Energi Terbarukan, Warga Candi Promasan

0
216
Energi terbarukan / renewable energy, Mikrohidro yang dimanfaatkan oleh Warga Candi Promasan, Ngesrep Balong, Limbangan Kendal. Di bangun sejak 2011 dan mulai bisa digunakan 2016,dengan kapasitas 5000 untuk menerangi 18 KK. Foto: Mufti

Justisia.com – Hawa dingin mulai terasa menusuk tubuh. Setelah melewati jalan berbatu yang mengelilingi bukit sepanjang perkebunan Teh Medini sekitar tujuh kilometer, sampailah di desa tertinggi. Dusun Candi Promasan, yang masuk wilayah Desa Ngesrep Balong, Limbangan, Kendal.

Tak ada fasilitas mewah yang bisa dinikmati warga setiap harinya. Jauh dan sulitnya akses menjadi alasanya. Namun, 18 Kepala keluarga tidak kehabisan ide. Mereka menciptakan mikrohidro, generator listrik yang digerakan dengan tenaga debir arus air yang tinggi.

Baru setelah lima tahun sejak pertama kali dibangun, pembangkit listrik dengan tenaga air ini manfaatnya mulai dirasakan masyarakat Promasan.

“Dibuat tahun 2011, sampai bisa nyala berjalan 5 tahun. Karena sempat mogok di tengah jalan,” ungkap Pak Kirun (49), salah satu warga Promasan, saat bercerita dengan peserta Youth Climate Change yang berkunjung ke Promasan, Minggu (25/11) siang.

Pak Kirun bercerita, karena yang mengelola mikrohidro seluruhnya masyarakat setempat yang mayoritas petani, tanpa di damping tenaga ahli. Hal ini tentu menjadi kendala, karena keterbatasan pengetahuan yang dimiliki masyarakat setempat. Pada awalnya generator yang sudah berhasil dipasang warga hanya menghasilkan kapasitas 50 watt, tentu itu sangat kecil untuk memenuhi kebutuhan warga yang berjumlah 18 KK.

“Kita cari lagi alhamdulillah, keduanya itu daya sampai 90 watt, terus kita cari lagi gimana caranya akhirnya temen-temen bikin kincir kecil yang bulatnya 40 cm, itu baru bisa mendapatkan strum. Itu sampai 300 wat paling mentok, kapasitas segitu. Alhamdulillah bisa dipergunakan satu desa, ada 18 KK,” terang Pak Kirun.

Generator yang di miliki warga Promasan merupakan pembelian hasil dari beberapa bantuan yang di berikan untuk warga Promasan. Selain itu, kontribusi dari para pendaki yang di kelola warga selama ini sepenuhnya untuk biaya perawatan mikrohidro tersebut.

“Untuk biaya pembuatan seluruhnya habis 600 juta rupiah. Itu (seluruh bantuan) untuk bikin beli generator kapasitas 5000. Kalau untuk biaya dari kontribusi anak-anak pendaki untuk merawat mikro hidronya, tidak kemana itu (uang) bermanfaat sekali untuk warga,” imbuhnya

Tentu daya yang dikeluargan generator tergantung debit air. Disaat musim penghujan debit air yang tinggi generator bisa mengasilkan listrik yang bisa digunakan warga selama 24 jam. Namun kondisi sebaliknya saat musin kemarau tiba.

“Sekarang kapasitas musim kemarau untuk malam-malam ini hanya bertahan 2 sampai 3 jam saja, jam 6 sampai 9 malam,” ukap Pak Kirun.

Pak Kirun (49), biasa anak-anak pendaki menyapanya. Salah satu warga Promasan, saat bercerita proses perjalanan pembuatan mikrohidro untuk masyarakat Promasan, saat diwawancari justisia.com Minggu (25/11) siang. foto: Mufti

Arus air yang digunakan untuk menggerakan turbin generator sendiri berasal dari sumber mata air. Warga membangunkan tampungan semacam bendungan kecil yang selanjutnya air dialirkan mengguakan paralon ke lokasi turbin generator.

Inovasi ini sebagai contoh untuk memanfaatkan sumberdaya alam yang ada, dan mampu menghasilkan energi yang ramah lingkungan dan energi terbarukan (rewenable energy). Hal ini juga yan dirasakan masyarakat Promasan, pengeluaran mereka lebih murah saat menggunakan mikrohidro.

“Untuk keperluan perawatan (mikrohidro), setiap rumah hanya di pungut biaya 15 ribu rupiah. Tapi untuk perawatan karena itu berputar 24 jam yang sering sekali rusak itu lakher nya, setiap dua bulan sekali kita ganti,” imbuhnya.

