Ketika Cinta Memunculkan Pluralisme

0
420
(Sumber: santricendekia.com)

Cinta memang suatu hal yang sangat menarik untuk dibicarakan, dilihat dari segi mana pun akan selalu ada cerita di setiap aspeknya. Ini juga mungkin yang melahirkan semboyan bahwa cinta adalah segalanya, cinta adalah kedamaian bagi setiap umat dan bagi siapapun yang merasakannya. Implikasi dari kehidupan nyata yaitu banyaknya pasangan beda agama yang memadu kasih dengan kuatnya.

Lalu, apa hubungannnya dengan prularisme? Jika kita mengaitkan dengan cinta dan agama akan bertemulah benang merah yang menghubungkan kedua hal tersebut. Cinta merupakan salah satu fatkor pendukung adanya pluralisme agama di dunia. Namun,faktanya Indonesia tidak mengijinkan sepasang kekasih yang beda agama untuk menikah. Kantor Urusan Agama (KUA) sendiri pun tidak bisa menikahkan keduanya karena adanya hukum yang mengatur yakni Kompilasi Hukum Islam Inpres no.1 tahun 1991. UU Perkawinan No. 1 Tahun 1974 pada Pasal 1 juga menyebutkan bahwa Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Mahaesa. Kemudian, diperjelas dengan pasal 2 ayat 1, yaitu Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu.

Ketika ada yang bertanya, bolehkah menikah dengan beda agama, Gusdur menjawab “tentu saja boleh. Karena yang melarang adalah mereka yang mengajinya belum khatam, baru sampai ke al-Baqarah, belum memahami al-Maidah.” Inilah kenapa yang menjadikan kekhawatiran pemerintah dalam pembuatan larangan menikah beda agama. Bagaimana tidak, karena kebanyakan orang yang sudah menikah beda agama, salah satu pasti akan mengalah dan mengikuti keyakinan pasangannya. Dilihat dari artikel online, hal tersebut mungkin benar.

Hambatan orang tua yang sering mendengar para agamawan mengungkapkan bahwa agama adalah dogma, bukan sebagai cinta kasih. Jika menengok sejarah, Muhammad adalah seorang Nabi yang semua anakanya adalah perempuan. Ketiga putrid Nabi Muhammad pun menikah dengan non-muslim. Yasser Arafat, Presiden Palestina, menikah dengan isterinya yang Katolik Koptik tanpa membebani istrinya untuk masuk Islam, dan sebaliknya. Juga tentang fatwa MUI larangan nikah beda agama adalah merupakan persepsi atau sebuah opini MUI.

Lalu, dengan adanya suatu ikatan, bukannkah akan timbul yang namanya kebersamaan dalam sebuah perbedaan. Akan timbul pemahaman antar umat beragama dengan menjaga solidaritas dan toleransi sesame manusia. Sebenarnya, hubungan beda agama hanyalah suatu simbolik dan praksisnya saja, bukan masuk pada ranah substansi dan essensialnya. Karena haikat dari perkawinan adalah hubungan badan suami dan istri sehingga berlangsunya sakinah dan melestarikan keterunan sesuai pernyataan Imam Hanafi. Meskipun ada perbedaan pendapat dengan Imam Syafii.

Indonesia yang merupakan negara pluralism juga masih memperdebatkan adanya nikah beda agama, kenapa diperdebatkan jika sudah adanya pluralisme yang di terapkan. Sebetulnya sudah tidak lagi untuk dikhawatirkan dalam masalah perkawinan beda agama. Seperti halnya pendapat Nurkholis Madjid bahwa perkawinan merupakan sebuah muamalah, yaitu hubungan manusia dengan manusia bukan wilayah ubudiyah. Perikatan pernikahan adalah ikatan suci antara seorang suami istri untuk membentuk keluarga yang bahagia.

Jika masih adanya intimidasi, pengucilan, cemoohan, sehingga terjadi oleh masyarakat maka hal ini perlu diluruskan bagi oleh agamawan dan pemerintah yang berpengaruh di masyarakat. Untuk mengubah paradigm sehingga tidak terjadinya diskriminasi dalam masyarakat. Pada prinsipnya, pasangan hidup adalah mereka yang bisa membuat kita nyaman dan bisa saling menghargai satu sama lain sehingga menjalankan ibadah dan muamalah baik.

Itulah yang kemudian membuat orang tidak mau berpikir panjang kepada siapa ia akan menikah, karena yang mereka butuhkan adalah kenyamanan, walaupun didapat dari pasangan beda agama. Hukum di Indonesia mungkin menjadi momok bagi pasangan beda agama yang akan melangsungkan pernikahan di negeri sendiri. Mereka harus rela merogoh kocek yang cukup banyak demi berlangsungnya hubungan mereka di masa depan.

Sekali lagi, apakah memang benar, pluralisme di negeri Indonesia sudah berjalan sebagaimana mestinya. Haruskan agama menjadi problem utama dalam mengukuhkan pluralisme agama di Indonesia. Sepanjang yang kita tahu, agama merupakan masalah terbesar dalam mencapai sebuah persamaan atau pun perbedaan yang bisa diterima oleh banyak orang.

Sekali pun demikian, bukankah semua agama memiliki ajaran yang baik, agama lain tetap memiliki nilai lebih dan kebenaran di dalamnya. Walaupun kita masih menganggap agama yang kita anut adalah agama yang sempurna. Adanya kerjasama yang baik antar agama juga akan menguntungkan bagi Indonesia, karena akan terjadinya sinergi antar pengusaha-pengusaha atau etnis-etnis yang berkuasa tanpa memandang diri mereka, yang ada identitas bersama bahwa mereka adalah Indonesia.

Adanya menjalin hungungan antar agama yang ikut berperan serta dalam pembangunan pluralisme, alangkah baiknya diberikan kebebasan yang tetap pada batasnya. Semuanya akan berjalan seirama jika kita semua mampu menyatukan perbedaan agama, etnis, suku, warna kulit dan cara pandang. Hukum agama merupakan wilayah privat buku publik. Tetapi, di Indonesia negara mengatur semua hak-hak masyarakat. Ini sangat jauh dengan negara sekuler. (Adila/j)