Catatan diskusi “Dakwah Islam Jawa Abad XV”

0
47
sumber ilustrasi: http://img.over-blog-kiwi.com

Oleh: Arifan

Dibawah ini kurang lebih adalah penjelasan Prof. Dr. Hj. Ismawati, M.Ag dalam diskusi rutin “Anggoro Manis” yang diadakan oleh Pusat Pengkajian Islam dan Budaya Jawa (PPIBJ) UIN Walisongo Semarang, pada hari Selasa, 30 Oktober 2018 dengan tema diskusi “Dakwah Islam Jawa Abad XV”.

Banyak teori sejarah yang mengatakan kapan Islam masuk ke pulau Jawa. Salah satunya abad ke-9 yang dibawa oleh para pedagang, ada juga mengatakan dibawa oleh ulama yang mukim di tanah jawa pada abad ke-11. Perlu kita ketahui bahwa mempelajari sejarah itu sangat penting, apalagi kita sebagai orang yang hidup di tanah Jawa, penting tentunya mempelajari sejarah yang berkaitan erat dengan Jawa itu sendiri. Ketika mempelajari sejarah diharapkan kita bisa memperoleh pembelajaran penting dari para pendahulu kita, karena sejarah adalah guru kehidupan. .

Pertama, peran pedagang dalam penyebaran dakwah Islam di Jawa. Sering kita mendengar bahwa Islam masuk ke Nusantara itu melalui kegiatan perdagangan, kenapa demikian? Karena pada saat itu memang sudah terjalin hubungan perdagangan antara bangsa-bangsa asing dengan bangsa kita. Jalur yang digunakan untuk menempuh perjalanan adalah jalan laut, yaitu jalur yang menghubungkan antar pulau di Nusantara dan juga jalur yang ditempuh bangsa-bangsa dari luar untuk datang ke nusantara, dari sebelah utara melalui selat malaka dan dari sebelah selatan melewati selat Sunda.

Seiring berjalannya waktu, lama-kelamaan muncul berbagai pusat perdagangan di nusantara yang kebanyakan berada di kerajaan-kerajaan besar di sepanjang pantai jalur perdagangan, seperti Sriwijaya (abad 7-14), Samudera Pasai (abad 13), Tuban (abad 11). Serta Gresik, Surabaya, dan Jepara (abad 15).

Jalur perdagangan itu juga digunakan oleh bangsa India, Cina, Arab, Portugis, Inggris, dan Belanda dalam berniaga. Perlu kita ketahui, bahwa lalu lintas kebudayaan dan keagamaan juga masuk Nusantara melalui jalur perdagangan tadi, dari Hindu, Budha, Islam, dan Nasrani.

Kemudian dari bandar-bandar perdagangan yang ada, bermunculan pusat kekuasaan yang menjadi tempat penyebaran agama-agama. Sriwijaya menjadi pusat penyebaran agama Budha dan Islam pada abad ke-15. Bandar lainnya seperti Aceh, Pasai, Banten, Gresik, Demak, Makasar, dan Ternate pada saat berikutnya juga menjadi pusat penyebaran agama Islam.

Dari keramaian perdagangan di Samudera Pasai mampu membangun Kesultanan Islam yang pertama di Nusantara pada abad ke-13. Para pedagang yang berada di Samudera Pasai ini aktif melakukan pelayaran ke Makkah, Mesir, dan mendapatkan istilah Sultan (sebagai penguasa wilayah di bawah Kekhalifahan Islam) dari kesultanan Ayubiyyah, Malik al-Saleh (1237-1248) dan Malik Najmuddin Al-Ayyubi.

Sebenarnya agama Islam datang ke Nusantara sudah sejak abad ke-7 yang dibawa oleh saudagar Arab. Sehingga madzhab Syafii berkembang di Nusantara, yang mana madzhab tersebut memang yang paling berpengaruh di Makkah, Mesir, dan Syiria kala itu. Berikutnya para pedagang Persia melakukan dakwah Islam dan siikuti oleh pedagang Gujarat. Mereka berdakwah sebagai kewajiban bagi umat muslim. Meskipun peranan mereka tidak benar-benar sebagai pendakwah seperti halnya dai, karena mereka pedagang, tapi peranan mereka terhadap penyebaran agama Islam di Jawa sangat besar. Salah satu bukti kalau Gujarat memberi pengaruh terhadap corak keislaman di Nusantara adalah makam Sultan Malik al-Saleh di Samudera Pasai.