Menggunakan Genset

Jauh sebelum warga membuat mikrohidro, warga promasan yang ingin menikmati listrik tentunya harus menggunakan Genset setiap harinya. Bahkan untuk membeli bensin saja setiap hari menghabiskan 20 ribu rupiah untuk dua liter bensin.

“Satu malam 20 ribu 2 liter pakai bensin, jadi sebulan pengeluaran untuk bensin saja 600 ribu rupiah,” ujar ketua RT 07/07  setempat, Basuki Rahmat (42) saat di temui di rumahnya.

Karena biaya yang cukup mahal, Basuki mengatakan tidak semua warganya menggunakan Genset.

“Dari 18 KK yang nyala paling berapa saja, yang lain, hanya mengandalkan mikrohodro saja. Meski saat ini hanya 2 jam saja. Saya sendiri sudah 10 tahun menggunakan genset,” ujar pria yang sudah 20 tahun tinggal di Promasan tersebut.

Tapi ia bersyukur, karena jaringan listrik saat PLN sudah sampai di Promasan, namun saat justisia.com sampai disana listrik PLN belum bisa digunakan. Ia berharap, dalam waktu dekat ini sudah bisa digunakan, hal ini akan sangat menunjang untuk kebutuhan warga Promasan.

“Ini PLN sudah masuk, semoga segera bisa membantu untuk meringankan beban, dan warga bisa menikmati fasilitas ini,” pungkas pria asal Purworejo ini.

Bahkan senada dengan Basuki, Pak Kirun mengatakan karena biaya Genset untuk membeli bensin terbilang sangat mahal, hal ini tidak sesui dengan penghasilan warga setempat yang mayoritas hanya sebagai pemetik teh saja.

“Makan saja saya kurangi untuk membeli bensin,” kelakar Pak Kirun.

Kedepan meski sudah ada jaringan listrik dari PLN mikrohidro tetap akan digunakan oleh warga. Listrik mikrohidro akan digunakan untuk penerangan di Goa Jepang sebagai potensi wisata yang pengelolaannya akan dimaksimalkan lagi oleh warga Promasan.

“Itu satu-satunya penerangan pertama, harus saya pergunakan baik-baik, tidak kita tinggalkan, karena saya akan kualat nanti sama para pendahulu meinggalkan kita,” imbuh Pak Kirun.

Rumah Ketua RT 07, Basuki Rahmat (42) yang memanfaatkan listrik dari mikrohidro, dan genset untuk kebutuhan sehari-harinya. foto: Mufti

Mayoritas Pemetik Teh

Hamparan kebun teh seluas 368 hektar milik PT. Rumpun Sari juga menjadi tempat pak Kirun dan 60 warga lainnya menacari rizki. Keselurahan warga, bekerja sebagai pemetik daun teh yang selanjutnya dijual ke pabrik. Karena keterbatasan itu pak Kirun juga mencari pekerjaan di luar pada hari Jumat-Sabtu sebagai pengisi depo air di Ungaran untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

“Di hanya ada tanaman teh, kita hidup dari teh, metik kita jual ke pabrik. Kita kesana kemari cari makan, disini cuma adanya teh, hanya metik saja,” imbuh pria yang kini berusia 49 tahun tersebut.

Selain itu, adanya para pendaki yang singgah di rumah-rumah warga juga memberikan dampak yang bagus, karena menambah masukan untuk sekedar membeli makan dan jajanan.

“Saya disini masukan hanya 25 ribu, itu saja 5 bulan belum gajian kalau saya gak samperin ke kota mungki gak bisa kerja, teman-teman yang kerumah biasa pesan makan, ya alhamdulillah untuk tambahan masukan di rumah,” terang bapak 3 anak tersebut.

Ibu-ibu bertugas memetik pucuk teh, dan bapak-bapak membersihkan rumut yang tumbuh diantara sela-sela pohon teh. Sistem pembayarannya sendiri oleh pabrik, ibu-ibu digaji setiap dua minggu sekali, sedangkan untuk bapak-bapak setiap sebulan sekali.

“Saya juga jual kayu bakar, satu ikat 20 ribu. Kalau daun teh itu perkilo dihargai 600 rupiah. Kita biasa bekerja dari jam 7 sampai jam 2, sehari kalau pucuknya itu tebal minimal satu kwintal bisa kita dapatkan, ya 60 ribu perkwintalnya,” pungkas Pak Kirun. (rep: Mufti/ ed: Inunk)