Akhmad Arif Junaidi; Memahami Al-Qur’an dengan Pendekatan Sejarah

0
364
Dekan Fakultas Syari’ah dan Hukum Arif Junaidi Memaparkan Pemikiran Fazlur Rahman pada acara Workshop Ismaic Studies di gedung M2 kampus III UIN Walisongo Semarang (16/02/2017) (doc: Justisia)

JUSTISIA.COM, melanjutkan pembahasannya dengan tokoh Fazrul Rahman. Fazrul Rahman adalah salah satu tokoh pemikir muslim kontemporer berasal dari Pakistan. Pemabahasan Fazrul Rahman disampaikan oleh Arif Junaedi yang sedang menjabat sebagai dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo Semarang. Mengawali pembahasannya, Arif Junaedi mengenalkan kehidupan Nabi Muhammad saat berdakwah, menyampaikan ajarannya, Kamis, (16/02/17).

7 Masehi, di Arab Saudi banyak kejadian-kejadian. Ketika pertama kali menyampaikan Islam, Nabi Muhammad di hina. Kemudian surat Al-Lahhab itu turun sebagai respon, setelah Nabi dihina oleh Abu Jahal dan Abu Lahab. Yang dihina itu bukan Nabinya, tetapi ajarannya. Ini kalau tau ya, tidak seperti demo-demo yang kemarin. Karena Nabi sejak pertama kali sudah sabar, dan dapat dipercaya. Jelas Dekan Fakultas tersebut, yang bertempat gedung M.2 Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo.

Arif menjelaskan bahwa, menurut Fazrul Rahman, Al-Quran itu respon Tuhan terhadap pristiwa-pristiwa yang terjadi di semenanjung Arabiya, Respon sejarah, maka menurut Rahman untuk untuk memahami al-Quran adalah penedekatan sejarah. Maka mau tidak mau kita harus memahami aspek sejarah, turunnya itu seperti apa. Mencari ideal-moral, kemudian dikontekskan ke masa kini. Ini yang dinamakan double movement.

Ditengah pembicaraannya, Arif Junaedi mengkritik kelompok-kelompok Islam tertentu yang hanya menafsirkan secara tekstual dalam memahami al-Quran. Berbeda dengan Fazrul Rahman, dalam memahami al-Quran melihat sejarah dan proses turunnya ayat.

Sekarang itu ada kelompok-kelompok tertentu. Kalau kita tahu ada Felix Shaw, Bahtiar Nasir, yang meyakini 2024 akan terbentuk khilafah. Kalian lihat saja di Youtube. Ini akan ada perang konvensional. Makannya mereka melatih memanah dan berenang. Mereka beranggapan bahwa alat-alat canggih tank dan sebagainya tidak akan bisa difungsikan lagi. Jadi kalau khilafah 2024 Saya belum pensiun dari UIN, karena saya pensiun tahun 2035, ungkap Arif Junaedi. (j/J)