Bahasa Ngapak Bahasa “Wong Ndeso”?

0
346
(sumber: nationalgeographic.co.id)
(sumber illustrasi: nationalgeographic.co.id)

Bahasa adalah suatu alat atau sarana untuk berkomunikasi antar manusia berupa sistem lambang bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yaitu dengan menggunakan mulut. Setiap kata dari bahasa yang diucapkan mempunyai makna yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan kita.

Di setiap negara mempunyai berbagai macam bahasa. Salah satunya di Indonesia sendiri, ada sekitar 750 bahasa yang merupakan bahasa daerah. Apa itu bahasa daerah? Bahasa daerah atau yang biasa disebut dialek, bahasa tradisional, bahasa ibu atau bahasa etnik ini adalah bahasa yang digunakan atau dikonsumsi suatu wilayah negara yang relatif kecil. Karena bahasa daerah bukan merupakan bahasa resmi yang digunakan disuatu negara. Disetiap wilayah di Indonesia memiliki gaya bahasa daerah masing-masing. Ada bahasa daerah Sunda, Batak, Melayu, Betawi, Jawa, dan sebagainya.

Tidak hanya makanan khas, tarian khas, pakaian khas daerah. Bahasa juga memiliki kekhasan pada masing-masing daerahnya. Seperti yang satu ini, yaitu bahasa ngapak. Anda mungkin tidak asing lagi dengan bahasa yang satu ini, mungkin juga sering menjumpai orang-orang yang berbahasa ngapak. Salah satu bahasa daerah yang digunakan oleh mayoritas masyarakat yang terletak di Jawa Tengah bagian barat. Mulai dari Cilacap, Tegal, Kebumen, Pemalang, Purwokerto, Purbalingga, dan sekitarnya.

Bahasa ngapak mempunyai ciri khas tersendiri yaitu menggunakan huruf a, contoh : sapa (siapa), ana (ada), pira ( berapa), maca (baca), dan sebagainya. Ciri khasnya lagi, jika orang mengucap saya bahasa ngapaknya nyong, contoh : nyong apan maring pasar (saya mau pergi ke pasar. Masyarakat yang tidak terbiasa mendengar orang berbahasa ngapak pasti akan tertawa, dengan mendengar bahasanya yang unik dan gaya bahasa, logat, atau dialeknya yang lucu.

Saya sendiri salah satunya orang yang menggunakan atau mengkonsumsi bahasa ngapak. Ya, ngapak adalah bahasa daerah yang sudah tertanam dan mendarah daging didalam diri saya. Karena sejak kecil saya sudah mengkonsumsi bahasa ngapak ini. Jadi kalau saya disuruh ngomong bahasa Indonesia tetap saja dialek atau logatnya ngapak. Contohnya saat saya presentasi dikelas, walaupun saat presentasi menggunakan Bahasa Indonesia tetap saja logat saya logat ngapak. Dibuly teman-teman kuliah adalah hal yang biasa bagi saya, karena mereka mengganggap saya itu lucu kalau lagi ngomong ngapak.

Menurut saya, bahasa ngapak adalah bahasa yang unik, lucu dan sesuatu yang harus dilestarikan. Tak heran terkadang mendengar orang berbahasa ngapak merupakan hiburan tersendiri, bahkan tidak jarang bahasa ngapak menjadi bahasa lelucon. Namun yang disayangkan terkadang dikalangan mahasiswa sendiri menggunakan bahasa ngapak itu malu untuk digunakan. Mereka kurang percaya diri menggunakan bahasa ngapak saat bergaul dengan yang lain dan lebih memilih menggunakan Bahasa Indonesia. Mungkin mereka menganggap bahwa bahasa ngapak itu bahasa yang istilahnya ndeso.

Padahal bahasa ngapak adalah salah satu bahasa yang harus dijaga dan dilestarikan. Sebab, bahasa ini adalah salah satu ciri khas bahasa yang dimiliki Indonesia. Jika, kita sebagai masyarakat yang memang mengkonsumsi bahasa ngapak malu untuk menggunakannya. Lalu siapa yang akan melestarikan bahasa ngapak ini. Jangan karena dianggap bahasa ndeso lalu tidak mau mengkonsumsinya lagi.

Cara kita menjaga bahasa ngapak ini agar tetap terjaga, dengan tetap mengkonsumsi bahasa ngapak. Pintar-pintar kita saja menempatkannya. Jika kita berbicara disebuah forum kita tetap menggunakan bahasa Indonesia. Namun saat kita berada di luar forum, entah saat kita sedang bergaul dengan teman-teman kuliah ataupun yang lain kita bisa menggunakan bahasa ngapak.

Maka dari itu, alangkah baiknya kita yang sebagai masyarakat yang memang konsumsinya bahasa ngapak, tetap membudayakan bahasa ngapak. Agar bahasa ini terus membudaya sampai anak cucu kita nanti dimasa depan. Yang menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Jawa Tengah.

 

(Naela Aziza)