Banthe Dhammasubho Mahatera: Budaya yang Pertama Lahir di Dunia Yaitu Budaya Timur

0
220
Banthe Dhammasubho Mahatera saat mengisi acara “Semarak Cap Go Meh 2017” di Balaikota Semarang. (19/02/2017) (Dok: Justisia)

Semarang,Justisia.com- Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Provinsi Jawa Tengah di dukung Luwak White Koffie menyelenggarakan acara perayaan Semarak Cap Go Meh 2017 dengan tema Pelangi Budaya Merajut Nusantara di halaman Balai Kota Semarang, Minggu (19/2).

Acara dimeriahkan pertunjukan kesenian tradisi Tionghoa, seperti Barong Shai, tarian naga dan lagu-lagu berbahasa Mandarin. Selain tokoh lintas agama, acara ini juga dihadiri oleh Duta Besar Indonesia untuk Rusia, Mohamad Wahid Supriyadi.

Dalam puncak acara perayaan Cap Go Meh ini, panitia menghadirkan sejumlah tokoh lintas agama sebagai narasumber dalam dialog kebangsaan. Marga Singgih seoarang pengamat kebudayaan Tionghoa yang memberi penjelasan seputar sejarah hadirnya kaum Tionghoa di Indonesia. Bhante Dhammasubho Mahatera, seorang Biksu menyatakan bahwa budaya yang tertua di dunia yaitu budaya Timur, termasuk di antaranya budaya Nusantara.

Budaya yang pertama lahir di dunia yaitu budaya Timur, yaitu dari China, India dan Jawa, bahkan jauh sebelum Barat mulai memulai peradabannya. Oleh karena itu, Indonesia sebagai bagian dari negaraTimur, harus merasa bangga dengan budaya sendiri. Tetapi hal ini bukan berarti saya menolak pembaharuan atau mengesampingkan budaya lain, tetapi hendaklah kita berbangga karena Indonesia merupakan negara yang berbudaya. Kata Banthe.

Sementara itu Romo Aloysius Budi Purnomo Pr sangat mengapresiasi perayaan Cap Go Meh, yang baginya ini merupakan sebuah bentuk rasa syukur atas cahaya persaudaraan yang terjalin dalam masyarakat.

“Kalau kita sudah hidup di Indonesia yang multi budaya, maka kita tidak boleh lagi membuat sekat-sekat diskriminasi dalam hidup bermasyarakat. Kita harus hidup bersaudara satu sama lain. Jelas Romo Budi. (j/fifi)