Ada Getuk?

0
55
Sumber foto: ResepKoki

Oleh: Nisrina Khairunnisa

Rasanya, baru setahun aku ditinggal mati oleh suamiku. Namun bayang-bayangnya masih saja menghampiriku. Telah kusia-siakan hidupku dengannya. Sungguh ku menyesal, karena aku belum bisa menjadi istri yang mampu melayani suami. Bahkan ketika aku mengandung, sesekalipun aku tak pernah melayaninya.

Dayang Sumbi namaku. Di umurku yang ke-40 wajahku seharusnya sudah mengkerut dan tak lagi muda. Namun mengapa wajahku seperti perawan umur 20-an? Apa mungkin aku akan awet muda? Banyak lelaki yang hampir tiap hari datang ke rumahku, lantaran ingin melamarku. Namun ku urungkan niatku untuk bisa jatuh cinta lagi dengan seorang pria karena kesetiaanku yang masih melekat pada suamiku.

Terdengar dering ponselku yang menandakan ada pesan Messenger masuk. Tak lama kemudian nada Line, dan Instagram pun juga masuk. Mereka saling bersahut-sahutan. Dan sudah kuduga, mereka para pria yang suka mengirimiku pesan, dan mengajakku untuk dating. Ah sudahlah, aku selalu mengabaikannya. Aku hanya membalas pesan dari pelanggan yang akan memesan Getuk kepadaku.

Ya, usaha gethuk telah kujalani saat setelah suamiku meninggal. Mungkin hanya bakat itu yang bisa aku kembangkan. Alhamdulillah, usaha itu berjalan lancar, dan sukses. Bakat itu telah muncul saat anakku menghilang, namanya Sangkuriang. Sangkuriang pemberian nama oleh suamiku. Entah mengapa, aku sangat rindu dengannya. Dua puluh tahun sudah ia mengembara, aku hanya bisa membayangkan. Pasti wajahnya sangat tampan. Bahkan menjadi primadona para kaum hawa.

Kilas balik tentang Sangkuriang, aku tak diperbolehkan suamiku untuk mencarinya. Saat itu, ia baru berumur delapan tahun. Ia telah didiagnosa oleh dokter bahwa Sangkuriang mengidap penyakit gangguan jiwa, yang disebut Skizofrenia. Sampai saat ini, aku tak tahu apa penyakit itu. Hanya suamiku yang tahu, namun belum sempat memberitahuku, suamiku telah meninggal. Dan juga tidak ada tanda-tanda dari Sangkuriang, bahwa ia mengidap penyakit yang sangat serius. Yah, aku harap anakku tidak mempunyai penyakit yang sangat serius.

 

***

 

Gethuk asale saka telo

Mata ngantuk iku tambane opo?

Ach, ach halah getuk asale saka telo

Yen ra pethuk atine rada gelo

Suara dentuman tumbuk-tumbuk dari dalam gubuk mengiringi lagu campur sari itu. Terdengar Mbok Sri yang sangat lihai dalam melantunkannya. Mbok Sri adalah satu-satunya orang yang tinggal bersamaku. Semua wasiat, rahasia, dan primbon-primbon jaman dahulu, ialah kuncinya. Namun, ia tetap saja mengunci mulutnya untuk bercerita padaku tentang anak dan kematian suamiku.

“Dayang Sumbi! Mrene ndhuk aku arep ngomong penting iki,” ucap Mbok Sri saat kembali ke dalam rumah.

“Nggih, Mbok.” Jawabku dengan membenarkan rambutku yang terurai. Sambil membungkus getuk-getuk yang telah masak, Mbok Sri masih saja melantunkan lagu-lagu Didi Kempot. Berbeda denganku, di umurku yang ke-40 ini, Rossa tetap menjadi penyanyi idolaku. Lagu-lagunya sangat memukau. Seperti Sakura, Pudar, Ku Menunggu, dan masih banyak lagi.

“Ndhuk, sampeyan opo ora kangen karo anakmu, Sangkuriang? Kok sepertinya dirimu mengharapkan ia kembali, walaupun suamimu memang tidak mengizinkan kamu mencarinya? Mbok Sri ngerti opo sing mbok karepake. Seorang ibu pastinya punya naluri yang kuat dengan anaknya. Apalagi sudah dua puluh tahun lho”, tukas Mbok Sri dengan mengunyah kinangnya.

