Islam, Pancasila, dan Ilmu Garam

0
211
sumber ilustrasi : ma’hadaly.com

Hubungan antara Islam dan Negara di Indonesia, tampaknya belum sepenuhnya tuntas. Hingga kini Indonesia memasuki usia 71 tahun, sejak kemerdekaanya. Terdapat kelompok-kelompok Islam yang menyimpan cita-cita untuk memiliki dasar Negara Islam dengan tuntutan mengembalikan tujuh sila pertama Pancasila, yang tertulis “Ketuhanan dengan Kewajiban Menjalankan Syariah Islam Bagi Pemeluknya”.

Ironisnya, yang menjadi sasaran kekerasan kelompok ini atas kekecewaannya dengan penghapusan tujuh kata terdahulu adalah kepada mereka warga non-muslim di Indonesia. Tuduhan yang tidak berdasar itu, mereka–warga non-muslim–tidak mengetahui detail masalah yang sebenarnya tentang penghapusan tujuh sila pertama tersebut. Melihat banyaknya tindak kekerasan yang dilakukan kelompok-kelompok Muslim Indonesia saat ini, dimanakah letak citra Islam yang rahmatal lil alamin (rahmat bagi seluruh alam) ?

Negara Indonesia dengan mayoritas penduduknya Islam seakan tidak memandang lagi jargon Islam sebagai rahmat seluruh alam. Nilai-nilai Islam yang terkandung dalam Al-quran dan hadis sebagai landasan berpijak masyarakat muslim ditafsirkan secara regresif.

Munculnya problem-problem kemanusiaan yang dihadapi negara era dewasa ini di tandai dengan pelbagai bentuk perubahan yang sangat cepat. Nilai-nilai yang menyimpang dari nilai pancasila mudah sekali di terima oleh masyarakat. Setiap kali perubahan nilai-nilai yang keluar dari konteks nilai Pancasila, pasti meniscayakan perubaahan tersebut pada pandangan lama diganti pada nilai-nilai pandangan baru.

Kondisi saat inilah tokoh-tokoh pembesar Islam mengarahkan kepada warga sekitarnya untuk dapat memilih dan memilah nilai-nilai yang masuk dalam konteks nilai Pancasila. Bukan malah memperkeruh suasana dengan memprovokasi orang awan di pelosok-plosok desa untuk turun aksi yang disebtunya sebagai bela agama yang berbuntut pada kekerasan, perusakan, dan mengganggu ketertiban lalu-lintas

Berkaca Pada Sejarah.

Padahal, jikalau kita melihat dalam kacamata sejarah Nabi, Islam tidak mengajarkan kekerasan baik fisik maupun non-fisik. Salah satu poin dalam Piagam Madinah menerangkan, diantara masyarakat ada perbedaan pendapat. Perbedaan itu merupakan sebuah keniscayaan, karena perbedaan itu tidak boleh di ganti dengan pertikaian. Bagaimana muslim yang mayoritas berhubungan dengan non-muslim dan lainnya.

Dalam hal keyakinan, masing-masing pihak harus saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Warga non-muslim juga berhak mendapatkan hak-hak yang sama sebagaimana umat Muslim tanpa ada diskriminasi. Umat Islam dan non-muslim bersepakat untuk membela Kota Madinah, bersatu bersama-sama dalam melawan serangan dari luar ketika Madinah di serang.

Demikianlah sejarah meggambarkan demi dasar negara, mestinya semangat membela negara tercinta ( Indonesia ) harusnya bisa seutuh-utuhnya dan setingi-tingginya. Ingat mereka kelompok-kelompok yang ingin mengganti pancasila dengan dasar lain, sebenarnya tidak memahai secara mendalam tentang nilai-nilai Pancasila, mereka hanya memandang Pancasila sebagai simbol belaka dan belum mampu menilai Pancasila termanifestasi dalam seluruh aspek kehidupan masyarakyat.

Kelompok-kelompok yang sudah tidak mengenal lagi saudara, menyalahkan sana sini, berbuat intoleran terhadap kelompok non-muslim. Padahal kalau kita sadari, kita semua muslim maupun non-muslim adalah saudara. Kita terlahir dari rahim yang sama. Maka seharusnya ketika ada perbedaan tak usah menyalahkan siapa yang salah, tak usah mencari siapa yang salah

. Kita evaluasi pada diri kita masing masing. Kita berangkat dari rahim yang sama, mari kita wujudkan Islam yang kaffah sesuai konteksnya. Untuk mewujudkan Islam yang kaffah tidak harus berwujud simbol Negara Islam, tetapi bagaimana negara bisa mengaplikasikan nilai-nilai Islam itu secara menyeluruh dalam aspek kehidupan.

Dalam pepatah, gunakanlah “ilmu garam” bukan “ilmu gincu”. Biarpun garam kalau di leburkan kedalam masakan tidak kelihatan, namun rasanya terasa. Tapi kalau gincu, kelihatan tapi tuna rasa. Bangsa kecil Indonesia cuma menginginkan kehidupan yang lebih baik, jadi para pemimpin harusnya menjadi teladan yang lebih baik. Suatu bangsa akan hidup tentram jika pemimpinya sudah menjadi teladan yang baik bagi mereka. (Nandar/Lesen)