Deretan Spanduk Tolak UKT Bentuk Kekecewaan Terhadap DEMA

0
280
Spanduk bertuliskan "Mahasiswa Baru 2016 UKT Naik Mahasiswa Tercekik. Tolak UKT" sedang dipasang oleh seorang mahasiswa. (dok/justisia)
Spanduk bertuliskan "Mahasiswa Baru 2016 UKT Naik Mahasiswa Tercekik. Tolak UKT" sedang dipasang oleh seorang mahasiswa. (dok/justisia)
Spanduk bertuliskan “Mahasiswa Baru 2016 UKT Naik Mahasiswa Tercekik. Tolak UKT” sedang dipasang oleh seorang mahasiswa. (dok/justisia)

UIN Walisongo – Deretan spanduk bertulisan tolakan terhadap uang kuliah tunggal (UKT) berderet di selatan Masjid Walisongo kampus III UIN Walisongo. Plakat tersebut dipasang oleh beberapa mahasiswa yang tergabung dalam Keluarga Besar Mahasiswa Walisongo yang menolak kenaikan ongkos kuliah.  Isu kenaikan biaya kuliah yang sudah lama diperjuangkan selalu mengalami jalan buntu ketika aksi dan audiensi. Puncaknya mahasiswa merasa tidak percaya terhadap Dewan Eksekutif Mahasiswa.

“Intra mahasiswa yang diwakili oleh dewan eksekutif mahasiswa. Beberapa kali aksi dan audiensi selalu mentah tanpa ada hasil yang jelas. Itu sangat mengecewakan kita semua.  Ini adalah klimaks dari kekcewaan itu,” ucap Irul mahasiswa Jurusan Pendidikan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi.

Meski terjadi kekecewaan dari beberapa mahasiswa.  Gerakan menolak uang kuliah tunggal yang masih disuarakan oleh Keluarga Besara Mahasiswa Walisongo (KBMW) di dukung oleh mahasiswa baru. “Gerakan menolak biaya kuliah harus diikuti. Itu semua kepentingan kita bersama,” ucap M.H. Sofiyulloh mahasiswa semester 1 Jurusan Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi.

Mahasiswa asal Kendal ini mendapatkan UKT sebesar Rp.2.300.000. Jumlah tersebut tidak sesuai kemampuan dengan penghasilan kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai petani. Penghasilannya sangat bergantung terhadap panen yang musiman.

Gerakan menolak UKT bersamaan dengan Orientasi Pengenalan Akademik (OPAK) Mahasiswa Baru UIN Walisongo tahun 2016. Momen ini dimanfaatkan untuk menggugah daya kritis mahasiswa baru terhadap kondisi kampus saat ini oleh Keluarga Besar Mahasiswa Walisongo.  (j/RL)

 

Save