“Duh Mbok, ya pastinya Sumbi sangat kangen dengan Sangkuriang. Tapi apa ndak salah kalau Sumbi mencarinya? Bukannya Mbok Sri bilang kalau dia itu berbahaya? Aku ini ibunya Mbok, dan seharusnya aku mengasihinya dengan kasih sayang. Mengapa harus dilarang?,” jawabku dengan mata yang berkaca-kaca.

“Ya itu lho yang Mbok takutkan. Jika dia kembali dia akan menghancurkan semuanya. Namun sepertinya, dia pasti sudah sembuh dari penyakitnya. Karena dia sudah menjadi joko dan sebentar lagi dia akan mempunyai istri. Apa kamu tak ingin punya menantu dan cucu? Tapi mbok akan bersikeras untuk melarangmu mencari Sangkuriang. Karena ini petuah dari suamimu, ndhuk. Namun, suatu saat Mbok pasti akan membantumu untuk bertemu dengan Sangkuriang,” tandas Mbok Sri, seraya mengelus-elus rambutku.

 

***

Daun yang jatuh berguguran, menandakan akan berakhirnya musim panas. Di tengah derasnya hujan, telah tersuguhkan secangkir teh hangat yang harum baunya, ditemani iringan-iringan lagu jazz yang mendamaikan hati. Terdengar sangat mudah diingat di telinga.

Deras-deras begini saja, pelanggan getukku membanjiri tokoku. Tak hanya orang lokal saja, namun turis pun juga ikut menjajakan diri bersinggah di pabrikku. Sungguh membanggakan sekali usahaku ini. Di depan jendela, aku hanya berlihai-lihai dan menonton pegawai-pegawaiku yang tengah mengarahkan bagaiamana proses membuat getuk yang sangat lezat.

Suasana di dalam rumah sangat lengang, dan aku pun terkejut ketika pegawaiku mengetuk pintu rumah. Segera aku berjalan menuju pintu untuk membukanya.

“Selamat siang, Nyonya. Maaf jika mengganggu kenyamanan anda. Saya hanya ingin mengantarkan pemuda ini, karena dia ingin sekali bertemu dengan anda,” tukas pegawaiku seraya menunjuk pemuda yang ada di belakangnya.

“Oh, biarkan dia masuk ke dalam rumahku. Tapi tolong cek isi-isi yang ada dalam tasnya. Karena saya tidak ingin ada hal yang berbahaya di dalam rumah, okay?” Jawabku dengan sikap yang hati-hati.

Dari belakang, pemuda itu sungguh muda dan terlihat tampan. Mungkin umurnya sekitar 20-an. Ia memakai kaos hitam dengan celana Jeans yang modis ditambah dengan style rambutnya yang mungkin mirip Boyband Korea. Uh, sangat memukau sekali sepertinya pemuda itu. Namun aku harus tetap istiqomah pada pendirianku. “please ya, Sumbi! ingat umur, dong!” kilahku dalam batin.

“Permisi, perkenalkan nama saya Sangkuriang. Anda pemilik usaha getuk terlaris ini ya?” tanya pemuda yang real tampannya.

“Hah? Sangkuriang? Apakah dia anakku Sangkuriang? Tapi kenapa tidak mengenaliku? Ah pasti dia Sangkuriang lain. Mustahil sekali rasanya jika anakku datang ke rumahku,” ujarku dalam batin

“Eh, iya. Saya pemilik usaha getuk ini. Dayang Sumbi namaku. Ada tujuan apa kamu menemuiku? Apakah ada bisnis tertentu yang akan kamu tawarkan?,” jawabku seraya terkejut.

“Ah iya, Sumbi. Aku ingin bekerja sama dengan usahamu. Karena perusahaanku sedang mengadakan misi untuk seminar di Inggris tentang makanan tradisional di Indonesia. Maukah kamu menerima tawaran ini?” tanyanya dengan mata yang seolah membuat mataku terpana melihatnya.

Sudah so pasti, aku akan menerimanya dengan senang hati. Hati siapa yang tak bangga karena usaha kita dihargai orang dan diapresiasikan, apalagi yang menawarkan adalah dari perusahaan besar yang dipimpin oleh pemuda tampan seperti dia.

 

***

Lamat-lamat aku telah bekerja sama dengannya selama dua bulan ini. Tiap hari ia selalu mengunjungi rumahku, bahkan tengah malam pun ia selalu datang menemuiku. Hanya sekadar untuk makan malam di restoran. Aku bimbang, mengapa ia selalu memperhatikanku sebegitunya. Apakah ia tak tahu, jika sebenarnya aku ini adalah seorang janda yang ditinggal mati suaminya, bahkan kehilangan anaknya. Pasti ia beranggapan bahwa aku ini adalah wanita berumuran setara dengannya.

