Konsep Seksualitas Dalam Agama dan Pelecehan Seksual

0
138
sumber ilustrasi: http://pa-kotamobagu.go.id

Oleh: Abdullah Faiz

Akhir-akhir ini tubuh perempuan selalu menjadi bahan pembahasan yang segar di segala hal karenya tidak ada diskursus lain yang memiliki daya tanding yang lebih tinggi. Tubuh perempuan dari masa ke masa selalu mengalami kontestasi untuk diperebutkan oleh pihak-pihak yang berasal dari luar dirinya. Ada titik yang dibidik sekaligus disasar dari perebutan wacana dan tubuh perempuan, yakni ketundukan dan kepasrahan. Dalam hal ini pihak laki-laki adalah tertuduh utama yang selalu merasa memiliki hak istimewa untuk membuat berbagai penilaian atas tubuh perempuan. Laki-laki merasa seakan memiliki previlage untuk mengintervensi dengan meletakkan standar nilai tertentu kepada tubuh perempuan.

Di dalam ajaran agama Islam tubuh perempuan di identikkan sebagai yang memiliki Rahim. Konteknya hal ini mengidikasikan perempuan sebagai jenis kelamin yang membawa kehidupan di sisi lain perempuan memiliki keistimewaan yang khas dan tak bisa di pertukarkan. Oleh karna itu Islam sangat menghormati perempuan sebagai manusia yang sama dengan laki-laki.garis besar dalam Islam yang membingkai perbedaan laki-laki dengan perempuan hanyalah pada tingkatan amal shaleh.yakni sejauh mana kedua jenis kelamin berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan dan bermanfaat bagi orang lain.

Sejatinya wahyu seksualitas agama sudah ada dalam Al-Quran yang di bingkai melalui kelembagaan perkawinan. Hubungan seksual yang di lakukan di luar perkawinan dianggap illegal di sebut sebagai zina. Ayat larangan zina terdapat pada (QS:Al Isra 32)“Janganlah kalian mendekati zina karena termasuk hal yang keji”dengan penekanan mendekati saja tidak boleh apalagi melakukan hal ini sesungguhnya hendak merespon masa pra-Islam yang kegiatan seksual di laksanakan dengan bebas secara binal dan penuh dengan eksploitasi terhadap perempuan. Kita tahu sendiri bagaimana hasrat seksual bangsa Arab sebelum Al-Quran di turunkan, Al-Quran sendiri menyebutnya sebagai assyadul kufr wa nifaq, di mana perempuan dihargai sangat murah. Baru setelah itu Al-Quran turun masalah seksual ini agak di beri rambu-rambu khusus. Termasuk membatasi kepemilikan istri menjadi maksimal empat, .sebelum Islam datang, konstruksi sosial bangsa Arab yang di sebut sebagai masa jahiliyah telah menempatkan perempuan hanya sebagai properti atau benda yang dapat di ambil kenikmatanya untuk memenuhi hasrat seksualnya.

Seksualitas dalam agama

KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah membuat gempar warga Indonesia karena ungkapanya yang cukup nyentrik dalam salah satu chanel radio yang berbunyi “Porno itu letaknya ada dalam persepsi seseorang, kalau orang kepalnya ngeres dia akan curiga bahwa Al-Quran itu kitab suci paling porno karena ada ayat tentang menyusui” (Al-Baqarah:233) dan ada roman antara Zulaikha dengan Yusuf (Yusuf:24) Mungkin ungkapan itu ada benarnya karena Al-Quran sudah mengupas tuntas tentang urusan seksualitas dalam ayat-ayatnya misalnya diperbolehkanya poligami atau ayat yang berkenaan dengan aturan berhubungan intim ayat tentang menyusui (QS Al-Baqoroh:233) dan ada roman antara Yusuf Zulaiha(QS Yusuf :24) dan masih banyak sekali ayat-ayat yang berhubungan dengan dunia seksual ini.

Bahkan dalam tradisi pesantren ada kitab yang mengupas tuntas khusus masalah dunia kelamin. Contoh misalnya kitab uqudul lujain dan fathul izar yang mengatur relasi suami istri atau kitab qurrotul uyun yang mengupas secara mendalam dunia seksual di dalamnya diterangkan bahwasanya disunnahkan sebelum melakukan hubungan intim, keduanya suami dan istri bergurau dahulu dengan bermain main agar menyenangkan hati sang istri dan mampu membangkitkan syahwat istrinya, ada sebagian ulama berpendapat apabila ingin berhubungan intim tidak melakukan pembukaan yang membangkitan birahi perempuan maka akan mengakibatkan anaknya cacat,bodoh dan penyakitan dan ada juga apabila suaminya orgasme terlebih dahulu hendaknya menunggu sampai istrinya puas. Intinya di dalam pesantren dunia seksualitas masih mendapatkan porsi yang khusus untuk dijadikan bahan pegangan berumah tangga.

Pelecehan seksual dalam konsep agama

Dalam Islam tindakan atau prilaku plecehan seksual digolongkan sebagai tindakan yang tidak terpuji. Agama Islam adalah agama yang sangat universal dapat di terima oleh seluruh alam sampai akhir zaman universalitas dalam Islam sudah mencakup keseluruhan aspek kehidupan manusia dari yang paling besar hingga yang paling kecil, diantaranya yang berkaitan dengan moral etika akhlak ataupun pergaulan manusia sehingga permasalahan permaslahan yang sering tmbul dari pergaulan sosial seperti pelecehan seksual yang harus di hindari.

Tindakan pelecehan seksual tidak hanya Islam yang menggap sebagai sifat tercela, agama lainpun mengganggap demikian. Karena agama mengajarkan kepeda setiap pemeluknya untuk saling menghormati kepada siapapun tanpa memandang posisi maupun jabatan. Dalam Islam sendiri ketentuan aktifitas seksual hanya diperbolehkan melalui jalur pernikahan yang sah.

Pelecehan seksual timbul akibat masalah pergaualan sosial, untuk itu ajaran agama telah memberi peraturan dalam bergaul seperti harus bersikap santun,etika dalam berpakaian dan memandang orang dalam berinteraksi sosial atau dalam bergaul. Dengan demikian pelecehan seksual merupakan bentuk perbuatan yang di anggap bermoral rendah,karena moral merupakan tata kelakuan seseorang dalam bergaul. Oleh sebab itu dunia seksualitas dianggap hal yang najis bahkan diklaim sbagai lingkaran syaitan tapi nyatanya tidak demikian,masalah seksualitas agama sudah mengatur lebih mendalam namun perbedannya lebih di kemas secara bermoral beda dengan tindakan pelecehan seksual yang seakan ditampilkan senonoh dan tidak bermoral.

Sebenarnya masalah hasrat manusia tentunya harus di kembalikan kepada masing masing indifidu seperti apa insting dan pikiran mereka karena ukuranya adalah moral yg sangat tinggi. Dimana pun itu berada selama ada kesempatan tindakan plecehan seksual akan terjadi sekalipun dalam lembaga yang berbasis agama,sebab manusia tidak bisa lepas dari unsur nafsu seksual. Manusia sebagai makhluk yang unik karena diciptakan dari dua potensi yang berbeda yaitu naluri nafsu hewani dan pikiranya. Oleh karena itu harus seimbang namun karena adanya unsur ini manusia dapat melanjutkan dan mempunyai keturunan namun bukan berarti manusia boleh melakukan hal ini sesuka hatinya.