Guru Bangsa Bagi Rakyat Papua

0
217

 

sumber ilustrasi : nu.or.id
sumber ilustrasi : nu.or.id

 

Ide-ide nyeneh Gus Dur terus ia bawa hingga menjadi presiden ke-4 di negeri ini. Pada waktu menjabat salah satu gagasannya yang kontroversi adalah ia mengizinkan berkibarnnya Bendera Bintang Kejora yang merupakan sebuah tanda semangat persatuan bagi rakyat Papua.

Bendera bintang kejora selama bertahun-tahun sebelumnya dilarang keras untuk di kibarkan, karena pemerintah menilai bendera tersebut sebagai tanda perlawanan rakyat Papua untuk memerdekakan diri dari Indonesia.

Semasa Gus Dur menjabat ini lah, bendera bintang kejora di izinkan untuk berkibar berdampingan dengan bendera merah putih, asalkan posisi bendera merah putih berada lebih tinggi. Ide Gus Dur tersebut karena beliau menilai bahwa bendera bintang kejora hanyalah sebagai bendera kultural warga Papua, sebagi mana suku-suku lain di Indonesia mempunya bendera sebagai simbol persatuan mereka juga.

Hal itu terjadi saat Menko Polhukam yang di pimpin oleh Wiranto melaporkan bahwa ada pengibaran bendera bintang kejora di Papua. Gus Dur menaggapinya dengan mudah dan ringan saja mengatakan bahwa bendera itu tak alihnya sebagai umbul-umbul layaknya tim sepak bola yang mempunyai banyak bendera saat bertanding. Bukan sebagai bendera politik. Hanya kita saja yang menggangapnya sebuah ancaman.

Tentu gagasan Gus Dur menimbulkan banyak perdebatan, terutama bagi mereka para kaki tangan (Orde Baru) yang selama ini mengangapnya sebagai bahaya terhadap keutuhan NKRI.

Selain mengizinkan bendera bintang kejora berkibar beliau juga mengembalikan nama Papua menjadi Irin Jaya, yang selama ini di ganti semasa Rezim Orba berkuasa. Karena nama Papua mempunyai makna menghina rakyat Papua.

Karena alasan-alasan di atas, Gus Dur sampai sekarang masih di ingat oleh masyarakat luas Papus. Hanya Gus Dur yang mampu mengerti dan menghormati perasaan mereka.

Model pendekatan GuS Dur ini lah di anggap untuk membantu orang-orang Papua agar bisa menghayati Ke Indonesiaan dari dalam, menurut Fran Magnis Suseno. Selain juga untuk menghormati hak-hak masyarakat Papua yang sebelumnya sangat di abaikan selama puluhan tahun merasa tersinggung, tidak dihormati, dan bahkan dihina. (MUFTI/LESEN)

Bagian 1 : Guru Bangsa Bagi Rakyat Papua