Hak Bercadar di Bawah Lindungan Demokrasi

0
972
Sumber foto: tirto.id

Oleh: Jaedin el-Barbazy

Problematika budaya masih tetap dirasakan, perdebatan cadar merupakan bagian dari budaya pakaian yang tidak bisa lewatkan lagi di kancah dunia akademis. Seperti, katok cingkrang, jubah, hijab atau cadar. Sebuah pakaian bukan hanya sebagai budaya, tetapi juga sudah menjadi ideologi kepercayaan tertentu yang sering masuk dalam perdebatan agama. Pakaian menjadi simbol ekspresi agama yang memiliki hukum dan ajaran yang tertentu. Baik tata cara berpakian, yang berkaitan dengan etika dan estetika, serta agama juga mengajarkan moral, ibadah, dan muamalah.

Berpakian dizaman now menjadi fashion semakin dikedepankan, pertarungan budaya dan agama ditunjukan dengan cara orang mengekspresikan dalam bermasyarakatat. Sebuah pakaian terkadang bukan hanya semata-mata untuk menutupi aurat, tetapi juga untuk berpenampilan apik serta menjadikan sebuah identitas tersendiri bagi pemakainya. Jika mereka sering memakai sorban, maka mereka adalah kelompok A, jika mereka berpakaian sarungan maka mereka kelompok B, yang sudah barang tertentu ketika orang melihatnya mendapat legitimasi untuk para pemakainya.

Seperti halnya cadar, banyak pembahasan soal cadar yang terus muncul. Pro dan kontra masyarakat di Indonesia menggunakan cadar menjadi sangat dilematis sekali. Persoalan yang menjadikan pro dan kontra tersebut masih soal keyakinan. Ada yang beranggapan bahwa cadar adalah budaya pakaian Islam ada pula yang beranggapan bahwa cadar merupakan budaya pakaian non-muslim, yang sudah ada sejak dulu pada masa Arab Pra-Islam yang.

Cadar yang sudah ada di negara Syiria dan Palestian dan sudah umum dikalangan bangsa Romawi, Yunani, Yahudi (Israel). Perdebatan tentang cadar masalah tafsir dalam al-Quran. Salah satu ayat yang menganjurkan orang untuk menutup aurat adalah (QS. An-Nur, 24: 31-32). Ayat ini hanya secara eksplisit menyuruh bagian yang privat.

Tokoh intelektual Ashgor Ali Enginer, mengutip pendapatnya para Muslim Al-Razi, Athabari, dan Muhammad Ali, bahwa cadar merupakan salah satu dari budaya Arab saat itu, bahkan ada sebelum Islam datang. Awal mula hijab berasal dari bangsa Mesir dan Syiria, hijab dipakai untuk membedakan antara perempuan hamba sahaya dan budak. Hijab yang digunakan oleh hamba sahaya sebagai identias orang dewasa, juga membedakan dengan perempuan yang terjun ke prostitusi. Begitupun Muhammad Ali, ulama dari Pakistan, menafsirkan ayat diatas Illa ma zhara minha, hijab dan penutup dada itu sudah menjadi kebiasaan sejak sebelum Islam, ( Ashgor, 2003:11).

Cadar Hak Kebebasan Berekspresi

Indonesia adalah negara yang menganut sistem negara demokrasi. Demokrasi terkadang mendapat ujian yang susah untuk menentukan batasan antara hak rakyat dan hak negara, hal ini yang menjadi abstrak. Rakyat ingin terpenuhi hak-haknya, sebagai warga negara. Kemudian negara menginginkan rakyatnya patuh terhadap peraturan yang sudah dibuatnya. Acapkali terjadi gesekan antara rakyat dan negara jika ketidakadilan tidak ditemukan. Keduanya sama-sama berlindung atas nama Hak Asasi Manusia (HAM) dan berlindung dalam naungan demokrasi.

Suatu nilai ketidakadilan tersebut karena adanya pelanggaran, yang mengakibatkan tidak terpenuhinya hak rakyat. Hak Asasi Manusia adalah hak dasar yang melekat setiap individu dan bersifat universal. Maka dari itu patut dilindungi, dihormati, dipertahankan, dan tidak boleh diabaikan, dikurangi, atau dirampas oleh siapa pun. Ini terdapat dalam Undang-Undang (UU) RI Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asai Manusia. UU ini merupakan tindak lanjut dari ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat ( Tap MPR) Nomor VII? MPR? 1998 tentang HAM.

