Islam Damai di Bumi Nusantara

0
185
sumber foto: rilis.id

 

Oleh : Ruzda

Islam merupakan agama yang rahmatan lil alamin, itu artinya agama islam bukan hanya untuk orang islam tetapi untuk seluruh alam. Agama islam mengajarkan rasa kasih sayang terhadap sesama dan terhadap semua hal yang ada. Oleh karena itu islam mengaturnya menjadi 3 bagian, yang pertama mengatur hubungan orang islam dengan tuhannya, atau yang sering kita dengar dengan istilah hablum minallah. Kedua mengatur hubungan manusia dengan manusia atau yang sering kita dengar dengan istilah hablum minannas. Ketiga Islam mengatur hubungan manusia dengan alam dan yang sering kita dengar dengan istilah hablum minal alam. Itulah islam yang kaffah. Tak ada satu pun hal dalam islam yang tak ada aturannya. Semuanya sudah diatur indah oleh-NYA dan itulah islam. Islam itu indah islam itu damai.

Salah satu jalur penyebaran Islam di Indonesia adalah melalui perangkat budaya. Ajaran Islam yang ditanamkan melalui perangkat budaya ini, mau tak mau menyisihkan warisan budaya lama dan kepecayaan yang ada, yang tumbuh subur di masyarakat kala itu. Para ulama penyebar islam di Indonesia dulu tidak berani semena-mena mengubah budaya yang sudah berjalan di Indonesia, karena mereka menilai peradaban di Indonesia sebelum islam masuk sudah tinggi karena nusantara saat itu mewarisi kekayaan peradaban kerajaan-kerajaan seperti Kerajaan Majapahit, dan Sriwijaya

Jadi maklumlah kalau kita melihat fakta yang ada hari ini bahwa Islam yang ada di Indonesia tidak bisa disamakan dengan islam yang ada di timur tengah dalam artian adat budaya kita sangat kontras atau berbeda dengan apa yang ada di Timur Tengah , para ulama penyebar Islam sangat paham tentunya tentang islam dan sangat tidak rohmatan lil alamin jika dulu dalam penyebarannya harus menghapus adat budaya yang sudah ada, malahan yang akan terjadi memicu perlawanan pribumi karna adat budaya mereka terusik karna tak nyaman dan berlawanan dengan dakwah yang di emban para ulama.

Benar apa yang telah di kata guru bangsa kita Gus Dur rohimahumullah bahwa Islam itu datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita jadi budaya arab bukan untuk aku menjadi ana, sampean jadi anntum sedulur jadi akhi kita pertahankan milik kita. Kita harus menyerap ajarannya bukan budaya Arabnya, maka dari itu dulu mereka mengislamkan para pribumi dengan cara halus tidak sampai menghapus/menghilangkan budaya yang sudah berjalan di Indonesia.

Butuh waktu dan juga kesabaran memang dalam akulturasi nilai-nilai Islam dengan budaya setempat dan faktanya yang kita lihat saat ini islam yang di praktekkan di Indonesia pada dasarnya memang telah memenuhi kriteria rohmatan lil alamin dimana juga dalam penyebarannya dulu oleh para ulama tanpa adanya pertikaian ataupun perlawanan melainkan dengan penuh kedamaian dan sangat toleransi. Keberagaman budaya yang sudah ada sejak nenek moyang kita tanpa menghilangkan budaya yang telah ada tapi di selipkanlah nilai-nilai ajaran Islam dalam adat-adat nenek moyang terdahulu.

Salah satu contoh budaya wayang. Wayang adalah bagian dari ritual agama politeisme, namun kemudian di ubah dan di akulturasikan dengan nilai-nilai ajaran Islam menjadi sarana dakwah dan pengenalan ajaran monoteisme. Dan ini adalah salah satu kreativitas peran Wali Songo yang sangat luar biasa sehingga masyarakat di islamkan melalui jalur ini dengan aman penuh perdamaian tanpa mengancam tradisi budaya yang sudah berjalan sejak dulu.

