Berhenti Menuntut untuk Menjadi Sempurna

0
169
sumber foto: shoppe.co.id

Judul : Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat

Penulis : Mark Manson

Penerbit : Grasindo

Tahun Terbit : 2018

ISBN : 978-602-452-698-6

Halaman : vii + 246

Resentator : Adetya Pramandira

Buku ini tidak berbicara bagaimana meringankan masalah atau rasa sakit anda. Buku ini bukan pula panduan untuk mencapai suatu keagungan-tidak akan bisa, karena keagungan hanya sebuah ilusi dalam pikiran kita, suatu destinasi bohongan yang seakan-akan wajib kita capai, kota Atlantis dalam psikologi kita sendiri, -Mark Manson

Mungkin ketika membaca judul buku ini, kita dibuat bertanya-tanya. Pantaskah kita bersikap bodo amat terhadap sesuatu? Bukankah kita diajarkan untuk bersikap peduli? Bukan justru menjadi mahluk yang apatis dan oportunis? Lantas, sikap bodoh amat memerlukan seni? Sebetulnya apasih yang dimaksud Manson dalam bukunya yang lagi booming dipasaran dan diminati oleh banyak orang di berbagai kalangan ini? Oke, saya akan mencoba menggiring pembaca dalam memahami karya Manson yang fenomenal ini.

Mark Manson seorang bloger kenamaan dengan berjuta-juta pembaca, menuangkan pemikiranya akan sikap terhadap realitas masa kini dalam sebuah buku pertamanya, Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat. Dalam buku ini, Manson tidak lantas menganjurkan kita untuk bersika bodo amat dalam segala hal. Justru, dalam buku dengan sampul berwarna oren menyala ini Manson ingin membuka pandangan kita bahwa sebetulnya ada hal-hal yang tidak perlu kita risaukan. Membuka pikiran kita bahwa ada hal-hal yang lebih penting dan diperhitungkan untuk kita tekuni. Manson menunjukan kepada kita untuk menjadi manusia yang lebih kuat, lebih bahagia dan lebih sangar kita mengerjakan segala tantangan dalam dengan elegan, menepis sejenak rasa khawatir akan segala-segala kemungkinan yang kita tidak tau seperti apa nantinya. Bagi Manson memikirkan kemungkinan yang belum jelas hanya akan membuat kita berhenti untuk melakukan sesuatu atau lamban dalam berjalan dalam menuju kesuksesan. Hal ini karena kita berada dibawah belenggu bayang-bayang kemungkinan-kemungkinan yang kita takutkan.

Manson menceritakan kepada kita bahwa sekarang kita berada di lingkaran setan akibat ulah otak kita sendiri. Manson menegaskan kita bahwa ada keanehan mental yang membahayakan otak kita. Kita selalu merasa cemas dan khawatir ketika menghadapi sesuatu yang asing dalam hidup kita, rasa cemas yang kita hadapi akan menimbulkan rasa kecemasan yang baru dan begitu seterusnya, cemas-cemas dan cemas ! hingga sulit otak kita untuk berfikir jernih dalam situasi demikian. Lingkaran seolah telah mewabah, sehingga membuat banyak dari antara kita terlalu tertekan, terlalu gusar dan terlalu membenci diri kita sendiri begitu kata Manson dalam bukunya ini. Hal ini bisa terjadi karena kita selalu menginginkan hal yang positif dalam hidup kita, berada dalam keadaan perfect disetiap saat dan yang paling menjijikan adalah takut dipandang buruk oleh orang lain.

Menginginkan sebuah pengalaman positif adalah sebuah pengalaman negatif; menerima pengalaman negatif adalah sebuah pengalaman positif (hlm. 10).

Semakin kuat kita berusaha merasa baik setiap saat, kita akan merasa semakin tidak puas, karena mengejar sesuatu hanya akan meneguhkan fakta bahwa pertama-tama kita tidak baik. Stop, saya tidak akan membahas lebih jauh lagi tentang keganjilan-keganjilan yang ada didalam otak manusia karena itu hanya akan membuat saya sakit hati. Lanjut saja kedalam pertanyaan Lantas, sikap bodo amat yang seperti apa yang dikehendaki Manson untuk menggiring kita dalam kesuksesan?

Dalam buku ini setidaknya saya menemukan tiga kata kunci untuk bermain seni dalam bersikap bodoh amata. Pertama, kita harus bersikapa masa bodoh terhadap segala halangan dan rintangan yang akan kita hadapi dalam berproses menuju kesuksesan. Masa bodoh atau bodo amat artinya memandang tanpa gentar tantangan yang paling menakutkan dan sulit dalam dalam kehidupan dan mau mengambil suatu tindakan (hlm. 14). Kedua, Prioritaskan hal-hal penting yang lebih pantas untuk diperhatikan. Hal ini menjadikan kita bersikap bodoh amat terhadap hal-hal yang sebenarnya bukan menjadi bagian dari pikiran kita. Menemukan sesuatu yang penting dan bermakna dalam kehidupan kita, mungkin bisa menjadi cara yang produktif untuk memanfaatkan waktu dan tenaga kita. Karena jika kita tidak menemukan sesuatu yang penuh arti, perhatian hanya akan tercurah kepada hal-hal ynag tanpa makna dan terksesna sembrono (hlm. 21). Ketiga, yang ketiga hanyalah sebats penegasan dari poin kedua. Beranjak menjadi manusia dewasa tentu kita akan mulai memilah dan memilih untuk mana yang sekiranya pantas untuk dipikirkan.

Dalam karyanya ini Manson yakin bahwa kita sekarang berada di dunia yang penuh dengan ambisi untuk menuju kesuksesan, namun kita juga menghadapi wabah psikologis yaitu ketika kebanyakan orang tidak lagi menerima dengan tenang bahwa kadang-kadang ada hal yang tidak menyenangkan dalam hidup ini dan kita terlalu rapuh untuk menghadapinya. Buku karya Manson ini perlu kiranya untuk dibaca dan dipahami segala untaian kata yang sarat akan makna.

Dalam hidup ini kita hanya punya kepedulian dalam jumlah yang terbatas. Makanya kita harus bijaksana dalam menentukan kepedulian kita