Mungkin ia adalah laki-laki yang kali pertamanya mengatakan bahwa ia mencintaiku dan segera mempersuntingku. Aku tersohok saat ia mengatakan kalimat-kalimat itu. Bahkan aku pun mengingkari janji suciku terhadap suamiku. Dengan cepat aku berkilah iya!.

Aku adalah sejahat-jahatnya wanita yang tak tau diri. Tapi jika aku tetap sendiri, selamanya pun aku juga kesepian. Tidak ada orang yang ingin hidup sendirian tanpa pendamping hidup. Karena itu adalah hal yang lumrah.

Dua bulan terakhir, adalah detik-detik berakhirnya aku seorang diri. Namun akhir-akhir ini, tak jarang aku menemukan keganjalan-keganjalan yang ada padanya. Mulai dari aku tak boleh menemui keluarganya, lalu aku tak boleh tahu menahu tentang kedua orang tuanya. Bahkan jika aku tanya tentang problematika keluarganya, ia selalu mengalihkan pembicaraan. Di sinilah aku mulai canggung.

Terdengar nada dering telepon di handphone ku. Lamunanku langsung saja buyar, saat Sangkuriang meneleponku. Hatiku mulai berdegup kencang. Dan aku berharap ia akan menjemputku dan memperkenalkanku dengan keluarganya.

“Halo cinta? Apa kabar?”

“Alhamdulillah, baik cinta. Ada apa? Tumben kok jam segini udah nelepon? Kangen ya? hehe.”

“Iya nih cinta. Aku ingin mengajakmu ke apartemenku. Bagaimana? Mau tidak?”

“Hah, Apartemen? Aku mau kok cinta, tapi kapan aku bertemu dengan kedua orang tuamu? Masa iya menjelang pelaminan kita, orang tuamu masih saja dirahasiakan? Itu kan gak boleh cinta”

“Cinta, kamu tenang aja. Aku gak bakal ngerahasiain kok. Secepatnya aku akan memperkenalkan kedua orang tuaku. Yang terpenting, sekarang ini kita senang-senang saja dulu. Ya sudah, dandan yang cantik ya cinta. Karena perusahaanku malam ini akan merayakan ulang tahun. Pakailah gaun yang telah aku belikan kemarin!”

Dengan sigap aku melangkahkan kakiku ke kamar mandi. Setelah itu, aku mulai pembersihan wajah, dan me-make up wajahku. Malam ini aku sangat yakin, pasti Sangkuriang akan terkesima melihatku malam ini.

Seusai berdandan, terdengar suara deru mobil di depan rumah. Dan sudah kuduga, pasti itu mobil Sangkuriang telah menjemputku. Dibukakan pintu mobil olehnya, aku duduk di kursi depan dan mobil pun segera meluncur ke apartemen.

Setibanya di apartemen, semua begitu mewah. Terlihat banyak sekali pengusaha-pengusaha besar yang datang. Mereka bersalam-salaman dengan Sangkuriang, dan sepertinya Sangkuriang sudah sangat terkenal di negeri ini.

Saat semuanya sedang menikmati makanan dan minumannya, tiba-tiba saja Sangkuriang menggeret tanganku dan berlari menuju kamar apartemen miliknya. Jujur saja, sebenarnya aku ingin menolak, karena kita belum terikat oleh janji suci. Namun karena melihat wajahnya yang pucat, dan sepertinya ia sakit.

“Sangkuriang, are you okay? Kamu kenapa pucat?” tanyaku dengan menyentuh-nyentuh wajahnya yang pucat

“Aku baik-baik saja, Sumbi. Tapi sedikit pusing dan sebentar lagi pasti aku akan demam. Tenang Sumbi, aku hanya kecapekan saja kok” jawabnya dengan nada rendah

Segera aku membaringkan tubuhnya di kasur, dan melepaskan sepatunya. Kuambil satu kain handuk, dan kurendamkan pada air hangat. Kutempelkan pada perut, dada, dan dahinya. Saat kutempelkan pada dahinya, deg! seketika itu aku langsung menjauh darinya. Aku melihat luka lebam di dahinya. Itu bukan luka baru, namun seperti luka lama yang membekas.

 

***

Aku lari tergopoh-gopoh, dan sesegera mungkin meninggalkan apartemen Sangkuriang. Ia pasti tahu, jika aku meninggalkannya. Dan pasti ia berusaha mengejarku. Aku harus sampai dahulu di rumah sebelum ia menangkapku. Aku akan ceritakan ini semua pada Mbok Sri.

