“HAN” Bagian 2

0
249
Sunber Ilustrasi: kotatua.org
Sumber Ilustrasi: kotatua.org

Oleh: Alhilyatuzzakiyah Hay

Lanjutan – Pada wanita yang aku tak tahu siapa, aku bertanya. Kenapa kau berada di dalam buku yang ia bawa. Lalu tertulis kata-kata yang manis. Aku yang tak sengaja membacanya ketika ia sedang tak di depanku. Aku membendung airmata. Lalu membaca tanda-tanda. Ah, Tuhan tolong kuatkan aku. Pikiranku dan seluruh organ dalam tubuhku cepat sekali membaca.

Semenjak keberhasilanku membaca malam itu, aku mengalami pesakitan yang luar biasa. Beberapa hari aku mencoba menghapus keluh, tetapi tak bisa. Kau yang menanyakan perihal kesibukanku di kotamu, aku tak kuat menjelaskan. Semenjak malam itu aku belum pernah menuju kotanya kembali.

Sewaktu-waktu setelah kejadian itu, aku mendapati wanita itu kembali dalam lukisanmu. Tak kuat, aku bertanya dan menanyakan siapa wanita itu. Kau pun menjawab dengan sejujurnya. Semakin kau bercerita aku semakin sakit. Berhari-hari ku renungi tentang perasaanku. Perasaan yang sedari awal aku latih untuk tidak mengikat. Perasaan yang aku baik kepadamu, bukan karena aku mau mengatakan “iya aku juga mencintaimu,”. Aku selalu menomor duakan perasaanku, untuk pertemanan baik kita. Kau ingat kau yang berkata “aku mencintamu,” masih berkumandang hingga detik ini. Bukan karena aku pura-pura tak ingin bersanding denganmu, aku butuh waktu hingga bertahun-tahun aku ternyata mampu menjagamu.

Pantas saja jika jeritku kali ini bukan karena aku menahan untuk tidak membuka pintu untukmu, melainkan aku tahu ada wanita lain yang telah besua denganmu pada hari-hari yang tidak aku ketahui.

Jogjakarta, 05 Mei 2014.

Ada yang belum ku jelaskan tentang peristiwa semasa sekolah dulu. Karena kau bersikukuh menutup pintu, padahal aku mampu membaca kalimat suratmu ataupun matamu ketika usai kau bacakan asmaul husna di depan kantor, kita kadang berpapasan dan kau menunduk segera berjalan menuju kelasmu. Seluruh badan ini sakit semua, bahkan sampai tulang-tulangnya. Entah mungkin pikiranku saat itu sedang benar-benar kacau. Dan akhirnya fatal dalam kehidupanku, dari mulai makan, tidur, sosial semuanya tidak teratur. Kau tahu kan waktu itu aku sakit tifus sampai beberapa hari tak masuk sekolah, kau juga tak ikut hadir membesukku. Aku selalu mengadu kepada Tuhan, mengadu kenapa? Hingga saat itulah kehidupanku berubah pemikiran. Aku mulai mencari Tuhan dari segala arah dengan berbekal rasa sakit luar dan dalam itu. Waktu itu aku selalu menyalahkan Tuhan tentang rasa itu, kenapa balasannya sakit dan kecewa. Sejak waktu itu aku merasa menjadi sampah. Kau tahu kan, rasa itu masih tersimpan di sini. Sampai sekarang apa ada yang berubah dariku kepadamu? Perasaanku kepadamu masih sama. Tentang wanita itu, ia seseorang yang datang kepadaku tanpa aku minta. Kau masih di sini.

Han

Memori itu menyeruak, semilir angin tak ku rasai akibat rinduku terhadapmu makin tidak sabar disabar-sabari. Malam ini aku merindukanmu bersama secangkir adukan espresso, steamed milk, dan foam dengan dengan surat terakhirmu. Senikmat-nikmatnya cappuccino tentu lebih nikmat jika aku kau temani. Kenapa lagi-lagi perhatianku tertumpah padamu. Setiap malam, setiap aku sendirian, rinduku padamu selalu yang menemani. Dan kotamu itu menjadi satu-satunya kota yang paling menyakitiku. Biar, bagi orang lain kotamu itu kota ter-istimewa, jangankan istimewa. Lagu Jogja Istimewa bagiku lagu paling aku benci. Entah kenapa benci dan rindu jadi satu begini.

“Han,” Lirihku yang kemudian memiliki bunyi juga, setelah menabur beribu kata dalam hati..

Kau sudah pergi lama, lama sekali. Hingga angin mati tak membelaiku lagi. Siapa yang tahu akan rahasia Ilahi. Ini pun belum terakhiri. Masih ada pertanyaan menghantui. Jasadmu masih bersamanya sampai saat ini. Oh, kenapa begini. Aku pun masih duduk di sini sendiri. Bukankah lebih baik kau mati, daripada bergentanyangan dalam hati. Aku pasti mendoakanmu sampai dini hari. Atau aku saja yang mati. Anehnya aku ini. Ini mencintai atau membenci? Jaraknya tipis sekali.

Teruntuk kotamu, kau, dan juga wanitamu. Berbahagialah, ini mungkin takdirku. Bukan mungkin memang takdir. Perasaan yang sudah tertanam bertahun-tahun sudah melekat erat, sampai berkarat. Semoga kau bernasib dengan wanitamu. Karena kau takdirku, dan aku takdirmu. Uh, punting rokok lelaki di sebelahku menyebalkan. Membuat aku sedikit batuk akibat malamku yang suntuk. Oh, malahku dapati kau kembali. Bukankah punting rokokmu itu yang menghiasi satu-satunya pertemuan kita waktu itu. Sedih sekali, kalimatku tadi. Satu-satunya? Aha, lha setiap malam aku selalu bersamamu. Aku hafal semuanya tentangmu. Tentang gitarmu yang senarnya putus satu, tentang rambutmu yang panjangnya hampir sama dengan panjang rambutku, kemeja hitammu, celanamu, sepatumu, kacamatamu, buku bacaanmu, kipas anginmu yang bersuara, motormu yang membuat rok-ku hitam terkena oli, capingmu yang kau pakai saat ndalang, lalu apalagi. Tentu tak aka nada habisnya kalau mengingat semuanya. Makanya aku perlu banyak malam untuk menyebutnya satu per-satu. Seperti biasanya ini lah malam Mingguku. Berdua bersamamu, kok sampai petugas cafe itu selalu menanyaiku sendirian mbak? Padahal aku berdua denganmu.

“Selamat malam, ya,”.

“Setiap malam Minggu aku berjanji, akan menemuimu di sini,”

“Tunggu ya,” Kataku.

Lalu aku pergi meninggalkan secangkir cappuccino, dan basah bulu mataku. Bertahun, tahun. Selalu.

 

Kota Lama, Mei 2016.