Dakwah Islam pertama dilakukan di Aceh, karena memang Sumatera adalah yang paling strategis letaknya kalau dilihat dari jalur perdagangan laut. Para pedagang Islam ini melakukan suatu ritual keagamaan yang kemudian dikenalkan kepada orang-orang di Aceh, dan mereka menirukannya. Setelah itu, para pedagang memperkenalkan ke Sumatera dan Jawa. Waktu tinggal mereka yang hanya sementara belum mampu membuat masyarakat menjadi muslim secara benar, hal ini dikarenakan merak datang ke Nusantara yaitu menggunakan kapal layar yang mengandalkan angin ketika datang, dan ketika pulangpun mereka menunggu angin ke barat lagi. Ini terjadi dalam waktu yang tidak lama.

Kedua, peranan penguasa dalam penyebaran dakwah Islam di Jawa. Salah seorang pemimpin yang memainkan peran dalam penyebaran agama Islam atau dakwah Islam ke pulau Jawa adalah Sultan Zaenal Abidin Bahiyan Syah, ia adalah Raja Samudera Pasai (1340-1406). Ia yang mengirimkan dua orang pendakwah ke Jawa, yaitu Maulana Malik Ibarahim dan Maulana Ishak yang bergelar Syaikh Awwal al-Islam. Samudera Pasai sendiri sama dengan Aceh dan Demak di Jawa Tengah pada 1478, yang merupakan pusat penyebaran Agama Islam di Nusantara. Tiga kesultanan ini juga yang mempertahankan Nusantara dengan menyerang Portugis pasca jatuhnya Malaka dari portugis pada tahun 1511.

Kedatangan Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishak yang ditugasi oleh Sultan Samudera Pasai di daerah Gresik adalah dalam rangka melaksankan perluasan dawah keagamaan dan kemasyarakatan yang terjadi pada era abad 6 H/12 M hingga abad 10 H/16 M.

Ketiga, peran para mubaligh dalam penyebaran tarekat di Jawa. Peran para mubaligh tentunya begitu besar dalam penyebaran di tanah Jawa, karena mereka memang yang mengetahui secara mendalam tentang seluk beluk agama Islam. Di Jawa para mubaligh ini biasa kita kenal dengan sebutan Wali atau Waliyullah (orang yang dekat dengan Allah), orang-orang yang dikaruniai karamah oleh Allah sebagai kesaksian atas kebenaran Nabi dan Rasul. Meskipun sebenarnya banyak mubaligh-mubaligh yang menyebarkan agama Islam melalui tarekat, tapi yang dikenal di pulau Jawa ini adalah Walisongo. Diantara Wali yang hadir terawaldi pu;au jawa adalah Maulana Ibrahim (ayah Maulana Malik Ibrahim) yang pada batu nisannya tertulis angka tahun wafat 1419. Tetapi perlu kita ingat bahwa sebelum Maulana Ibrahim, tidak sedikit orang Jawa yang telah masuk Islam, hal ini dibuktikan dengan temuan makam Fatimah binti Maimun yang berangka tahun1082 di Leran, Gresik.

Para Wali penyebar agama Islam awal lebih banyak menetap di Jawa Timur, mereka adalah Sunan Giri, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, dan Sunan Gresik. Sedangkan yang ada di Jawa Tengah adalah Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, dan Sunan Muria. Kemudian di Jawa Barat adalah Sunan Gunungjati. Melalui saluran tarekat tadi, islamisasi di daerah pesisir Jawa menjadi berkembang pesat, karena memang penyampaian dakwah Islam di Jawa abad ke -15 sangat diwarnai dengan berbagaia aliran sufi. Hal ini juga merupakan salah satu faktor diterimanya agama Islam di Jawa,yaitu karena ketertarikan orang Jawa terhadap ajaran tasawuf. Diakui juga bahwa sufisme dan bentuk mistisisme di Jawa inilahyangdianggap mampu memenuhi kebutuhan spiritual masyarakat Jawa.

