Indahnya Kerukunan Dalam Kemajemukan Desa Candi Garon

0
473
Bangunan yang dikeramatkan oleh warga Dusun Candi, Desa Candi Garon. Foto: Syaifur

Justisia.com – Jalan yang naik turun khas daerah dataran tinggi, dan panorama alamnya yang indah adalah anugerah Tuhan yang diberikan kepada Desa Candi Garon, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang.

Saat berjalan-jalan di desa tersebut, dengan ditemani rintik hujan yang lumayan syahdu, dan membuat suasana siang hari pun terasa pagi hari, tim redaksi Justisia.com menjumpai beberapa bangunan tempat peribadatan berbagai agama, Sabtu, (4/11/2017).

Jaraknya pun tidak terlalu jauh, kurang lebih sekitar 500 meter. Pemandangan tersebut akan terkesan aneh bagi orang yang terbiasa hidup dalam desa homogen.

Replika atau miniatur kebinekaan Indonesia, julukan tersebut sepetinya pantas bagi desa dengan beragam keyakinan penduduknya. Setidaknya terdapat empat agama dalam desa ini, yakni Islam, Kristen, Katolik, Budha dan dua kepercayaan, yakni Sapta Darma dan Ngestika Sampornan.

Ketika Indonesia sedang santer dengan isu toleransinya yang terlihat mulai memudar, masyarakat Desa Candi Garon sudah final dengan persoalan perbedaan keyakinannya.

Istilah toleransi bukan lagi menjadi sebuah teori untuk menjaga kerukunan, akan tetapi bagi warga Desa Candi Garon sudah menjadi darah daging yang melekat di hati setiap penduduknya. Hal tersebut terlihat dari guyup dan rukun antar warga desa meskipun berbeda kepercayaan ataupun agama.

“Warga sini terbiasa saling guyup dalam setiap kegiatan, pada saat hari raya idul fitri pun warga non muslim ikut takbir keliling dan silaturrahmi ketetangga-tetangga layaknya kebiasaan orang muslim usai salat ied, tapi ya salatnya tetap tidak ikut,” tutur Tri Utami

Toleransi memang selalu melahirkan indahnya kerukunan. Salah satu buktinya adalah ibu satu anak tersebut yang beragama Islam, ia pernah melakukan sedekah kepada tempat-tempat ibadah, tidak hanya masjid, akan tetapi termasuk juga Vihara dan Sanggar pada waktu pra acara pernikahan anaknya.

Alasannya sangat sederhana, ia hanya mengamalkan ajaran agamanya yang menyuruhnya untuk berbagi dengan sesama manusia, yang ia ketahui dari seorang kyai.

“Kalau kita mati kan meninggalkan amal budi, dan amal budi itukan dibawa mati, untuk soal kebutuhan hidup seorang manusia pasti akan terus merasa kurang, oleh karena itu setidaknya kita hidup itu sedikitnya meninggalkan amal budi walaupun sepucuk kuku,” tutur perempuan beranak satu tersebut.

Dewasa Dalam Keberbedaan

Masyarakat desa Candi Garon adalah masyarakat yang dewasa dalam menerima berbedaan, pluralistik merupakan keadaan yang lumrah dibenak mereka, yang terpenting adalah kejelasan sebuah kepercayaan atau agama. Bukan pengakuannya Islam tapi ibadahnnya di sanggar atau gereja, itu yang akan menjadi permasalahan di sini.

Pihak pemerintah desa pun akan selalu wellcome terhadap keberbedaan agama maupun kepercayaan, yang terpenting adalah kejelasan dari pemeluknya sehingga tidak membuat bingung penduduk dalam pergaulan bermasyarakat.

“Waktu saya ikut pertemuan Forum Kerukunan Umat Beragama, kebetulan saya sebagai perangkat desa, saya usul kita jelas saja kalau memang Ngestika Sampornan lepas dari Islam dan yang lepas dari Budha, seandaianya meninggal ya dengan tata cara aliranya dia jangan nggandul agama lain begitu,” ucap Kadus Candi.

Keadilan dan ketidakberpihakan aparat desa pada salah satu agama adalah cara membangun sebuah kerukunan antar umat beragama, agar tidak melahirkan kecemburuan di antara penganut agama maupun kepercayaan.

“Untuk membina kerukunan dan ketidakcemburuan penduduk, saya pernah memberikan kebijakan pada saat warga Kristen hendak membangun Gereja lagi, padahal sudah ada dua gereja sebelumnya. Kita kan tahu ada peraturan Undang-undang tentang ijin mendirikan bangunan tempat ibadah, kebetulan saya muslim, ketika saya langsung melarang, kan tetap yang terkena efek saya. Oleh karena itu ya sudah monggo, akan tetapi jangan bicara kalau itu untuk tempat ibadah akan tetapi sebagai giliran saja,” pungkas kepala dusun Candi, Eko Sugianto. (Red.Ruri/Ed.Syaifur)