Al-Qur’an dan “Jalan Raya”

0
201

Oleh: Lismanto*

Al-Qur’an merupakan wahyu yang diturunkan Tuhan kepada umat manusia di bumi melalui nabi Muhammad dengan perantara malaikat Jibril. Al-Qur’an diklaim sebagai petunjuk kehidupan manusia yang bersifat universal. Artinya, Al-Qur’an bukan merupakan devine law yang “diperkosa” agar sesuai dan selaras dengan kepentingan dan problematika manusia di bumi, tetapi hemat saya, Al-Qur’an didesain Tuhan sedemikian rupa agar dapat berlaku dinamis: tak lekang oleh dimensi tempat, waktu, situasi dan kondisi.

Hanya saja, interpretasi manusia terhadap Tuhan saja yang seolah Al-Qur’an bersifat universal, tetapi pada level implementasi Al-Qur’an menjadi kaku, rigid. Banyaknya “pemerkosaan” teks-teks Al-Qur’an sebagai pemecah problem (problem solver) kehidupan manusia inilah yang justru membuat citra Al-Qur’an bak “monster” menakutkan, bak “makhluk” yang tak mau beradaptasi dengan segala macam tempat, bak “makanan” yang mudah basi, dan bak “diktator” yang tak mengerti situasi-kondisi.

Padahal, Al-Qur’an adalah sebuah buku besar mahakarya Tuhan yang didesain dinamis-universal yang secara transenden berada di Lauh al-Mahfudz (baca: perpustakaan Tuhan) yang kemudian di-profan-kan di bumi manusia, dan dikodifikasikan oleh Zaid Bin Tsabit pada masa Usman Bin Affan. Al-Qur’an bak sebuah benda elastis yang dapat ditarik kesana-kemari, dapat ditarik di Arab, dapat ditarik di Indonesia, Amerika, Eropa, Australia, Asia, dan dapat ditarik di pelosok penjuru dunia yang tak terjamah manusia sekalipun. Ia mencair ketika diletakkan di air, ia memadat ketika dicampur benda padat, ia menguap ketika digesekkan dengan udara. Artinya, Al-Qur’an senantiasa progresif-dinamis dalam bercengkerama dengan kehidupan manusia.

Al-Qur’an, jalan raya dan sepeda motor

Berkontemplasi dengan “perilaku” Al-Qur’an dalam bermasyarakat dengan manusia tersebut, tiba-tiba saja penulis melihat benang merah konotatif antara Al-Qur’an, jalan raya, dan manusia yang berkendara di dalamnya. Gagasan itu muncul saat penulis bergulat dengan akal memahami substansi Al-Qur’an dalam bermasyarakat dengan manusia di bumi ketika berkendara sepeda motor.

Al-Qur’an merupakan “sepeda motor” yang mau tidak mau harus berhubungan dengan “jalan raya”, karena sepeda motor tidak akan diakui eksistensinya apabila tidak ada jalan, fungsi sepeda motor akan hilang kalau tidak ada jalan. Sementara “jalan raya” inilah yang disebut lokus (tempat). Waktu adalah momentum berkendara, situasi-kondisi adalah kepadatan berkendara di jalan, manusia adalah pengendara.

Di jalan raya pantura, kita berkendara dengan kecepatan 80 km/jam adalah hal yang lumrah, sebab jalannya lebar. Sementara di jalan raya biasa, kecepatan 60 km/jam dinilai sangat cepat dan membahayakan pengendara lainnya sebab jalannya sempit dan banyak pengendara lain. Bahkan di jalan di pedesaan, kecepatan 60 km/per jam itu mustahil mengingat jalan yang begitu sempit dan yang berkendara tidak ia semata, dan justru mengharuskan kecepatan 20 km/jam. Dan apabila dipaksakan untuk berkecapatan tinggi, maka hal itu menjadi abnormal dan membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Seperti menempatkan Al-Qur’an dalam suatu ruang, waktu, dan kondisi tertentu, harus mempertimbangkan apa dan bagaimana suatu ruang-waktu-kondisi tersebut. Kecepatan 80 km/jam tidak bisa dipaksakan di jalan raya sempit di pedesaan, atau justru kecepatan 20 km/jam sangat mengganggu apabila diterapkan di jalan raya pantura atau jalan tol karena pengendara lain berkendara dengan kecepatan tinggi.

Di sini peran manusia sebagai pengendara berperan penting dalam menentukan kecepatan berkendara. Maka, manusia sebagai penafsir Al-Qur’an harus mampu menempatkan Al-Qur’an dalam ruang-waktu-kondisi tertentu; manusia sebagai pengendara harus mampu menempatkan sepeda motor dalam jalan yang sesuai dengan tempatnya; agar tidak dianggap abnormal, berbahaya bagi diri sendiri maupun orang lain. [j]

*) Lismanto, Direktur Lembaga Studi Justisia Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang