Aksi Damai Mahasiswa Walisongo Untuk Selamatkan Slamet

0
309
Peserta aksi damai untuk Gunung Slamet di depan kantor gubernur Jawa Tengah. Kamis (26/10). Foto: ulin.doc

 

Peserta aksi damai untuk Gunung Slamet di depan kantor gubernur Jawa Tengah. Kamis (26/10). Foto: ulin.doc

Justisia.com – Ratusan Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Selamatkan Slamet Walisongo (ASSW) melakukan aksi damai didepan kantor gubernur Jawa Tengah terkait penolakan pendirian Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) oleh PT.Sejahtera Alam Energy (SAE) di lereng Gunung Slamet Banyumas, Kamis (26/10).

Dalam aksinya aliansi yang terdiri dari berbagai macam organisasi kedaeraham mahasiswa itu, menyuarakan menolak berdirinya pabrik PLTBP di lereng Gunung Slamet.

“Kami mewakili masyarakat Tegal menyatakan tidak setuju atau menolak sepenuhnya terhadap pendirian PLTPB tersebut. Kerugian dan kerusakan dilokasi pendirian PLTB sudah di rasakan oleh masyarakat,” kata perwakilan dari mahasiswa Tegal, Wildan saat diwawancarai oleh reporter Justisia.com di lokasi aksi.

Keinginan para mahasiswa untuk menemui Gubernur Jateng Ganjar Pranowo tidak membuahkan hasil. Pasalnya disaat yang bersamaan Ganjar Pranowo sedang melaksanakan rapat dengan jajarannya di kantornya.

Dikutip dari Pres Release, hasil negosiasi yang dilakukan oleh beberapa anggota aksi tersebut menghasilkan pernyataan bersalah dari PT.SAE dan menyepakati bahwa PT.SAE untuk melakukan reboisasi di lokasi yang telah mereka buka.

“Mengenai apa yang jadi tuntutan, persetujuan bahwa PT.SAE telah melakukan kesalahan dalam melaksanakan eksplorasi hutan. Jadi akibat dari sungai-sungai yang tercemar airnya itu memang kesalahan resmi dari PT.SAE dan sudah disepakati oleh pihak pemprov dan PT.SAE telah melakukan kesalahan. Dan sudah dilakukan teguran serta menuntut dalam rentan waktu 16 hari setelah teguran untuk melakukan reboisasi,” ungkap koordinator Aksi dan salah satu anggota negosiator, Hakim.

Meskipun tuntutan mahasiswa untuk mendesak PT.SAE mengakui bersalah atas aktivitasnya sudah terpenuhi namun beberapa dari mereka masih kecewa lantaran tidak bisa Menemui Gubernur secara langsung.

“Kita merasa belum puas dengan aksi kali ini pasalnya gubernur tidak dapat menemui secara langsung peserta aksi solidaritas kita. Padahal harapan kita gubernur dapat hadir dan melangsungkan dialog dengan peserta aksi untuk mendengarkan aspirasi yang kami sampaikan,” tutur korlap aksi, Arifudin.

Selama aksi damai berlangsung pantauan tidak terjadi aksi anarkis dari mahasiswa, sehingga arus lalu lintas tetap berjalan normal, puluhan aparat kepolisia juga terlihat berjaga di gerbang masuk kantor gubernur Jawa Tengah. (Red:uln,azz,umm/ed:Muft)