Benteng Pemikiran Kaum Taqlid

1
194

Oleh : Widya

Taqlid hanyalah kebodohan yang membawa pada kematian zaman

Dunia menginginkan sarjana yanbg aktif, kritis dan inovatif. Sehingga peka terhadap perubahan zaman yang akan membawanya kepada kemajuan peradaban. Mahasiswa sudah seharusnya sadar akan pemikiran intelektual untuk menghadapi caruit-marut duniawi.

Sayangnya tidak semua mahasiswa dapat menjangkau pemikiran ini. Mereka cenderung acuh pada perkembangan zaman. Survey membuktikan bahwa 90 % mahasiswa bertujuan untuk bekerja setelah lulus kuliah. Hal ini hanyalah sebuah pemenuhan nafsu hedonis belaka.

Menengok sejenak IAIN Walisongo, dalam mata kuliah apapun mahasiswa dituntut untuk aktif. Betapa kampus ini menjunjung tinggi perbedaan pendapat. Tapi pada kenyataannya prosentase mahasiswa yang aktif hanya mencapai 40%. Bukankah ini merupakan tanda kematian intelektualitas?

Perlu dipertanyakan, ketidakaktifan mereka itu karena maslas berfikir atau sebenarnya mereka terkungkung dalam pemikiran taqlid yang memenjarakan otak mereka. Ini wajar karena sebagian besar warga IAIN masih menghamba pada kehidupan pondok pesantren yang enggan meninggalkan tradisionalitas menuju modernitas.

Wujud pemikiran taqlid sebenarnya telah tampak di depan mata dengan pemikiran anti liberal. Mereka yang berfikir demikian berarti lebih senang terpenjara daripada merdeka. Mereka cenderung menutup mata dari segala perubahan yang ada.

Gelagat taqlid muncul dalam buku, Ada Pemurtadan di IAIN (2006) karangan Hartono Ahmad Jaiz yang salah kaprah mengartikan liberalisme. Sehingga banyak mahasiswa anti liberal yang tersulut mengobarkan benteng pertahanan pemikiran mereka.

Kebodohan Kaum Taqlid

Kaum taqlid menganggap nyeleneh kritikan-kritikan yang dilontarkan terhadap wacana keagamaan yang memang tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Mungkin telinga mereka merasa geli menerima suatu hal yang baru karena berlawanan dengan prinsip mereka selama ini. Mereka terlalu rancu untuk memikirkan liberal. Mereka menyebut pemikiran liberal adalah sebuah kelatahan intelaktual yang datang dari barat. Hal ini terbukti dengan munculnya wacana Gelagat Latah Pemikiran Liberal pada 2011. Ini perlu diluruskan.

Berfikir tentang rancu, mengingatkan kita kembali pada Tahafut al Falasifat milik Al-Ghazali. Buku tersebut merupakan sebuah kesalahan Al-Ghazali  dalam menginterpretasikan pendapat para filosof muslim terutama ibnu Sina dan Al-Farabi. Al-Ghazali menolak pemikiran liberal, bahkan memberi label kafir terhadap kedua filosof muslim tersebut.

Seperti inilah kaum taqlid memprolok-olok liberalisme Mereka menjadikan hujjatnya sendiri sebagai benteng pemikiran tanpa pemahaman yang jelas. Justru orang-orang seperti inilah yang patut dicap memiliki beberapa kepentingan hedonis baik berupa politik, agama dan popularitas. Sebab, mereka yang mempertahankan ideology taqlid tidak akan memberikan kesempatan pada kalangan lain untuk menonjol.

Tanpa mereka sadari gelagat latah menyatu pada diri mereka sendiri. Tiap tahun, bulan, minggu, hari, jam, menit dan detik mereka selalu mengikuti tradisi. Ciut nyali untuk melepaskan belenggu, padahal di pikiran mereka ingin lepas. Hati kecil mereka sebenarnya membenarkan liberalisme, tapi mereka menentang liberal demi komunitas. Ini merupakan sebuah tanda adanya kematian zaman.

Beruntung ibnu Rusyd dalam bukunya Tahafut al Tahafut mampu membuktikan kerancuan pemikiran Al-Ghazali yang jelas-jelas keliru. Ibnu Rusyd menjelaskan bahwa pendapat Al-Ghazali tidak didukung dengan argument yang logis dan terlalu terpaku pada tekstual al-Qur’an. Sedangkan al-Qur’an tidak menjelaskan demikian. Jika kita amati, pertentangan pemikiran antara filosof muslim yang rasional dengan teolog muslim yang tekstual adalah sebuah kewajaran. Kita mengetahui bahwa tidak ada manusia yang sempurna seutuhnya.

Liberal Itu Perlu

Jika kita tengok kembali, sebenarnya pemikiran liberal tidak bermula pada barat atas meletupnya renaissance di Eropa. Pemikiran liberal telah muncul jauh-jauh hari sebelumnya justru dari dunia timur. Siapa yang tidak kenal Al-Kindi, ibnu Sina, Al-Farabi, ibnu Rusyd dan para filosof muslim lainnya di dunia timur. Orang-orang barat hanya mengadopsi pemikiran mereka melalui transit bahasa.

Lebih jauh lagi kita tengok filsafat Yunani. Kita akan mengenal filosof seperti Sokrates, Aristoteles dan Plato yang pemikirannya menjadi rujukan filsafat Ibnu Sina dan Al-Farabi. Kedua filosof muslim itu mengembangkan pemikiran mereka melalui Emanasionisme tentang adanya Tuhan.

Melalui teori emanasi tersebut, dengan lincah dijelaskan bagaimana kadimnya Allah serta proses penciptaan alam semesta melalui pancaran akal-akal Allah. Mereka memadukan antara filsafat dengan agama. Bukankah hal itu merupakan perpaduan antara akal dan wahyu yang sempurna?

Seandainya tidak ada pemikiran liberal yang demikian, kelangsungan Islam tinggal menunggu kematian seiring wafatnya Rasulullah. Karena akal-Akal Manusia lumrah tidak akan menerima kebenaran begitu saja. Akal-akal akan terus berfikir mencari pembuktian yang nyata.

Liberal itu perlu, demi sebuah keadilan yang sebenar-benarnya. Hak manusia perlu diperjuangkan. Bukankah pemikiran liberal pada renaissance di Eropa dan The Bouston Tea Party di Amerika membawa dampak positif terhadap perkembangan zaman pada waktu itu?

Marilah kita membuka mata. Liberal bukan berarti kebebasan yang tanpa arturan. Justru pemikiran liberal itu bermaksud mencongkel tradisi taqlid yang selama ini terlalu lama mengungkung keadilan, membebaskan manusia dari keterpurukan. Liberal adalah kebebasan berfikir yang wajar.[]