Media Sosial Membuat Individual

0
483
(Sumber Ilustrasi: tedyck.blogspot.com)
(Sumber Ilustrasi: tedyck.blogspot.com)

Perekembangan dunia semakin cepat, yang pada awalnya masyarakat beraktivitas dalam memenuhi kebutuhannya dengan bercocok tanam (tani), kemudia fase kedua basis industri, serta yang terakhir dunia modern beralih dunia teknologi, seperti sekarang ini. Semua aktivitas sosial bisa dilakukan dimanapun dan kapanpun keberadaannya. Tangan-tangan manusia digantikan dengan peralatan canggih. Disamping manusia menikmati dengan hadirnya teknologi sebagai motor penggerak yang tak kenal lelah. Disamping kehadiran teknologi, manusia juga telah dirugikan dengan hadirnya teknologi, seperti dalam hal lapangan pekerjaan hampir seluruhnya dirampas oleh teknologi.

Kehidupan manusia bisa mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat seperti media soaial semakin berkembang memudahkan masyarakat saling interakasi. Inilah sulapan teknologi informasi (IT). Berbagai media sosial yang ada semuanya termuat dalam satu genggam, yaitu smart phone. Maka tidak jarang masyarakat sekarang ini yang tidak mempunyai dan menggunakan smart phone. Bahkan banyak juga orang yang menggunakan smart phone lebih dari satu. Satu orang bisa saja mempunyai smart phone dua sampai lebih. Padahal dalam satu smart phone saja sudah bisa mencakup semua aplikasi media sosial yang memudahkan manusia bersosial, dialog, dan komunikasi dengan siapa pun dan dimana pun.

Peralatan canggih yang bisa menjangkau ke seluruh dunia menjadikan dunia itu data seperti yang digambarkan dalam buku (the world is flat) dunia tanpa batas karyannya Thomas L. Friedman (2004). Namun perlu dicermati bahwa, dengan adanya alat-alat komunikasi yang semakin canggih, media sosial semakin berkembang tidak memungkinkan terdapat sisi negatifnya. Meskipun sisi positif juga dapat kita rasakan dewasa ini. Media sosial yang pada awalnya difungsikan sebagai alat untuk berkomunikasi dan dan berintrekasi satu sama lain, namun dengan adanya media sosial manusia menjadi individual.

Bagaiamana tidak? Setiap orang memiliki media sosial lebih dari satu, seperti BBM, whatsapp, path, instagram, facebook, line, dan media lainnya dalam keadaan seperti ini manusia akan disibukan dengan dering media yang masuk kedalamnya. Jika dari semua media yang ada dalam smart phone terus aktif digunakan, maka manusia akan menjadi pecundangnya. Sehingga pengguna media sosial akan fokus dan lebih mementingkan bermain dan berintrekasi dengan lawan pengguna mediannya. Shingga tidak memperhatikan dan tidak sadar akan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Penulis mencontohkan seorang mahasiswa, kekeliruan mahasiswa dalam menggunakan media sosial sehingga menjadi individual ketika dalam kelas, mereka sibuk dengan memaenkan smart phone-nya. Tidak memperhatikan seorang dosen ketika berbicara menjelaskan materi perkuliyahan yang sedang dibicarakan di kelas. Bukan hanya dikelas, kekeliruan mahasiswa juga terjadi saat mereka turut hadir dalam kelompok diskusi. Banyak pula yang terjadi mahasiswa hanya sekedar hadir dalam tempat diskusi, namun pikiran dan kesibukannya lagi-lagi dengan media sosialnya. Ini bisa kita lihat dari pernyataan menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Menjauhkan yang dekat inilah membuat individual dan ketidakpedulian manusia timbul di dalamnnya.

Mahasiswa dijadikan sebagai example (contoh) konteks ini, meskpiun masih banyak pula mahasiswa yang kritis dan serius memikirkan perkuliyahannya. Hal tersebut, tidak memungkinkan bahwa dengan adanya para pegawai, pejabat, dan kelas masyarakat lainnya melakukan hal yang sama. Untuk berinteraksi dengan teman kerjannya sangat kurang. Yang tidak sadar akan lingkungannya karena media sosialnya. Dunia maya akan lebih lama dirasakan oleh para pengguna media sosial daripada menghabiskan waktunya di dunia nyata. Peran media sosial seakan hilang dari fungsi subtansinya yang awalnya sebagai alat bersosial dan berintraksi, namun menjadi alat individualis.

Di samping itu, dengan menggunakan media sosial yang berlebihan, pastinya akan ada efek lainnya. kita belum meninjau penggunaan tekonologi dalam bentuk media sosial dari segi kesehatan. Mengenai efek berlebihan menggunakan media sosial. Contoh saja, ketika kita membaca berita yang kebetulan kabar itu hoax yang sifatnya akan memecah belah msyarakat. Maka orang tersebut akan semakin banyak pula merasakan perasangka-persangka terhadap kabar yang didapatnya dari media sosial. Padahal, sebuah perasangka yang dirasakan oleh orag-orang yang menerima informasi tanpa adanya kebenaran.

Seperti pernyataan Abu Ahmadi, dalam bukunya yang berjudul Psikologi Sosial menjelaskan bahwa perasangka itu sebenarnya karena salah sangka, miss informasi, miss komunikasi, dan miss interpretasi, (Abu, 2002:200). Maka sebaiknya bagi para pengguna media sosial harus bisa menempatkan diri. Ketika melakukan kegiatan penting, menggunakan media sosial tidak lagi digunakan. Seperti mahasiswa ketika mengikuti perkuliyahan atau ketika berdiskusi. (jaed/j)