Harapan Itu Bernama Sepak Bola

0
96
sumber foto: https://yt3.ggpht.com/

Judul : Cahaya Dari Bintang Timur: Beta Maluku

Sutradara : Angga Dwimas Sasongko

Produser : Angga Dwimas Sasongko, Glen Fredly

Pemeran : Chicco Jerikho, Shafira Umm, Abdurrahman Arif, Jajang c Noor, Glen Fredly

Distributor : Visinema Pictures

Durasi : 2 Jam 30 menit

Tanggal rilis : 19 Juni 2014

Negara : Indonesia

Bahasa: Indonesia, Maluku

Resenator : Mohamad Yakub

Film yang diambil dari kisah nyata ini bercerita tentang kehidupan seorang pemain sepak bola yang gagal membayar kepercayaan pelatih. Sani Tawainila adalah pemeran utama dari film ini. film ini diawali dengan kegagalan timnas Indonesia memenagkan pertandingan melawan Korea Selatan dalam piala pelajar Asia tahun 1995 di Brunei Darrusalam. Sani yang bekerja sebagai tukang ojek selalu menemui konflik-konflik di Maluku yang banyak memakan korban jiwa. Kerusuhan-kerusuhan itu makin menjadi-jadi, ketika juga terjadi di tempat Sani tinggal yaitu Tulehu.

Sani selalu melihat anak-anak ikut kerusuhan itu, sampai pada akhirnya, ketika ia sedang berada di kota Ambon untuk membeli pesanan orang melihat anak-anak mati di depan matanya akibat kerusuhan yang terjadi. Di saat itu Sani mulai berpikir untuk menyelamatkan anak-anak dari kerusuhan itu. Ketika Sani akan mengantarkan ibu-ibu naik ojeknya bunyi tiang listrik tanda ada kerusuhan di barengi dengan anak-anak yang minta bermain bola denganya, dari situlah ia mulai melatih anak-anak bermain sepak bola. Anak-anak itu bernama Alvin Tuasalamony, Salim Ohorella, Sadik Samaki, Hendra Adi Bayau, Riskandi Lestaluhu, Kasim Tuasalamony, Harisa harisam Lestaluhu, dan Syaiful Ohorella. Sebagian dari mereka masih aktif bermain di Liga 1 Indonesia.

Lambat laun kekisruhan di Maluku, tapi tidak dengan anak-anak yang dilatih oleh Sani. Mereka dilatih sangat serius, sampai teman kecil Sani, Rafi pun ikut memberikan menu latihan untuk anak-anak.

Ketika Istri Menolak

Semakin seriusnya melatih anak-anak bermain sepak bola Sani lupa dengan kewajibannya menafkahi keluarganya. Istrinya Haspa sangat kesal dan marah. Sejak kekisruhan mulai membaik, bukan pendapatan sang suami membaik, tapi malah memburuk. Haspa pun ingin Sani mencari pekerjaan baru dan meninggalkan melatih anak-anak bermain sepak bola. Menurut Haspa tugas suaminya untuk sudah selesai untuk melindungi anak-anak dari konflik saudara yang terjadi, karena konflik itu telah selesai.

Ketika Istrinya menolaknya untuk melatih lagi anak-anak bermain sepak bola, Sani malah semakin kekeh untuk terus melatih. Alasanya jelas untuk memperbaiki penialain orang terhadapnya yang telah membuat kesalahan di piala pelajar Asia di Brunei Darrusalam pada waktu itu. Selain itu juga ingin memberikan sesuatu untuk keluarganya yang selama ini belum bisa maksimal membahagiakannya.

Konflik dua sahabat lama

Sani yang tidak mau menuruti nasihat istrinya untuk fokus untuk keluargannya pun mulai menghadapi masalah. Masalah pertama tentang waktu jam melatih anak-anak. Sedari awal Sani telah komitmen untuk melatih anak-anak bermain sepak bola setiap jam lima sore. Kenyataannya itu telah di langgar oleh Sani sendiri, karena untuk menambahi pundi-pundi uang yang ia dapat untuk keluarganya. Kedua masalahnya adalah Rafi sahabat dari Sani marah besar atas sikapnya ini, yang menurutnya bahwa ia melakukan kesalahan yang sama seperti masa lalu.

Kejadian itu terus berulang hingga Rafi ada niat untuk membuat SSB (Sekolah Sepak Bola) untuk anaka-anak, karena di rasa sudah lama dan butuh kompetisi untuk anak-anak. Sani yang kesusahan dengan masalah finansial pun, ingin sahabatnya itu mengerti. Rafi sudah tidak sabar, karena akan ada Jhon Malio Cup. Ia pun membuat nama Tulehu Putra tanpa sepengetahuan Sani. Akibatnya Sani Marah, dan Persahabatan mereka pun bubar demi tim Tulehu.

Kedua sahabat yang telah lama bersama, pecah karena kepentingan yang sama namun caranya berbeda. Sani yang melatih anak-anak sebelum Rafi merasa di khianati sahabanya itu. Sementara Rafi merasa Sani tidak pernah berubah sejak dulu, dengan tidak bisa memilih antara keluarga dan sepak bola, sehingga ia pantas mendapatkan itu.

