Gerakan Semarang Tolak Kekerasan

0
189

gerakan tolak kekerasanJustisia.com – Gerakan Masyarakat Anti Kekerasan dan Anarkisme (GEMAR) resmi dideklarasikan di Tugu Muda Semarang, (19/4) oleh beberapa elemen organisasi kepemudaan. Gemar berdiri diilhami dari tren kekerasan yang akhir-akhir menyeruak. Mereka menentang segala bentuk kekerasan, dan menolak kehadiran Front Pembela Islam (FPI) di Kota Semarang.

Triyanto Lukmantoro, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Undip, berdiri di depan mengawal ratusan orang pawai di Tugu Muda. Massa memberikan bunga mawar kepada pengguna jalan di seputar Tugu Muda sebagai bentuk kedamaian dan cinta kasih.

Dalam orasinya, TL sapaan akrab Triyanto Lukmantoro menolak segala bentuk kekerasan di Semarang. TL tidak menginginkan ada kekerasan di Semarang. “Kami tidak menginginkan ada kekerasan di Semarang. Kami cinta Semarang, tolak FPI,” sahutnya.

Orasi tak berhenti. Yayan M Royani dari Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) berdiri menyerobot speaker dan bergantian melakukan orasi. Yayan meneriakkan yel-yel tolak FPI, tolak FPI. Yayan secara lantang berbicara jika menolak kekerasan berarti menolak FPI di Semarang.

Negara Indonesia khususnya Semarang, lanjut Yayan, tidak ada yang ┬ámengedepankan kekerasan maupun tindak intoleransi. Maka, ia menyarankan agar kembali ke kesadaran nurani, semua manusia warga Indonesia di mata tuhan. “Semua manusia sama, jadi jangan sok berkuasa. Mari tolak kekerasan, tolak FPI,” katanya.

Organisasi kepemudaan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) juga turut melakukan orasi kebangsaan. Menurutnya, diri sendiri adalah bagian dari kita semua. “Saya tidak akan membiarkan kekerasan terjadi di Semarang dan akan tetap berjuang di GEMAR,” tuturnya.

Organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia juga turut serta. Ia menghimbau agar jalinan harmoni di Kota Semarang tidak boleh dinodai dengan kekerasan. “Harmoni harus berjalan di NKRI dan tidak boleh ada yang mengganggu, sampai kapanpun,” tegasnya.

Kehadiran GEMAR sendiri diharapkan menjadi bagian dari kesahajaan warga di Semarang. Gemar berkehendak menjadi garda depan penentang kekerasan sekaligus menjaga kedamaian. GEMAR juga berusaha untuk melakukan perlawanan pada ormas radikal.

Turut melakukan deklarasi Lembaga Bantuan Hukum Jawa Tengah, PMII Universitas Wahid Hasyim Semarang, PMII Rayon Syariah IAIN Semarang, Mahasiswa Undip, Unissula, Lembaga Studi Sosial dan Agama Semarang dan Lembaga Penerbitan Mahasiswa Justisia IAIN Walisongo Semarang. (J) Nazar