Konsep SOGIEB dalam Penerimaan Diri

0
883
sumber foto: kaltim.prokal.co

Oleh: Syaifurrohman

Persoalan atau konsep SOGIEB di Indonesia memang belum banyak dibahas, karena SOGIEB sendiri merupakan budaya barat, yang tidak cocok dengan budaya ketimuran. Penulis disini bukan mencari SOGIEB sebagai sebuah konsep yang harus ada di budaya timur terkhusus di Indonesia. Karena penulis ingin memberikan sebuah pemahaman mengenai SOGIEB agar teman-teman lebih mau menerima perbedaan orang lain.

Sebelum melebar kemana-mana, alangkah baiknya penulis memberikan pengertian mengenai SOGIEB, yaitu; Sexual Orientation, Gender, Identitity, Expression, dan Bodily, namun dalam keseharian masyarakat di Indonesia bisa disebut dengan orientasi seksual, identitas gender, ekspresi gender, dan ketubuhan.

Setelah mengetahui apa itu SOGIEB, penulis ingin menjabarkan semuanya.

Pertama, orientasi seksual adalah ketertarikan secara seksual baik fisik maupun emosional seseorang terhadap jenis kelamin tertentu. Ketertarikan secara seksual dan emosional tidak bisa berdiri sendiri pasti mepunyai keterkaitan. Jika salah satu saja itu sudah keluar dari konsep orientasi seksual itu sendiri.

Orientasi Seksual terdiri dari homoseksual, biseksual, heteroseksual, dan aseksual. Seseorang tidak bisa dikenali berdasarkan penampilan/fisik luar, oleh karenanya kita jangan mengejudge orang itu berlainan orientasi seksualnya. Karena pada hakikatnya dan semestinya seseorang terlahir dengan orientasi seksualnya masing-masing, tanpa campur tangan teman atau orang tua.

Kedua, identitas gender adalah pikiran seseorang mengenai gendernya sendiri. Identitas gender bisa dibedakan antara laki-laki, perempuan, dan transgender. Penulis disini menekankan kepada pembaca bahwasanya identitas gender seseorang tidak bisa diketahui hanya berdasarkan penampilan dan kejujuran dari orang tersebut. Karena identitas gender seseorang belum tentu sama dengan jenis kelamin yang dimiliki.

Ketiga, ekspresi gender adalah bagaimana seseorang mengekspresikan sisi maskulin, feminim, atau adrogynous dalam penampilan, perilaku, sikap dalam kehidupan sehari-hari. Disini, penulis mengingatkan bahwasanya ekspresi gender tidak ada kaitannya dengan identitas gender, ketika identitas gendernya laki-laki, tidak harus maskulin bisa saja laki-laki itu feminim atau adrogynous, itu sebuah pilihan yang tidak bisa dicampuri oleh orang lain.

Keempat, ketubuhan itu bersifat mutlak. Maksudnya seseorang mempunyai otoritas penuh untuk tubuhnya dan orang lain tidak berhak mengatur apa yang akan dilakukan dengan tubuhnya itu. Intinya tidak ada satu orang pun yang berhak intervensi terhadap tubuh, termasuk ayah, ibu, teman, saudara, pacar, gebetan hingga bribikan, pokoknya semuanya tidak boleh.

Tentu ketika berbicara SOGIEB akan berbicara mengenai penerimaan diri sendiri atau menerima diri orang lain. Tinggal menunggu waktu saja kita menerima atau yang diterima karena pada dasarnya penerimaan diri merupakan proses hidup yang fluktuatif mengenai bagaimana seseorang menerima segala sesuatu baik kelebihan maupun kekurangan.

Terakhir, penulis ingin berpesan kepada teman-teman (terutama saya), cobalah untuk menerima entah itu berbeda dari kita baik sedikit maupun banyak, karena Tuhan menyukai dunia yang berwarna dengan banyaknya perbedaan. Menerima itu jauh menyenangkan daripada mengejudge yang kagak jelas juntrungannya.