FSH Terima Dua Maba Asal Thailand

0
356
Dua mahasiswa baru asal Pattani, Thailand, Mr. Irfan Buenae (kiri) dan Mr. Tuan Muhammad (kanan) berfoto di depan gedung dekanat Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo. Foto : M. S. Argi

Justisia.com– Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo Semarang menerima dua mahasiswa baru asal Pattani, Thailand. Mereka adalah Mr. Tuan Muhammad dan Mr. Irfan Buenae. Keduanya adalah lulusan ahli madya program Diploma jurusan Akhwal as-Syakhsiyah (AS) Perguruan Tinggi Islam Darul Maarif, Pattani.

“Karena di sekolah (universitas) saya tidak ada (program sarjana jurusan AS),” terang pria berambut cepak yang akrab disapa Mr. Irfan ketika dijumpai reporter Justisia.com di Gedung Serba Guna (GSG) Kampus III UIN Walisongo, Selasa (28/08).

Kepindahannya ke UIN Walisongo adalah untuk menyempurnakan studi diplomanya dengan mengambil program sarjana. Sehingga, baik Tuan Muhammad ataupun Irfan akan memulai perkuliahan dari semester 5.

Namun, kata Ketua Jurusan Hukum Keluarga Islam, Anthin Latifah, ada kemungkinan untuk mengambil beberapa mata kuliah yang ada di semester awal. “Sistemnya itu secara kurikulumnya (adalah) konvers. Mata kuliah yang sama diambil di sana itu tidak diambil lagi di sini. Tetapi dengan pertimbangan kalau memang di sana dianggap belum memenuhi syarat, di sini tetap (harus diambil). Seperti misalnya di sana ada bahasa Melayu, kita tidak kepakai karena di sini bahasa Indonesia, maka harus ambil bahasa Indonesia”.

Ia menambahkan, kewajiban ini dikarenakan adanya perbedaan nomenklatur mata kuliah, seperti Filsafat ilmu -di Thailand- dan Falsafah Kesatuan Ilmu -di UIN Walisongo. Selain itu karena adanya beberapa kriteria yang berbeda.

Dua mahasiswa asal Pattani ini masuk melalui jalur seleksi mandiri. “Mereka ke sini melalui seleksi ujian mandiri. Tesnya sama dengan mahasiswa biasa,” jelas ibu empat anak.

Kepindahannya ke UIN Walisongo merupakan buah kerjasama Thailand -terkhusus Perguruan Tinggi Islam Darul Maarif- dengan UIN Walisongo yang sudah terjalin sejak dahulu. “Di sekolah saya ada MoU dengan UIN Walisongo, lalu saya terikat ke sini,” ungkap pria bertubuh gempal dengan logat khas Melayunya.

Anthin mengamini proses masuknya dua mahasiswa asal Thailand adalah buah relasi dari alumni asal Thailand dengan UIN Walisongo yang sudah terjalin sejak lama. “Ketika adek-adek kelasnya itu mau melanjutkan ada pertimbangan, di walisongo saja, … mereka yang dulu kuliah di sini (UIN Walisongo) itu sudah megang di universitas, mereka merekomendasikan di walisongo saja”.

Irfan mengungkapkan, kesempatan ini adalah impian baginya untuk mendapatkan ilmu, pendidikan, dan pengalaman yang lebih baik. Ia juga menyatakan bahwa rekan-rekan seperjuangannya selama di PBAK menerima ia dan rekannya dengan tangan terbuka.

UIN Walisongo dan kelas Internasional

Datangnya dua mahasiswa asing dari Thailand adalah sebuah pertanda baik bahwa UIN Walisongo sudah mulai menatap ke arah Kampus Multinasional.

“… untuk membuat world class (kelas Internasional) itu kan, pertama bahasa pengantar, seperti apa dosennya, kemudian kurikulumnya, kemudian kesiapan, jadi banyak hal yang harus dipersiapkan ke sana,” tutur Anthin meyakinkan.

Ia menambahkan, untuk menuju Universitas Internasional manajemen harus profesional dan berwawasan pandang ke depan (futuristik). Sehingga visi misi di tingkat jurusan, fakultas, dan universitas dapat dijalankan dengan maksimal. “Hal ini tidak hanya didukung SDM-nya tetapi semua piranti … harus disiapkan”.

Terkait peluang UIN Walisongo membuka kelas Internasional, Anthin mengatakan bahwa semua tergantung kepada pihak universitas. “Kalau itu kebijakan universitas”.

Namun, ia mengamini bahwa ada rencana untuk membuka kelas Internasional. “Kalau rencana tetap ada, tetapi kapan itu terealisasi itu sangat bergantung pada beberapa hal mulai dari fasilitas, kurikulum, kesiapan, dosen, dan lain sebagainya,” imbuhnya.

Sebelum kedatangan dua mahasiswa transfer asal Thailand, Irfan dan Tuan Muhammad, sudah terdapat sejumlah mahasiswa asing yang kuliah di UIN Walisongo, baik di tingkat sarjana ataupun pasca sarjana. (Husna/Afif)