Ketua JQH : Semianar Tilawah Kegiatan Pembuka Milad ke – 23

0
178
Foto bersama Ustad Solihul Hadi dengan peserta dalam acara Seminar Tilawah Nasional bersama Qori' Internasional sekaligus Pembina Qori' Jawa Tengah Ustadz Sholihul Hadi bertema "Mengurai Keindahan Dasar Tilawah Melalui 7 Nagham Al-Quran yang bertempat di Auditorium 2 Kampus 3 UIN Walisongo, Selasa (21/03).
Foto bersama Ustad Solihul Hadi dengan peserta dalam acara Seminar Tilawah Nasional bersama Qori’ Internasional sekaligus Pembina Qori’ Jawa Tengah Ustadz Sholihul Hadi bertema “Mengurai Keindahan Dasar Tilawah Melalui 7 Nagham Al-Quran yang bertempat di Auditorium 2 Kampus 3 UIN Walisongo, Selasa (21/03). (Foto : Dok.JQH)

 

Milad ke-23 JQH Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Jamiyyatul Qurrawal Huffadz (JQH) el-Fasya menyelenggarakan Seminar Tilawah Nasional bersama Qori’ Internasional sekaligus Pembina Qori’ Jawa Tengah Ustadz Sholihul Hadi bertema “Mengurai Keindahan Dasar Tilawah Melalui 7 Nagham Al-Quran yang bertempat di Auditorium 2 Kampus 3 UIN Walisongo, Selasa (21/03).

“Ini merupakan acara pertama sekaligus pembuka kegiatan dalam rangka harlah UKM JQH ke-23,” ujar Ketua Umum UKM JQH,” Khoerun Nadhifin.

Ketua Panitia Maulana Naufal Azizi menuturkan acara ini merupakan salah satu cara mencintai al-Quran dengan bertilawah

“Ini sebagai bentuk rasa mencintai Al-Qur’an salah satunya dengan bertilawah, karena bertilawah akan mendekatkan kepada sang pencipta. Acara kali ini harus dimanfaatkan oleh peserta maupun pihak yang ikut berpartisipasi,” jelas pria asal Semarang.

Mohammad Arifin menuturkan belajar tilawah merupakan salah satu cara mencintai Al-Qur’an. Tilawah tidak hanya sekedar bisa bertilawah namun esensi dari bertilawah itu adalah mendekatkan diri kepada Allah.

“Memahami Al-Qur’an adalah tugas bersama, tidak sekedar membaca, alangkah lebih baiknya mengetahui kaidah-kaidah dalam membaca Al-Qur’an dengan baik,” ujar Wakil Dekan 3 Fakukltas Syariah dan Hukum.

Mencintai Al-Qur’an dengan Cara yang Berbeda

Ustad Solihul Hadi memaparkna persoalan Al-Qur’an tidak hanya soal mana yang benar dan mana yang salah.

“Melihat Al-Qur’an dapat ditinjau dari berbagai aspek, semisal ; keindahan lagunya, nahwu shorofnya, maupun gaya bahasanya. Itu metode belajar mempelajari tilawah,” ucapnya

Para Ulama besar dalam mencintai Al-Qur’an tidak hanya dengan bertilawah namun tidak sedikit yang membuat karya yang membahas Al-Qur’an. Salah satu contoh yaitu Tafsir Al-Misbah karya Quraish Shihab, Tafsir Al-Munir karya Wahbah az-Zuhaily, dan masih banyak lagi.

“Ini terbukti mencintai Al-Qur’an sangat penting bagi setiap muslim, karena dengan mencintai Al-Qur’an sama halnya mencintai Allah. Tidak harus dengan bertilawah mungkin dengan yang lain semisal membuat kitab yang membahas Al-Qur’an, namun itu tidak menjadi acuan harus melaksanakan itu agar bisa mencintai Al-Qur’an,” tukas pria asal Kudus (SYAIFUR/LESEN)