Hari Prasetyo, Umur Bukanlah Halangan

0
471
(Hari Prasetyo saat diwawancarai wartawan Justisia di
(Hari Prasetyo saat diwawancarai wartawan Justisia di halaman gedung O Fakultas Ushuluddin dan Humaniora Kampus 2 UIN Walisongo Semarang, (23/08/17) (Doc: Rifqi)

Untuk mempelajari ilmu memang tidak memandang umur, mungkin istilah seperti ini cocok untuk disematkan pada salah satu mahasiswa baru UIN Walisongo. Hari Prasetyo, adalah mahasiswa paling tua yang saat ini terdaftar pada perguruan tinggu negeri berbasis keagamaan di Semarang ini. Dia saat ini sudah berumur 47 tahun dan sudah dikaruniai dua orang anak. Selain sedang menempuh jenjang S1 perbandingan agama di UIN , dia juga sedang proses menyelesaikan studi S2 di Undip dengan konsen ilmu teknik sipil.

Disamping tercatat aktif sebagai mahasiswa, pria yang akrab dipanggil Pak Hari ini juga seorang konsultan profesional freelance dalam bidang kontruksi. Saat ditanya oleh wartawan Justisia (23/08) di halaman gedung O Fakultas Ushuludin dan Humaniora, dia menuturkan alasan mendasar masih bersemangat untuk kuliah adalah karena memang dia sangat haus akan ilmu. Mempelajari tentang agama sudah menjadi kegemarannya. Sejak duduk dibangku SLTA, dia aktif dalam kegiatan Rohis. Begitu pula berlanjut saat sudah menempuh pendidikan pada taraf perguruan tinggi. Bahkan sering kali saat mata kuliah agama Islam dia menjadi pemateri dalam kelompoknya.

Pria kelahiran Trenggalek ini memiliki riwayat pendidiakn dan riwayat pekerjaan yang cukup menarik. Tahun 1988 adalah awal dia memulai jenjang di perguruan tinggi yaitu di Universitas Diponegoro Semarang pada Fakuktas Ilmu Sosial dan Politik. Hanya selang waktu dua tahun dia memutuskan untuk keluar dan memutuskan mendaftar kembali pada PTN yang sama namun pada fakultas yang berbeda. Dari hasil pengumuman dia dinyatakan diterima kembali di Fakuktas Teknik dengan konsen Ilmu Teknik Sipil. Lulus jenjang sarjana dia memutuskan untuk bekerja pada bidang yang sesuai dengan akademiknya. Pernah juga dia menjadi dosen pada salah satu perguruan tinggi swasta di Semarang, namun hanya beberapa tahun saja karena upah yang diterimanya dari mengajar sangat sedikit. Setelah cukup kenyang dengan pengalaman bekerja dia memutuskan untuk melanjutkan studinya pada PTN yang sama dengan konsen ilmu yang sama juga, dan sekarang sedang proses kelulusan. Karena alasan pekerjaannya yang tidak terlalu terikat waktu, untuk mengisi kekosongannya akhirnya dia memilih untuk mendaftar menjadi mahasiswa di UIN dengan konsen ilmu yang mungkin bagi banyak orang kurang terlalu diminati.

Pria yang bertempat tinggal di Sampangan Semarang ini, berhasil menjadi mahasiswa S1 UIN melalui jalur ujian mandiri. Karena memang jalur itu satu-satunya yang memungkinkan dia masih bisa mendaftar. Jadi bisa kita sebut memang dia adalah seorang yang sangat cinta ilmu, terlebih tentang teknik sipil dan keagamaan. Saat menutup pembicaraan dengan wartawan justisia dia berpesan agar para mahasiswa baru tetap semangat dalam menimba ilmu, karena ilmu tidak akan ada habisnya bila kita cari. Serta dengan ilmu-lah, derajat kita akan ditinggikan oleh Allah SWT. (Rifqi/j)