Agama, Reformasi dan Urusan Moral

0
180
suaramahasiswa.info
suaramahasiswa.info
suaramahasiswa.info

Oleh : Jaedin Al Barbazy

Kebangkitan nasional adalah kebangkitan kita sebagai rakyat Indonesia. Seluruh masyarakat yang ada harus tertanam dalam jiwa serta ghiroh yang mendalam untuk  cinta terhadap negaranya sendiri. Indonesia adalah rumah kita bersama. Implementasi dari kecintaan itu sendiri mengakui adanya  keberagaman, budaya, agama, ras, dan suku. Ini yang harus kita cintai adalah satu yaitu Indonesia. Untuk itu,  mari kita pikirkan, Indonesia adalah rumah bersama untuk semua lapisan masyarakat yang beragama.  Jika rumah sendiri tidak pernah dicintainya, maka rumah itu akan rusak, kumuh, bobrok, dan rusak. Kita analogikan dengan negara seperti  rumah disamakan dengan bangsa Indonesia yang memuat sekian banyak penduduknya. Indonesia harus kita cintai, dijaga bersama dari serangan-serangan yang mengancam negara kita sendiri.

Kita harus mengakui bahwa para pejuang nasional melawan penjajah kolonial tak pernah menyerah dan tak takut mati. Perjuangan ini tidak mudah, untuk merebut kekuasaan kolonial mulai dari penjajah Belanda selama 350 tahun kemudian dilanjutkan Kolonial Jepang selama 3,5 tahun.  Bagaimana untuk merebut tanah air ini dari orang asing yang “menguasai” negara dan rakyat kita. Harus bangga dan menghargai atas perjuangan mereka. Perjuangan dulu di zaman kolonial adalah perjuangan yang nyata, melawan fisik, gerakan senjata, dan medan pertempuran. Sekarang kita sedang perang ideologi, teknologi, dan informasi.

Filosofi sederhananya siapa yang pintar bermain dan mempermainkan maka dia yang berkuasa.  Ketiga  bentuk ini menjadi satu-kesatuan. Dimana ideologi termuat dalam sebuah alat canggih yang sudah berbentuk informasi yang siap disajikan kepada masyarakat untuk dilahap. Doktrin tersebut disebar dan sudah termuat dalam media. Sehingga masyarakat siap mengkonsumsinya. Apa hubungannya antara nasionalisme dan media sosial sebagai lahan penyebaran ideologi.

Ideologi yang menyerang masyarakat untuk dijadikan kosumen  untuk tidak mencintai negaranya. Mengganti konstitusi negara, Pancasila, dan Bhineka Tunggal Ika. Ini akan membahayakan negara kita sendiri dari kehancuran.

Kehawatiran atas NKRI yang tidak akan utuh lagi, jika masyarakatnya saja tidak mengakui NKRI yang ber-ideologikan pancasila. Negara yang demokratis humanis ini, banyak kelompok-kelompok tertentu yang ingin menggantinya  dengan ideologi aliran tertentu.

Jasa Reformasi Untuk Agama

Untuk itu, kita harus mengenal sejarah terlebih dahulu, berdirinya organisasi non pemerintan (Non-Government) dilahirkan dari rahim reformasi.  Setelah era-Presiden Suharto lengser, masyarakat semarak dengan kebebasan berekspresi dengan menjalankan organisasi sesuai kepentingan masing-masing.  Atas jasa demokrasi lah mereka bisa hidup berkembang. Maka pertantaanya, apakah mereka berpikir atas eksisnya suatu ormas disebabkan karena demokrasi?  Realitanya, dalam perjalanan reformasi terdapat ormas-ormas yang ingin menumbangkan demokrasi.

Mengutip dari artikelnya Gus Dur tentang “Islam dan Kebangsaan”, Presiden ke-4 Republik Indonesia mengacu pada  desertasinya Nurcholis Madjid mengenai penting atau tidaknya umat Islam mendirikan negara Islam.  Dalam kitab Bughyat al-Mustarsyidin, Ibnu Taimiyah  menyatakan tidaklah wajib negara Islam didirikan, meskipun tidak melarangnya. (Abdurrahman,2015 :275).

Ormas-ormas keagamaan mainstream seperti,  NU dan Muhammadiyah yang mengedepankan Islam dan kebangsaan melalui slogan islam berkemajuan dan islam nusantara.   

Indonesia adalah negara dengan ideologi final pancasila yang sudah mengakar pada  masyarakat. Maka tidak lepas untuk memperhatikan bagaimana hubungan agama dan negara. Sejauh mana peran agama untuk negara, dan agama untuk negara.

Ontologi keduanya mempunyai peran yang sama. Dimana agama mengajarkan moral, tidak rakus, hidup tidak berlebih-lebihan dan sebagainya. Negara memberikan fasilitas tempat ibadah, memberikan ruang ekspersi masyarakat untuk saling berkomunikasi tanpa memandang suku,agama, dan golongan.

Namun fungsi agama  sebagai pengajar moral “berubah” dengan penampilan pemimpin yang rakus, memperkaya diri, korupsi. Jauh dari  moral-moral dan akhlak yang baik untuk bisa menjadikan negara kita berkemanusiaan dan peradaban yang baik. Kemelakatan agama dan pemeluknya jauh dari sudut pandang untuk memperbaiki peradaban dan kemanusian.

Umat yang seharusnya meniru perilaku pemimpin, seperti kehilangan anak kehilangan induknya. Agama yang diharapkan mencerahkan moral justru menggelapkan. Abad ke-21 yang digadang-gadang kebangkitan agama belum mencakup subtansi-subtansi ajarannya.  Masih berhenti pada tataran formalitas dan mengikuti keumuman.

*Penulis adalah mahasiswa asal Brebes-Jawa Tengah