Jalur perangkat budaya inilah yang harus di tumbuhkembangkan dalam proses islamisasi dewasa ini. Seperti apa yang di paparkan oleh Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin, bisa di katakan bahwa proses pengislaman budaya nusantara oleh para ulama terdahulu di barengi dengan proses penusantaraan nilai-nilai Islam, sehingga keduanya melebur menjadi entitas baru yang kemudian kita kenal sebagai Islam nusantara.

Hal ini memperlihatkan bahwa Islam sebagai agama rahmatan lil alamin mampu beradaptasi dan berdialog dengan budaya lokal, kebiasaan, dan cara berpikir penduduk setempat yang saat itu masih di pengaruhi oleh kebudayaan Hindu dan Budha.

Lebih jauh, Lukman Hakim Saifuddin memaparkan, pada titik singgung inilah perangkat budaya menemukan bentuknya sebagai investasi besar bagi tumbuh dan berkembangnya Islam di Indonesia. Sebuah investasi yang mau-tak mau, harus di rayakan, di pelihara, dan di semai agar kehadiran Islam di tengah perangkat-perangkat budaya lokal, selalu teduh meneduhkan.

Ada sebuah wacana menarik tentang gagasan Islam nusantara yang akhir-akhir ini di kumandangkan di Indonesia, banyak yang tidak setuju dengan penamaan istilah ini, lebih parahnya lagi sampai menimbulkan saling hujat pemikiran dan pendapat antar ormas muslim di indonesia padahal jelas bahwa Islam nusantara hanyalah sebuah terminologi yang sesuai corak keberagaman kebanyakan pemeluk Islam di Indonesia dalam menghayati ajaran-ajaran Islam, intisari dari istilah ini hanyalah semata tentang penyerapan ajaran islam yang di akulturasikan dengan historis dan kultur yang telah ada ratusan tahun lalu. Tidak benar Islam nusantara sebagai sebuah aliran baru dalam Islam, atau sebuah kecenderungan untuk membuat definisi agama menjadi terkotak-kotak.

Di mata dunia internasional, hanya di Indonesia saja ajaran Islam dapat berkembang tanpa harus menggunakan pedang, Artinya ajaran Islam di sebarkan melalui proses akulturasi atau menyesusaikan dengan kondisi budaya yang ada. Hal ini tidak di maksudkan bahwa Islam lebih rendah dari budaya, tapi semata-mata hanya supaya Islam di terima masyarakat tanpa adanya peperangan ataupun perlawanan.

Demokrasi dan Islam Nusantara

Menurut pengamatan cendekiawan Abdurrahman Wahid, dalam buku Membangun Demokrasi (1999), ketika Islam datang ke tanah Jawa , Isam dengan cepat beradaptasi denga apa yang ada. Akulturasi antara Islam dan budaya setempat berlangsung secara damai. Proses akulturasi dan adaptasi antara budaya yang satu dan yang lain-atau dalam antropologi kultural disebut konsep integrasi kultural-ini tidak dapat dihindari karena pluralitas agama, budaya, dan adat-istiadat yang ada tidak-bisa-tidak saling bergesekan.

Abdurrahman Wahid melihat dalam proses akulturasi timba-balik antara Islam dan budaya lokal ini berdasarkan suatu kaidah atau ketentuan dasar dalam ilmu ushul fikih. Kaidah itu berbunyi: al-adah muhakkamahyang berarti adat itu di hukumkan, atau lebih lengkapnya, adat adalah syariat yang di hukumkan (al-adah syariaah muhakkamah). Artinya, adat dan kebiasaan suatu masyarakat adalah sumber hukum dalam Islam.

Islam nusantara harus di wacanakan terus-menerus supaya pada gilirannya menjadi karakter yang kuat bagi cara berkeislaman masyarakat indonesia secara luas, sebagai simbol bahwa islam itu agama yang ramah, cinta damai dan saling menghargai perbedaan, sebab kita tidak akan bisa benar-benar menjalankan syariat agama jika lingkungan masyarakat berkecamuk konflik.