Kalis Mardiasih : Ciptakan Konten Islam Rahmatan Lil Alamin yang Sederhana

0
81
Pegiat Jaringan Gus Dur, Kalis Mardiasih memamparkan materi "Pemblajar Islam dan Islam Pembelajar " di acara Pelatihan Literasi Media Online dan Manajemen ROHIS se-Kota Semarang, Sabtu, (28/07) sore. (doc. Wahid Foundation)

Menciptakan konten Islam Rahmatan Lil Alami harus di mulai dari sendiri. Bentuknya pun sederhana, tidak selalu berupa khutbah dengan dalil-dalil yang rumit.

” melakukan refleksi berupa tulisan di FB . Misalnya, saya menuliskan belajar Islam di masa kecil begitu menyenangkan hingga merayakan lebaran masa itu sangat bahagia. Tulisan mengenai masa kecil beragama secara sederhana justru diminati oleh beberapa teman dan mendapatkan apresiasi beberapa kawan,” papar Pegiat Jaringan Gus Dur, Kalis Mardiasih dalam acara Pelatihan Literasi Media Online dan Manajemen ROHIS se-Kota Semarang, Sabtu, (28/07) sore.

Dakwah melalui media sosial berdasarkan cerita sehari-hari tentang kehidupan Islam, berdasarkan amatan dan pendengaran.

“Coretan-coretan saya based on reality. Di sana terjadi interaksi antara manusia. Apa yang kamu dengar, lihat, dan rasakan. Meskipun dalam menulis main di teori dan data itu penting, tetapi pengalaman otentik tidak dimiliki semua orang,” tutur perempuan asal Blora.

Kalis, sapaan akrabnya menjelaskan orisinalitas berbeda karena mata satu dengan yang lain berbeda dan kejernihan yang lain berbeda apa yang dirasakan akan berbeda. Aura yang dihasilkan oleh tulisan itu juga akan berbeda.

“Konten-konten Islam yang unik, kita perlu merasakan sesuatu lebih membaca, mendengar, melihat, dan merasakan lebih dari biasanya,” jelasnya.

Kontra narasi yang dilakukan oleh sekelompok Muslim akan memiliki dampak terhadap anggapan Islam di dunia maya. Salah satunya, Jihad yang narasi negatifnya lebih banyak daripada positifnya.

“Jihad di laman google menggambarkan bahwa mujahid orang menggunakan pistol, pedang, bendera. Semuanya tampak seram. Itu keywords Jihad google. Jadi ini adalah keprihatinan kita, kalau mendengar kata Jihad preferensinya sama seperti di google, Mujahid konotasi menjadi seram,” papar alumni UNS.

Berbanding terbalik dengan paparan Quraish Shihab, bahwa akar kata Jihad dari huruf J-H-D artinya daya juang. Prefensinya adalah untuk belajar keras berjuang untuk kebaikan dengan ilmu dan tenaga.

“Jihad digunakan untuk kebaikan bukan untuk keburukan,” tambah Kolumnis detik.com

Ia mengajak kepada anak-anak Rohis untuk memproduksi campaign tentang Islam yang ramah dan sederhana. Bahwa Islami tidak harus identik khutbah ke mana-mana.

“Islam identik dengan khutbah, nasehat dan ceramah. Kita kadang-kadang lupa justru di luar itu dan sifatnya sederhana dapat bikin impact gede serta bisa memberikan efek Islam,” kata perempuan Alumni SMAN 1 Blora.

Lalu ia putarkan video kampanye yang dilakukan oleh beberapa anak di KRL Jakarta. Ia melakukan eksperimen sosial dengan menuliskan stasiun terakhir yang akan di tuju pada secarik kertas. Ketika ada orang sampingnya yang peduli dengannya, dia akan membangunkannya. Uji coba yang dilakukan sebanyak 4 kali, hanya 1 kali orang disampingnya tidak membangunkannya.

“Video pendek berdurasi dua menit itu justru memberikan pesan, bahwa mereka yang ada disekitar kita justru adalah pahlawan bagi diri kita. Tanpa memandang identitas kita itu siapa,” pungkasnya yang disambut tepuk tangan peserta. (rais)