Tepat jam 00.00, aku menggedor rumah, dan berteriak-teriak sembari memanggil Mbok Sri. Setelah beberapa menit aku menunggu di depan rumah, munculah Mbok Sri dengan kinangnya yang masih dikunyah.

“Ya Allah Gusti, Sumbi!. Kamu kenapa teriak-teriak sih? Nah, calon suamimu ning endi?” Mbok Sri memang belum tahu nama pemuda itu. Jika tahu, pasti dia akan mengira bahwa Sangkuriang adalah anakku. Tapi kenyataannya memang begitu. Sangkuriang yang aku cintai adalah anak kandungku sendiri.

“Mbok, aku ini wanita kotor. Pemuda yang selalu datang ke rumah, dan mengajakku pergi, ternyata dia Sangkuriang yang selama ini aku cari. Aku mencintai anakku sendiri, sedangkan anakku akan mempersunting ibunya sendiri,” balasku dengan tersedu-sedan.

“Sangkuriang? Kamu tak boleh menemuinya lagi Sumbi. Ia akan membalas semuanya. Kamu kenapa ndak pernah bilang sama Mbok? Kamu saja tak pernah cerita siapa namanya, berasal dari keluarga mana, siapa orang tuanya. Piye to ndhuk?” kilah Mbok Sri.

Luka lebam itu aku ingat! Bekas lukanya sudah dua puluh tahun yang lalu. Waktu itu, suamiku memukulnya dengan sebongkah batu yang lumayan besar. Beliau memukulnya karena Sangkuriang hampir menewaskan salah satu temannya di kelas. Dan sejak saat itu, Sangkuriang menghilang entah ke mana.

Pagi-pagi sekali, ketika aku membuka pintu gerbang, Sangkuriang tergeletak lemah. Memang benar, tadi malam dia benar-benar mengejarku. Apa yang harus aku lakukan saat ini? Dia anakku, dan aku sangat rindu padanya. Saat dia mulai sadar, aku mulai menjauh lagi darinya. Dan hendak masuk ke dalam rumah. Belum sampai aku menginjak rumah, tanganku digenggam erat olehnya.

“Sangkuriang, lepaskan tanganku!. Batalkan keinginanmu untuk menikahiku. Aku ini ibumu!. Kamu Sangkuriang yang selama ini ibu cari nak. Kamu harus tahu, saat ini ibu masih seorang diri, karena ibu masih ingin setia pada ayahmu. Sadarlah, Sangkuriang!. Aku ini ibumu!” ujarku seraya melepaskan genggaman tangan darinya.

“Sumbi! Mana mungkin kamu mempunyai seorang anak sepertiku. Padahal kamu sendiri masih muda. Atau jangan-jangan kamu ini wanita gila, dan juga terkutuk? Wajahmu tak kan bisa menua? Jadi selama ini kamu bohongi aku, jika kamu sudah bersuami dan mempunyai anak? Aku bukan anakmu, aku kenal kamu baru saat-saat ini Sumbi!” jawabnya dengan suara parau

Segera aku meninggalkannya, dan menutup pintu gerbang secepat mungkin. Aku menangis sejadi mungkin. Aku ini istri macam apa? Bahkan, aku ini ibu macam apa? yang tega membuang anaknya sendiri?

Kudapati pesan Line dari handphone ku. Meski aku sangat ogah untuk membukanya bahkan menjawabnya. Tapi siapa tahu itu pelanggan baru. Tak kusangka, sebuah pesan dari Sangkuriang. Bukan lagi nuansa yang romantis, melainkan sebuah ancaman, bahkan kutukan.

“Oh Sumbi, begitu indahnya tutur katamu, wajahmu yang mempesona, hingga aku terpikat olehmu. Bahkan ketika aku akan mempersuntingmu, mengapa engkau lari? Dan mengapa kau mendugaku sebagai anakmu? Setuakah engkau wahai Sumbiku? Oh, ternyata Sumbi ku seorang janda yang tak laku-laku. Dan kini aku yang memenangkannya.” Wanita macam apa kamu ini? Tak tahu berterima kasih kah? tenggorokanku mengering, dan mataku menatap nanar pada layar handphone.

