Bias Bonus Demografi dalam Masyarakat

0
233
sumber ilusrasi : www.trenggalekkab.go.id

Oleh : Salwa N

Menjajaki tahun 2020 yang digadang-gadang sebagai awal dari window opportunity (jendela kesuksesan). Indonesia sebagai markas window opprtunity sudah semestinya untuk mempersiapkan diri sedini mungkin. Window opportunity atau dalam Bahasa Indonesia disebut sebagai jendela peluang erat kaitannya dengan bonus demografi yang bakal terjadi di Indonesia. Demografi berasal dari bahasa Yunani demos artinya adalah rakyat atau penduduk, serta grafein yang artinya menulis. Sehingga bisa dijabarkan sebagai tulisan-tulisan atau karangan mengenai penduduk atau rakyat. Adapun salah seorang ahli demografi bernama George W. Barclay mengartikan demografi dengan ilmu yang memberikan gambaran secara statistik tentang penduduk.

Perkembangan tentang demografi selanjutnya bermuara lebih luas tidak hanya mengkaji tentang jumlah penduduk, kematian ataupun kelahiran. Ilmu demografi kemudian terbagi atas beberapa fokus kajian yang mana masih tali temali dengan studi kependudukan. Berkaitan dengan hal tersebut, ilmu demografi diposisikan sebagai alat analisis kajian-kajian tentang fenomena kependudukan. Meskipun kajian tentang kependudukan berlandaskan pada parameter demografi, akan tetapi penerapan ilmu lainnya masih sangat dibutuhkan. Pasalnya, kecil kemungkinan untuk mnegkaji suatu fakta sosial hanya dengan satu jenis keilmuan saja.

Ilmu demografi akan memaparkan sejauh mana analisis perihal kependudukan, Sehingga akan ditemukan fenomena kependudukan yang disebut dengan bonus demografi. Bonus demografi terjadi ketika pertumbuhan usia kerja lebih tinggi dibanding usia muda. Perlu diketahui bahwa usia kerja disini berkisar antara usia 15 tahum hingga 64 tahun, rentang usia tersebut dinamai dengan usia produktif. Adapun usia diatas maupun dibawahnya disebut sebagai usia non produktif. Beberapa literatur menyebut pula bahwa bonus demografi merupakan keuntungan ekonomis yang disebabkan menurunnya ketergantungan yang disebabkan oleh proses penurunan fertilitas dalam jangka panjang.

Fenomena Bonus Demografi di Indonesia

Indonesia sebagai negara berkembang cenderung mengalami kenaikan jumlah penduduk tiap tahunnya. Kenaikan jumlah penduduk akan memunculkan berbagai konflik sosial dimasyarakat. Berkembangnya konflik sosial dimasyarakat selaras dengan berkembangnya metode pemerintah atau negara dalam mengikis problem tersebut.

Indonesia bakal menghadapi masa bonus demografi yang diprediksi terjadi pada tahun 2020-2030. Jangka waktu yang tidak cukup lama tersebut diharapkan mampu meberikan kontribusi yang baik dengan menurunkan tingkat konflik sosial yang ada. Pembangunan bagi sebuah negara merupakan suatu hal yang sangat vital dan membutuhkan strategi yang pas. Mengutip pendapatnya Fakih (1996) dari buku kapitalisme, negara, dan masyarakat realitas pembangunan erat kaitannya dengan peran penting pemerintah sebagai penyelenggara negara. Pemaparan tersebut mampu menunjukkan bahwa peran pemerintah menjadi subyek pembangunan berarti pemerintah memperlakukan rakyat sebagai objek, resipien, atau penerima, klien bahkan partisipan pembangunan.

Mengingat bahwasannya kategori penduduk pada tahun 2020-2030 didominasi oleh penduduk usia produktif, maka mereka itulah yang menjadi obyek pemerintah untuk melakukan pembangunan. usia produktif alias usia kerja memiliki hubungan yang positif dengan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi berpengaruh pada penyerapan angkatan kerja. Dengan demikian hubungan antara pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi tidak lagi hanya terfokus pada jumlah dan pertumbuhan penduduk secara agregat, melainkan melihat pula dampak perubahan struktur umur penduduk terhadap pertumbuhan ekonomi.

Pemetaan terhadap usia produktif terbagi atas beberapa fase diantaranya: pelajar/mahasiswa, pekerja, dan yang belum mendapat pekerjaan. Guna membebaskan krisis sosial yang ada saat ini pemerintah sudah semestinya untuk memikirkan bonus demografi yang bakal terjadi dengan cara memperkuat serta mengembangkan potensi pelajar/mahasiswa yang menempati usia produktif. Berdasarkan data dari Kemenristekdikti pada tahun 2015/2016 terdapat 5.153.971 mahasiswa yang tersebar di Indonesia. Angka tersebut tidak bisa dibilang tinggi mengingat jumlah penduduk di Indonesia pada tahun 2015 sekitar 255 juta jiwa.

