana membangun kerajaan manusia yang berbeda dengan dunia materi untuk mencapai perdamaian. Namun subjektifitas yang kita anggap sebagai ukuran kebenaran bukanlah subjektivitas individualyang sempit, melainkan mengikut campur tangan diri orang-orang lain.

Tanpa dipungkiri lagi manusia dalam bertindak dan berfikir pasti membutuhkan bantuan dari orang lain untuk mewujudkannya. Seperti apa yang telah di katakana dalam filsafat Descartes, Kant, ketika kita mengatakan saya berpikir, kita mengikatkan diri kita pada kehadiran orang lain. Disini kehadiran orang lain dianggap sama pastinya dengan kehadiran orang diri sendiri. Dengan demikian, orang yang menemukan dirinya secara langsung dalam cogito dan juga menemukan diri-diri orang lain, akan menemukan bahwa kehadiran orang-orang lain adalah prasyarat bagi kehadirannya sendiri. Dalam hal ini pula harus diketahui beberapa identitas seperti, identitas individu, identitas sosial dan identitas humanitas.

Identitas individu sangat individualistik, spesifik dan spesialisasi ats dirinya sendiri. Identitas sosial sangat khusus, expert dan profesioanal maupun proporsional. Identitas humanitas bersifat sangat luas, umum dan global. Humanitas adalah kesadaran manusia terhadap nilai-nilai kemanusian, perdamaian antar manusia, perlindungan atas hak asasi manusia, dan bencana maupun penyiksaan atau pembunuhan manusia. Jika, kita dapat memposisikan semua identitas dengan baik, maka kemanusiaan untuk perdamaian akan terwujud dalam kehidupan manusia dengan memanusiakan manusia, dengan harmonis dan dinamis dengan damai. Dengan begitu kehidupan global kedepan, manusia dunia, manusia kosmos, manusia digital, manusia milenial, dan manusia secara universal lebih memahami secara rinci dan intelek terhadap nilai perikemanusian untuk mewujudkan sebuah perdamaian baik secara individu dan kelompok.