Matinya Socrates Sama Dengan Matinya Sang Guru

0
132
sumber foto: bukalapak.com

Judul : Matinya Socrates

Penerbit : Narasi

Tahun terbit : 2017

Halaman : 110

ISBN : 978-979-168-444-6

Resentator : Ahmad Zainul Fuad

Matinya Socrates adalah sebuah tingkatan estetis dalam filsafat eksistensi dimana kebanyakan orang takut menghadapi sebuah kematian namun Socrates dengan tenang dan riang dia menghadapi kematian. Ia telah begitu siap menghadapi kematian karena baginya kematianlah yang akan mengantarkan jiwanya mencapai sebuah eksistensi, berjuang untuk membebaskan diri dari ikatan atau ketundukan pada kesenangan ragawi. Buku matinya Socrates yang merupakan terjemahan dari Phaedo ini berisi tentang dialek yang menarik. Sebuah dialek mengenai metafisik, sebuah dialek yang begitu dalam mengulas mengenai esensi jiwa, dialek mengenai tuduhan dan kematian, arah dan akhir dari seorang filsuf sejati.

Dengan bahasa yang mudah dipahami dan ringan, sang penerjemah mencoba menguraikan dan memahamkan isi dialek dari buku asli. Ini tentu bukan pekerjaan mudah sebab tidak bisa dipungkiri dalam kasus penerjemahan pasti sering dijumpai kosakata yang tidak ada padanan dalam bahasa Indonesia namun di sini penulis bekerja keras mencari persesuaian di perbendaharaan kata lain yang maknanya sama atau mirip.

Dalam dialek ini, tokoh guru (Socrates) akan menghadapi kematian sebab dinilai mencuci otak pemuda pemudi Athena. Dia dihukum mati dengan cara meminum racun. Sebagai seorang guru yang bijak pasti tidak sedikit orang (murid) rela gurunya pergi meninggalkan muridnya. Simmas, sang murid Socrates bahkan siap menebusnya dengan uang yang dimilikinya. Namun, Socrates lebih memilih menghadapi kematiannya, seperti di akhir dialek yang hendak meminum racun. Yang kala itu matahari masih di atas pucuk bukit dan cinta menghimbau dengan buru-buru sebab masih ada usaha hidup. Akan tetapi ia berkata aku tidak berfikir bahwa aku akan memperoleh manfaat dengan minum racun sedikit terlambat! Aku akan melewatkan suatu kehidupan yang telah berlalu.

Buku ini mengingatkanku pada sebuah buku eksistensi. Eksistensi yang sejati memungkinkan individu untuk memilih dan mengambil keputusan serta tindakan atas tanggungjawabnya sendiri. Seperti halnya yang dikatakan Socrates. Jiwa memegang tanggungjawabnya (memenuhi ilmu, estetika, dan kebenaran serta kebaikan mutlak). Jika sudah tidak terikat dengan duniawi sebab perangai duniawilah yang menyebabkan jiwa tidak eksis karena jadi subjek untuk tujuan duniawi.

Lantas setelah lepasnya jiwa dari tubuh (kematian) apakah benar jiwa itu akan eksis atau juga ikut musnah bersamaan dengan lepasnya diri tersebut? Ini adalah dialek serta permasalahan yang dihadapi Socrates. Sebab dia sendiri baru hendak menghadapi kematian belum sampai menghadapi kematian itu. Namun dengan handal dan bernas di usianya yang ranum ia menganalisa sebuah kematian esensi jiwa dan akhir (tujuan, goal) dari kehidupan. Baginya kebenaran, keindahan, dan kebaikan mutlak diperoleh ketika terlepas dari dunia yang wadak dan pengalaman indrawi. Dan akhirnya, jiwa ditarik kesimpulan maka argumentasi Socrates adalah pemikiran radikal baik di zamannya atau pun di zaman modern. Yakni tidak dapat mencapai pengetahuan hakiki sampai kita terbebas dari tubuh melalui kematian.

Dialek-dialek Socrates dengan murid-muridnya menjelang kematian untuk dirinya mengisyaratkan kita bahwa dalam hal semangat pertebaran ilmu agaknya Socrates merupakan inspirasi yang tak pernah mati. Dan kita tahu amal shaleh dan kebajikan, serta ilmu yang bermanfaat adalah persiapan untuk menjemput kematian.