Revolusi manusia yang awalnya dianggap sebagai faktor produksi, tapi kini berubah menjadi aset benar akan terealisasi ketika menghadapi bonus demografi. Pemanfaatan terhadap SDM harus ditingkatkan. Adapun upaya yang dapat dilakukan pemerintah untuk meningkatkan SDM tersebut ialah dengan cara memberikan beasiswa terhadap mahasiswa kurang mampu yang berprestasi atau biasa disebut Bidikmisi. Bidikmisi cukup memberikan kontribusi bagi pelajar ekonomi kelas bawah untuk melanjutkan pendidikannya. Hal tersebut merupakan salah satu contoh bukti dari negara dalam melakukan pembangunan.

Mahasiswa Sebagai Penggerak Pembangunan

Pendidikan merupakan salah satu ranah efektif sebagai upaya melakukan pembangunan. mengingat pemberian beasiswa bidikmisi kepada calon mahasiswa kurang mampu merupakan salah satu bentuk upaya pembangunan, maka mahasiswa penerima beasiswa juga diharapkan memiliki timbal balik terhadap negara. Timbal bailk ini bukanlah bentuk penghambaan mahasiswa tersebut kepada negara, melainkan pemaksimalan dari dana tersebut guna membantu negara dalam melakukan pengentasan krisis sosial yang terjadi di masyarakat.

Bonus demografi memiliki dua sisi yang sama tajamnya bagi Indonesia. Satu sisi apabila mampu menyelami rentang waktu 10 tahun dengan baik bisa diprediksi akan terjadi penurunan konflik sosial. Sedangkan, apabila dalam kurun waktu 10 tahun tersebut kian menanmbah konflik sosial, tak bisa dipungkiri bahwa demografi sosial sekedar fenomena kependudukan belaka.

Polemik mengenai bonus demografi juga menjadi beban bagi setiap penduduk yang berusia produktif, begitupun dengan mahasiswa bidikmisi. Mereka akan dituntut lebih berani dan siap dalam menghadapi tantangan pada kurun waktu 10 tahun tesebut. Tantangan terhadap bonus demografi cenderung akan didominasi oleh penduduk yang tergolong sebagai generasi milenial maupun generasi Z. Generasi tersebut dianggap terlampau ramah dengan teknologi, bahkan mereka mampu mencetuskan inovasi-inovasi terbaru. Akan tetapi, keunggulan tersebut hanya akan sia-sia jika tidak ada greget untuk melakukan perubahan.

Konflik sosial yang terjadi di Indonesia, seperti kesehatan, kemiskinan, bencana alam memerlukan pematangan berfikir untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Dalam hal ini, tanggung jawab terbesar ada pada kaum pelajar/mahasiswa sebagai kaum terdidik. Para pelajar khususnya mahasiswa bidikmisi memiliki tanggung jawab sosial yang harus dipikul, mahasiswa secara umum menanggung tanggung jawab sosial dalam dirinya masing-masing. Tanggung jawab sosial ini bergandengan dengan kontribusi atau andil dari setiap kaum terdidik terhadap negara, hal ini tidak hanya berkaitan dengan akademik seperti prestasi atau lainnya. Tanggung jawab sosial beban yang lebih berat daripada hanya sekedar meningkatkan prestasi.

Tanggung jawab sosial berhubungan dengan pengentasan konflik sosial yang ada dimasyarakat. Jika generasi emas yang sedang diwacanakan maksudnya ialah generasi yang memiliki potensi, keahlian serta profesional dalam bekerja. Maka pemaknaan tersebut perlu diperluas lagi menjadi generasi yang mampu menuntaskan konflik sosial dimasyarakat. Sebab, generasi seperti ini tidak hanya memiliki potensi besar apalagi keahlian khusus. Namun mereka juga memiliki keterikatan terhadap realita sosial yang ada.

Solusi yang bisa ditawarkan dalam menghadapi bonus demografi meliputi tentang perbaikan dalam sistem pendidikan. pendidikan pendidikan yang baik akan berpengaruh terhadap perekonomian. Dimana, pendidikan disini tidak hanya diarahkan kepada kualitas perindividu, tetapi bagaimana pendidikan mampu memperluas cara berfikir maupun cara pandang dari generasi muda. Di lain sisi, pemerintah telah turut andil dalam pengembangan pendidikan hingga saat ini. rasanya akan sia-sia jika tidak bisa menghasilkan generasi yang mumpuni kedepannya.