Pahlawan rekonsiliasi perdamaian

Akibat kejadian itu Sani cukup terpukul dan kecewa dengan sahabatnya Rafi. Ketika Sani tidak melatih lagi Tulehu Putra ada ajakan untuk melatih SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) Negeri Passo. Suatu kecamatan yang mayoritas beragama kristiani, berbanding terbalik di Tulehu yang beragama Islam. Di dalam timnya pun terdapat pemain dari Tulehu yang hanya ingin di latih oleh Sani. Mereka adalah Salim Ohorella, dan Alvin Tuasalamoni.

Tim terbentuk lengkap, SMK Passo mulai berlatih serius sampai Jhon Malio Cup tiba. Di final SMK Passo bermain melawan Tulehu Putra. Perwakilan Asprov (asosiasi provinsi) PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) Maluku melihat tim SMK Passo ini sebagai sebuah rekonsiliasi yang bagus. Lewat sepak bola perdamaian dan persatuan di Maluku bisa tercapai. Pertandingan final itu pun dimenangkan oleh Tulehu Putra dengan skor 1-0.

Setelah Jhon Malio Cup usai ada kompetisi nasional usia 15 tahun yang di selenggarakan oleh PSSI (Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia) di Jakarta. Sebagai pelatih yang bisa menggabungkan pemain dari kedua kota yang berbeda agama itu, Sani di pilih menjadi pelatih tim Maluku untuk kompetisi nasional tersebut. Sani cukup bersemangat sekali menyiapkan tim ini namun tak semulus perkiraanya. Permaslahan mulai berdatangan dari dana yang kurang untuk berangkat ke Jakarta, sampai konflik antar pemain karena pembunuhan orang tua pemain.

Persiapan semakin dekat sampai-sampai Sani menjual dua kambing istrinya yang dipersipkan untuk sekolah Sabilah, anak Sani, dan Haspa. Sementara Salim dan Fanky tak akur-akur sejak perkelahian di pemusatan latihan pertama. Hingga hari datang berangkat ke Jakarta dengan perasaan yang sedih, karena Haspa memilih pulang ke Ambon buntut dari Sani menjual kambing mereka

Menyatunya Hati Untuk Maluku

Pertandingan pertama di mulai dengan melawan DKI Jakarta. Permainan seimbang sampai pemain Maluku meyetak gol lewat Syaiful. Maluku unggul 1-0 atas DKI Jakarta. Selepas itu perminan mulai keras, DKI selalu memprovokasi tim Maluku, dan terjadi gol penyama kedudukan. Selepas gol itu tim Maluku bermain sangat tidak baik saling menyalahkan hingga terjadi gol kedua untuk DKI Jakarta, dan pertandingan pun selesai untuk kemenangan tim Ibukota Negara dengan skor 2-1. Pertandingan kedua, pada babak pertama pun sama tertinggal 1-0. Waktu jeda pertandingan babak pertama di manfaatkan Sani untuk menyadarkan semua pemainnya bahwa kita itu Maluku, bukan Tulehu, Passo, bukan pula Islam, dan Kristen.

Suara lantang dari Sani menyentuh di hati para pemain, sehingga permainan tim mulai membaik, bermain dengan hati Maluku, mereka menang dengan skor 2-1. Lepas pertandingan itu surat kabar banyak memberitakan bahwa Maluku telah bangkit pasca kerusuhan itu. Pertandingan demi pertandingan di lalui dengan kemenangan, berkat permainan yang baik dan tulus untuk Maluku.

Laga final pun datang, Maluku bertemu kembali dengan DKI Jakarta. Seperti biasa DKI Jakarta bermain dengan keras, provokasi lawan, dan di bantu oleh keputusan wasit yang berat sebelah pada babak pertama DKI unggul 1-0 atas Maluku. Babak kedua di mulai para pemain Maluku bermain lebih baik dengan tidak terpancing dan tak gampang protes, hingga bisa menyamakan kedudukan lewat Syaiful Ohorella. Hingga laga usai kedudukan masih sama, pertandingan pun di lanjutkan dengan adu pinalti. Pada pertandingan adu pinalti tim Maluku menang dengan skor 3-2.

Selepas pertandingan yang cukup menguras tenaga dan emosi Sani sangat senang. pada akhirnya ia berhasil memberikan ingatan manis selepas semua yang pahit. Hadiah buat masyarakat Maluku ini sangat sempurna saat yang bersamaan sang istri menghubunginya via telepon.

Perjuangan Sani untuk mengembalikan namanya dari keluarga, sahabat, dan Masyarakat berhasil melalui sepak bola. Sebuah olah raga yang ia sukai. Cita-cita gagal membawa timnas Indonesia terbang di pentas Asia, terbayar dengan membawa perdamaian untuk kota kelahirannya melalui sepak bola. Maluku bangkit, Maluku Indonesia.