Doktrin Agama: Semakin Kaya Semakin Dekat dengan Surga

0
215
sumber gambar: https://images-na.ssl-images-amazon.com

Judul : Etika Protestan dan Spirit Kapitalisme

Penulis : Max Weber

Tahun Terbit : Cetakan 1, 2006

ISBN : 979-2458-28-X

Penerbit : Pustaka Pelajar

Jumlah halaman : (ixxvii+341)

Resentator : Adetya Pramandira

Karl Emil Maximilian Weber atau yang kerap disapa Max Weber adalah seorang sosiolog sekaligus ahli ekonomi dari Jerman. Weber juga disebut-sebut sebagai salah satu pendiri Ilmu Sosiologi dan Adminstrasi Negara Modern. Weber dengan intelektualnya yang luar biasa, mempunyai minat yang besar dalam gerakan-gerakan sosial dan politik kontemporer. Dalam perjalanan hidupnya, banyak hal yang pada akhirnya menjadi buah pemikirannya yang kontroversional.

The Protestan Ethnic and Spirit of Capitalism (Etika Protestan dan Spirit Kapitalisme) adalah salah satu karya termasyhurnya yang memberikan gagasan-gagasan cemerlang sekaligus memberikan tawaran baru untuk menemukan jalan keluar menggunakan pendekatan-pendektannya dalam memecahkan berbagai macam persoalan.

Etika protestan sebagai hasil dari buah pemikirannya, menyiratkan bahwa semangat kapitalisme yang menjamur pada masa itu dipengaruhi oleh semangat beragama. Weber berpandangan dalam agama Protestan yang beraliran Calvinis terdapat konsep “Calling” atau panggilan. Calling ini pada dasarnya merujuk pada ide bahwa kewajiban tertinggi dari seorang individu dalam penghambaanya kepada Tuhannya adalah dengan memenuhi tugas-tugasnya dalam urusan duniawi. Bahwa bekerja adalah panggilan Tuhan, bukan saja sebagai rangka dalam memenuhi kebutuhan hidup.

Meskipun demikian, Weber tidak hanya tertarik kepada doktrin-doktrin Calvin tetapi juga pada evolusi di dalam gerakan calvinisme tersebut. Salah satu doktrin calvin yang menjadi perhatian khusus Weber adalah doktrin mengenai takdir.

Hanya beberapa orang yang terpilih yang bisa terselamatkan dari kutukan, dan pilihan itu sudah ditetapkan jauh sebelumnya oleh Tuhan. Calvin sendiri mungkin bisa merasa yakin atas keselamatan dia sendiri atas dasar instrumen kenabian namun tak seorang pun dari pengikutnya yang bisa dipastikan mendapatkan penyelamatan. (Hlm. xxxvi)

Mengenai doktrin tersebut Weber memberikan komentar bahwa dalam ketidak manusiawiaanya yang ekstrim, doktrin ini mempunyai konsekuensi bagi kehidupan generasi yang menyerah pada konsistensi yang besar.

Perasaan kesendirian di dalam hati yang belum pernah ada sebelumnya.

Menurut Weber dari kondisi seperti inilah semangat kapitalisme muncul. Seorang diwajibkan meyakini diri sendiri sebagai orang yang terpilih sehingga kurangnya keyakinan bisa dipandang sebagai indikasi kurangnya iman. Performa kerja yang baik dan aktivitas duniawi juga menjadi tolak ukur suatu generasi dinyatakan sebagai generasi terpilih atau tidak.

Calvinisme, menurut Weber, memberikan kontribusi yang besar dalam menyuplai energi dan memberikan dorongan moral bagi para wirausahawan kapitalis. Weber mengungkapkan doktrin-doktrin Calvinisme memiliki konsistensi besi dalam disiplin yang dituntut dari para pengikutnya.

Dalam buku Etika Protestan dan Spirit Kapitalisme, Weber membedah asal usul kapitalisme modern dan ramalan tentang perkembangan kultur industri kontemorer secara menyeluruh di kemudian hari. Pandangan Weber tersebut sekaligus juga menjadi kritik atas pemikiran Karl Marx yang tidak menempatkan agama sebagai hal yang penting dalam dunia kapitalisme.