Cerita Dibalik Perjalanan Aksi Teroris

0
140
Reporter justisa.com saat melakukan wawancara Eks Mantan Teroris, Yusuf Adirima di Audit II Kampua III. Foto : Justisia

Justisia.com– Tindak terorisme biasanya dilakukan ketika ada keramaian dan kelengahan aparat kepolisian. Seperti saat natal, tahun baru dan pemilu.Tindak teroris tidak menyasar semua tempat. Mereka akan melancarkan aksinya di tempat-tempat yang mereka anggap sensitif, salah satunya yaitu gereja. Rangsangan ini bertujuan untuk menampakkan bahwa mereka masih ada, baik sendirian maupun kelompok-kelompok kecil.

Eks Narapidana Teroris, Yusuf Adirima mengatakan mereka melakukan perekrutan anggota tidak secara terang-terangan di depan.

Lebih lanjut dia menjelaskan, dengan mengadakan pengajian, pertemuan dan memompa rasa cinta kepada muslim yang menderita di tempat lain untuk menambah ketertarikan. Setelah terjerumus baru muncul konflik-konflik yang membentuk seseorang ikut kelompok A, B dan C dalam barisan perlawanan.

Tapi di perjalanan ini pemolesannya tanpa ada kesadaran, kata Yusuf saat diwawancarai justisia.com setelah mengisi Seminar Regional dengan tema Penanggulangan Terorisme untuk Menciptakan Kondusifitas Pemilu 2019 di Auditorium II Kampus III, Selasa (6/11).

Teroris bertempat dimana saja yang memberikan keleluasaan untuk mengadakan kekuasaan.

Organisasi teroris memiliki struktur untuk menggerakkan organisasi, yaitu: ketua (bagian yang mengajak), orang yang membantu proses rekrutmen, dan audient (kelompok yang direkrut).

Yusuf menceritakan orang-orang yang ikut dalam organisasi teroris biasanya karena himpitan ekonomi. Mereka tergiur oleh uang dan pendidikan gratis sebagai kompensasi. ISIS pun akhir-akhir ini memberikan kompensasi yang lebih besar, yaitu 50 juta sampai 100 juta. Itulah penyebab banyaknya orang yang tergiur. Juga bisa karena faktor kebodohan.

Makna bodoh itu selalu mengambil satu pilihan tanpa melihat pembandingnya. Makna pembanding itu dari mantan (teroris), dari yang pernah ke Suriah atau yang pernah melihat langsung, tambah pria Mantan Teroris kombatan Jamaah Islamiyah Filipina Selatan.

Secara umum mereka memilih membeli alat-alat dari tempat yang terdekat karena lebih murah. Saat ini mereka juga tidak mewajibkan anggota baru untuk hijrah ke Suriah, karena itu melakukan perekrutan di Indonesia. Aksinya pun dilakukan di Indonesia dengan mengatas namakan Islam, yang menyebabkan orang muslim yang disalahkan dan menjadi korban.

Maka dari situ, Yusuf dengan bantuan polisi membentuk kelompok untuk sharing yang sifatnya preventif berfungsi agar para mantan narapidana teroris lebih bermanfaat bagi masyarakat. Mantan narapidana teroris yang sekarang menjadi manajer rental mobil tersebut berharap sudah tidak ada lagi istilah mantan teroris yang ada hanya istilah muslim yang ingin berbuat baik.

Jadi kami (dapat) berkarya terus, jadi inginnya begitu, berkarya dengan enjoy dengan masyrakat jadi tidak ada rasa ketakutan, beber pria berumur 42 tersebut.

Pria kelahiran Jombang tersebut juga mengingatkan bahwa mahasiswa akan tetap dilirik untuk direkrut ke dalam organisasi teroris. Oleh karenanya, dia berharap agar natal, tahun baru dan pemilu pada tanggal 17 April 2019 tidak ada masalah dan Jawa Tengah selalu kondusif. (J/Ayu-Hisbi)