Pasal 19 ayat 2 menyatakan bahwa, setiap orang berhak atas kebebasan berekspresi; hak ini termasuk untuk menacari, menerima, dan memberi informasi, ide/gagasam, terlepas dari pembatasan-pembatas, baik secara lisam, tulisan, dalam bentuk karya seni atau melalui media lain sesuai dengan pilihannya.

Selain dalam Pancasila yang menyatakan Ketuhanan Yang Maha ESA. UU 45 menyatakan pasal 28E bahwa Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran, dan sikat sesuai hati nuraninya.

Meskipun disini tidak dijelaskan secara eksplisit, namun setidaknya kata-kata dalam pasal 19 kebebasasan berekspresi dan UUD 45 pasal 18E kebebasan meyakini kepercayaan. Kebebasan berekspresi artinya siapapun boleh bertindak dan berpendapat, termasuk berpakaian. Mereka boleh melakukan asal tidak menyalahi norma yang sesuai dalam masyarakat. Kalau sudah menjadikan keyakinan dan kepercayaan bahwa cadar merupakan suatu entitas agamanya maka mereka berhak menggunakan cadar tersebut. Apa sebuah keyakinan dapat dipaksa atau pun dirampas hak kepercayaannya oleh negara? Sekirannya harus bertindak lebih jelas lagi agar tidak melanggar HAM dan sistem demokrasi negara sendiri. Karena pada esensinya Islam adalah melahirkan HAM pertama ajarannya tentang toleransi, kesetaraan, keadilan, dan kemerdekaan, ( Najibur, 2011: 125).

Problemnya, jika sebuah ekspresi ideologi berada dalam suatu institusi atau lembaga tertentu, yang di dalamnya ada aturan-aturan yang harus ditaati bagi semua pihak. Namun aturan tersebut tidak membatasi hak-hak orang untuk mengekspresikan identitasnya yang dianggap sebuah keyakinan dan kebenaran bagi mereka. Karena Indonesia adalah negara demokratis yang menjunjung Hak Asasi Manusia. Kasus-kasus pelanggaran HAM mengenai aturan berpakaian kerap kali terjadi, seperti larangan orang memakai Jilbab, atau siswa diwajibkan memakai jilbab. Padahal mereka memiliki keyakinan yang berbeda persoalan jilbab.

Permasalahan cadar di indonesia seperti permasalahan hijab di Prancis. Seperti yang tercatat dalam sebuah modul, Modul Pelatihan Untuk Menjadi Pelatih Hak Asasi atas Kebabasan beragama dan Berkeyakinan (2010) Salah satu negara bagian Eropa, Prancis, masih saja adanya pelanggaran HAM dalam persoalan pakian, hijab itu digunakan. Salah satu kebijakan kepala sekolah yang melarang menggunakan atribut keagamaan dibawa masuk dalam lingkungan pendidikan. Karena dinilai akan menjadikan propaganda serta dikhawatirkan memicu penyebaran dokrtin pemahaman tentang agama. Hijab bisa dianggap bisa membedakan kelas, dan pelecahan terhadap wanita lainnya. Serta orang yang menggunakan hijab dianggap bentuk perlawanan terhadap negara. Prancis menolak identitas yang berbau etnis, karena Prancis berasalan mempunyai kebudayaan tunggal. Seperti halnya siswa memakai kalung salib yang dilarang masuk dalam pendidikan, seperti sekolah dan kampus-kampus.

Dalam hal ini Indonesia sebagai negara penganut demokrasi harus bisa menilai bagaimana kebebasan individu seorang untuk mengekspresikan keyakinannya tetapi tidak melanggar demokrasi itu sendiri, tidak bertentang dengan NKRI dan Pancasila di Indonesia. Maka tidak salah ketika orang menggunakan budaya pakaian mana pun asalkan sesuai, tidak bertentangan dengan ideologi negara. Seperti halnya Islam yang memberikan kebebasan, berterimakasih kepada demokrasi, berterimakasih kepada HAM yang memuliakan setiap manusia. Pertanyaannya apakah sebuah institusi dapat melarang sebuah identitas keyakinan untuk diekspresikan ? Padahal dalam pandangan negara demokratis itu tidak dibenarkan. HAM dan demokrasi sendiri oleh sebuah kelompok dibenci, karena mereka berangggapan sebagai produk barat, bahkan dinyatakan produk kafir, dan ternyata bisa melindungi orang yang membencinya sendiri tanpa mereka sadari. Nilai-nilai HAM dan demokrasi pada esensinya adalah sama dengan Islam.

SHARE
Previous articleRindu Ayah
Next articleUraian Sebuah Makna