Kebanjiran Kaum Kolot: Islam Sontoloyo Soekarno

0
132
Sumber foto: NU Online

Oleh: Nisrina Khairunnisa

Seperti novel Tere Liye yang berjudul Negeri di Ujung Tanduk sangat cocok dalam menggambarkan keadaan di Indonesia saat ini. Menjelang akhir tahun 2018, Indonesia telah dilanda banyak bencana. Dengan banyaknya bencana yang menimpa, semakin banyak kaum-kaum kolot yang mengatasnamakan agama sebagai hukum sebab-akibat sebagaimana yang telah lama kita ketahui. Sebut saja azab. Seiring berkembangnya zaman, IPTEK semakin canggih, mulai digunakan dalam hal yang bermanfaat, maupun hanya untuk bersenang-senang. Di sinilah media sosial (medsos) ramai dengan berita-berita baru yang dibumbui nuansa hoax, hujatan, bahkan penganut paham Islam kolot juga menampilkan dalil-dalil Al-Quran sebagai dasar dalam menulis caption. Ya, tujuan media yang paling utama adalah memberikan sebuah informasi menarik kepada pembaca, sehingga pembaca tertarik untuk membacanya.

Hati miris, melihat fenomena-fenomena lain selain bencana alam. Bencana saja dikait-kaitkan dengan tangan-tangan jail manusia, atau perbuatan maksiat manusia, yang menyebabkan bencana di Indonesia sering terjadi. Apakah tidak ada opini lain selain itu? Apakah hanya mengandalkan opini satu dua orang, tanpa melihat sumber-sumber yang relevan dan akurat? Baru masalah bencana sudah berkoar-koar bagaikan api yang melahap gedung-gedung raksasa. Lagi-lagi kasus yang sedang trending topic tentang pembakaran bendera. Antara yang membuat masalah dengan orang yang diberi masalah sama-sama kolotnya. Bagaimana mau mengatasi masalah kolot seperti itu? Saking kolotnya mereka beradu dalam perdebatan dan peperangan, hingga timbullah perpecahan, serta permusuhan. Para dalangnya sedang tertawa asyik di belakang panggung.

Fenomena di atas menggambarkan, betapa besarnya kesalahan manusia dalam menafsirkan pesan Tuhan. Banyak orang di luar sana yang beranggapan, bahwa bencana tersebut terjadi karena rakyatnya sering berbuat maksiat, percaya takhayul, dan lain sebagainya. Akhirnya terjadilah gempa bumi, tsunami, banjir, dan bencana-bencana lainnya. Apakah itu Islam yang sebenarnya? Sesempit itukah pikiran orang-orang Islam di Indonesia, sehingga cepat menyimpulkan tanpa mempunyai data-data yang akurat?

Bukannya menyalahkan peran agama Islam yang menjadi pilar utama dalam negara ini. Indonesia punya ideologi Pancasila, namun maraknya kasus di negeri ini sering mengusung ideologi islamisme sebagai jalan keluar permasalahan bangsa Indonesia. Lalu pancasila mau dikemanakan? Justru ideologi merekalah yang dengan mudah terbelah dan hilang ditelan bumi.

Islam Sontoloyo menurut Soekarno

Masalah keagamaan yang fenomenal ini bukan yang pertama dalam sejarah. Bahkan sebelum negeri ini merdeka. Islam Sontoloyo yang dikemukakan oleh Soekarno sejatinya terus mengalir hingga saat ini. Pandangan Soekarno terhadap Islam kian menguat tatkala dibuang ke Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur pada tanggal 14 Februari 1934. Selama di Ende, Soekarno sering menemui ketaklidan, yang Soekarno bilang Islam Sontoloyo. Mereka yang kolot pemikirannya sangat irasional dan tak berkembang sama sekali. Termasuk dalam memahami ayat-ayat Al-Quran. Mereka tidak dapat menafsirkan pemahaman ayat yang disesuaikan dengan berkembangnya zaman.

Di sana, para tokoh agama mengawini muridnya, lantaran tidak ingin jatuh ke dalam lubang maksiat. Karena, ketika mengajarkan sebuah ilmu, harus ada kontak mata antara guru dengan muridnya. Sedangkan dalam agama Islam dijelaskan, bahwa haram hukumnya jika melihat antara laki-laki dengan perempuan yang bukan mahramnya. Jalan keluar yang dilalui ialah dengan cara menikahi muridnya agar terhindar dari perbuatan zina. Islam Sontoloyo sangat kental.

“Islam harus berani mengejar zaman, bukan seratus tahun, tetapi seribu tahun Islam ketinggalan jaman. Kalau Islam tidak cukup kemampuan buat mengejar seribu tahun itu, niscaya ia akan tetap hina dan mesum. Bukan kembali pada Islam glory yang dulu, bukan kembali pada zaman khalifah, tetapi lari ke muka, lari mengejar zaman,” kata Soekarno.

“Apa sebab umumnya kaum terpelajar Indonesia tak senang Islam? Sebagian besar, ialah oleh karena Islam tak mau membarengi zaman, karena salahnya orang-orang yang mempropagandakan Islam: mereka kolot, mereka ortodoks, mereka anti-pengetahuan dan memang tidak berpengetahuan, takhayul, jumud, menyuruh orang bertaklid saja, menyuruh orang percaya saja, mesum mbahnya mesum!,” imbuh Soekarno.

Hakikatnya Islam Sontoloyo yang dikemukakan Soekarno nyatanya telah mengakar kuat dan selalu hidup dalam setiap zaman. Fenomena seperti itu selalu saja berulang dengan bentuk permasalahan dan tokoh yang berbeda-beda, namun maknanya tetap Islam Sontoloyo. Cara berpikir yang tidak berkembang itu menjadikan cita-cita bangsa ini tak sejalan dengan ideologi pancasila, yaitu terciptanya kesatuan dan kerukunan antar umat beragama.