Ela : Uang Boleh hilang tapi Tidak dengan Semangat

0
66
Ela beserta barang yang dijajakannya di lorong Gedung M Fakultas Syariah dan Hukum, Kamis (11/10). Dok. Justisia

Semarang,Justisia.com – “Jam 10 saya lewat cek, itu uangnya sudah penuh satu toples full ya udahlah saya tinggal pergi ke kanfak, setelah saya kembali dan ternyata loh kok uanganya gak ada, saya kaget uang kertas-kertas nya hilang yang disisain itu uang receh-recehnya. Ya Allah pencurinya kok gitu banget. saya terkejut,” tutur Ela Vinda Anariska (18) mengungkapkan kekecewaannya pada reporter Justisia saat ditemui di gedung M, Fakultas Syariah dan Hukum, Kamis (11/10).

Menanggapi hal ini Ela dan teman-temannya berinisiatif untuk melakukan penjagaan kantin ketika tidak ada jam kuliah. “Antisipasinya dilakukan dengan penjagaan bergilir, kalau tidak ada jam kuliah ya jaga. Tapi jika semua anggota punya jam kuliah yang bersamaan ya udah kami pasrah saja,” ujar wanita asal kendal ini.

Ela menambahkan jika waktu yang rawan kehilangan uang adalah pada saat pukul 10 pagi ke atas, terlebih pada saat pukul 12 siang, karena pada saat itu kampus sedang sepi-sepinya karena banyak mahasiswa keluar mencari makan siang.

Ela juga menceritakan perjuangannya menyiapkan dagangannya itu mulai pagi-pagi sekali sampai ia dijuluki oleh salah satu dosen dengan julukan “si kendal telatan”.

“Paling berat itu kalau ada kuliah pagi masuk jam 7 saya sering telat. Berangkat jam 6:15 sedangkan perjalanan dari rumah ke kampus itu selama 1 jam, belum lagi menata jajan-jajan di kantin ini jadinya telat kalau masuk kuliah pagi. Terlebih lagi jika ada jadwal malam atau kegiatan malam yang membuat tubuh terasa sangat lelah dan alhasil bangun tidur ku kesiangan dan membuatku terlambat masuk kuliah. dari kebiasaan telat masuk kampuis ini sampai aku dijuluki dengan oleh dosen si kendal telatan,” terang mahasiswa Jurusan Hukum Keluarga Islam.

Meskipun begitu Ela masih tetap aktif berjualan hingga sekarang. Semua itu ia lakukan demi meringankan beban orang tuanya, karena kebutuhan mahasiswa tidaklah sedikit, di tambah lagi dirinya merupakan seorang perempuan yang pada umumnya memiliki kebutuhan tambahan lainnya.

“Untuk persiapannya sendiri, Kalau dari saya itu mengambil dari rumah, sayakan laju. Untuk Jusnya itu dibuat oleh kakak saya, kalau untuk jajanannya arem-arem sama tahu itu dibuat oleh ibu saya. Dulu saya yang buat tahunya digoreng, tapi karena berhubung saya kadang pulang malam dan waktu juga tidak memungkinkan jadi dibantu oleh ibu saya, jadi saya berangkat itu tinggal ngambil, tinggal nyangking gitu ya terus sampai ke kampus”.

Selanjutnya Ela berharap agar pihak Dema Fakultas Syariah dan Hukum bisa mewadahi kantin kejujuran ini agar dapat terorganisir dan mempunyai tempat jualan yang layak serta nyaman.

“Karena kami masih individu dalam artian belum terorganisir kami berharap kepada pihak dema supaya bisa mewadahi untuk merintis usaha kami. Seperti membentuk kantin kejujuran ini menjadi terorganisir sehingga kami bisa menjaga dagangan kami secara shift-shiftan dan juga disediakannya tempat, setidaknya ada meja,” tutup ela sembari merapikan kembali dagangannya. (J/Haidar,Hikmah)