Menurut Babad Gresik, penyiaran agama Islam di Jawa dilakukan oleh para mubaligh yang secara berombongan tiba di Jawa pada tahun 1377. Mubaligh Maulana Mghfur dan Maulana Ibrahim menyiarkan secara intensif di Gresik.

Maulana malik ibrahim, ia pernah bermukim di Campa (Kamboja) selama tiga tahun sejak 1379. Beristri putri raja, yang memberinya dua putera Raden Rahmat (Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha (Raden Santri). Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, tahun 1392 Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Jawa dan meninggalkan keluarganya. Aktifitas awal beliau adalah berdagang kebutuhan pokok dengan harga murah dan mengobati masyarakat secra gratis, disamping mengajar metode baru bercocok tanam pada masyarakat bawah, dan berdakwah melalui pesantren serta menyebar tarekat.

Kedatangan Raden rahmat pada 1419 semakin mengembangkan penyiaran agama Islam di Jawa. Ia melakuakan kunjungan kepada bibinya, Darawati dari Campa di keraton Majapahit. Atas perkenan suami bibinya, Raja Majapahit Brawijaya V. Raden Rahmat diserahitanah perdikan Ampel beserta 30.000 jiwa penduduknya. Sunan Ampel membangun pasantren dan menyiarkan agama pada masyarakat yang mukim di sekitarnya. Penyiaran melalui pesantren tidaklah dianggap asing bagi orang Jawa, karena sebelumnyasudah ada yang namanya Mandala , tempat pengajaran agama Hindu.

Selain cara-cara yang digunakan para wali untuk menyebarkan Islam di tanah Jawa masih sangat banyak cara dakwah Walisongo, seperti kesenian wayang Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang yang juga menggunakan pendekatan seni dan budaya sebagai sarana berdakwah.

Selain Walisongo, masih ada banyak mubaligh lain yang juga menyebarkan Islam melalui tarekat, salah satunya adalah Syaikh abdullah al-Syaththari (w. 890 H / 1485 M) menjadikan tarekatnya sebagai sebuah gerakan ekspansi keagamaan, serta lebih mengarahkan kepada perjuagan untuk meningkatkan nilai moral dan spiritual melalui penyebaran berbagai ajaran Islam. Dalam upaya ini, beliau beserta pengikutnya mengembangkan kecenderungan untuk beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan tradisi dan ritual masyarakat setempat yang masih banyak dipengaruhi ajaran ritual Hindu. Sikap akomodatif para penganut tareka Syatariyah seperti ini lebihmudah menarik perhatian non muslim untuk memeluk ajaran islam, dan bahkan hal ini dianggap sebagai kunci berkembangnya ajaran tarekat.

Perang Paregreg atau perang saudara (1401-1406) antara Wirabumi dan Puteri Kusumawardani di Majapahit semakin membawa Majapahit menuju kemerosotan, apalagi ditambah dengan serangan Girindrawardana (1478) yang menyebabkan kekuasaan berpindah ke Kediri. Peperangan terjadi terus menerus di Majapahit, yang akhirnya memberi peluang bagi daerah-daerah kekuasaannya untuk melepaskan diri, termasuk Demak. Kemudian Sultan Fatah/Raden Fatah (Putera Raja Majapahit, Brawijaya V) memiliki legitimasi untuk mendirikan kesultanan Bintara Demak pada abad ke-15. Disisi lain ia juga memiliki legitimasi dari para Wali yang menjadikan kesultanannya sebagai dakwah Islam yang efektif. Dengan kekuasaannya maka dakwah Islam lebih terorganisir dan mampu mengajak para bupati pesisir Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur yang masuk wilayah Majapahit untuk masuk Islam dengan damai.