“Bisakah kamu berhenti menggangguku Sangkuriang? Kamu anakku, dan aku ini ibumu. Sadarlah Nak! Luka yang ada di dahimu itu adalah bekas dari pukulan ayahmu. Apa kau tak ingat apa kesalahanmu saat itu hah?. Jangan sampai kau menjadi anak durhaka, Sangkuriang!” balasku dengan nada geram saat mengetik.

Mbok Sri terduduk dan bersandar di kursi goyangnya. Dan terlihat seperti takut akan sesuatu yang terjadi. Ketika aku mendekat, Mbok Sri masih saja melamun. Baru kusentuh tangannya, lamunan Mbok Sri buyar.

“Sumbi, Mbokmu ini takut. Karena Sangkuriang telah kembali. Dan kembalinya dia, adalah suatu bencana bagi kita. Tak hanya kita bahkan semua orang. Mungkin Mbok memang jahat kepadamu, karena tak memberitahu apa-apa tentang anakmu. Sumbi, Mbok hanya bisa memberikan surat ini kepadamu. Itu surat dari suamimu. Ia menulisnya saat detik-detik ajal menjemputnya,” ucap Mbok Sri dengan rasa penyesalannya.

Aku membuka surat usang itu, dan memulai untuk membacanya. Dari awal membaca, aku tak mampu membendung air mata. Bahkan di setiap hurufnya, aku selalu membayangkan betapa sakitnya suamiku saat menuliskan surat ini kepadaku.

Sayangku Dayang Sumbi. Ingatlah! kestiaanku tak kan pernah pudar sampai rasa sakitku ini hilang. Kau yang kusuka saat umurmu masih belia. Dan aku yang saat itu sedang menumbuk padi di sawah. Kau tahu sayangku, aku mencintaimu siang itu. Sumbi sayangku, maafkan aku karena telah meninggalkanmu. Aku tak ingin kau terlalu sedih karena melihatku yang kesakitan ini. Maka dari itu kutulis saja apa isi hatiku.

Sangkuriang anak kita, biarkan dia pergi mengembara ke negeri orang, dan jangan sekali-kali kau mencarinya. Dia sangat berbahaya di keluarga kita. Maka kutitipkan ia pada Paman. Kau tahu sayangku? Dia mempunyai penyakit yang sangat serius, walau tak nampak dari luarnya. Skizofrenia Paranoid namanya. Penyakit mental yang sangat kronis, disebabkan karena halusinasi, delusi, dan menciptakan prasangka dari pemikirannya sendiri. Di negeri Paman ia akan dirawat oleh seorang ahli psikiater, dan pasti ia akan sembuh. Namun, kau harus tetap hari-hati sayang, karena ketika ia beranjak dewasa, penyakit itu belum sepenuhnya hilang. Bahkan ia bisa bertindak membela diri terhadap orang-orang yang akan mencelakainya.

Demikian surat dariku sayang, ku harap kau tahu apa maksudku, jika kau ingin tahu kabar dari Sangkuriang, hubungilah Paman.

Begitu aku melipat lagi kertas usang itu, aku tersadar. Bahwa penyakit mental Sangkuriang belum sepenuhnya sembuh. Pasti dia akan mencelakaiku serta Mbok Sri. Namun dia anakku. Ya Allah apa yang harus aku lakukan?

Terdengar suara ricuh, sepertinya sumber suara itu berasal dari dalam pabrik. Dan benar, pabrik getukku sedang dalam masalah besar. Segera kuseret kakiku untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam sana. Aku melihat mobil Sangkuriang, pasti dia berada di sana. Dan kekacauan itu?

“Hai, Sumbi. Apa kabar? Kau tahu apa yang terjadi di dalam sana? Itu semua karena ucapanmu kemarin. Yang menolakku untuk menikah. Padahal kau sendiri sudah berjanji padaku, untuk menerimaku apa adanya?” bisiknya dari belakang pundakku.

“Sangkuriang! Jadi ini semua ulahmu. Baik jika itu yang kau mau. Aku akan menikah denganmu. Namun dengan satu syarat!” tukasku dengan tegas dan wajah yang tersenyum pongah.

“Wow!. Pakai syarat-syarat segala nih? baik! Apa itu syaratnya?” jawabnya dengan wajah yang bengis.

“Buatkan aku 10 ton getuk dan kumpulkan 100 orang fakir miskin dalam waktu semalam ini, dan bagikanlah getuk itu pada mereka!” ujarku dengan tegas

“Hahaha, dalam semalam ini? Memangnya tidak ada yang lebih berat lagi ya? Bahkan untuk membuatkanmu rumah dalam waktu semalam ini saja masih sisa waktunya. Baik, aku akan menerima persyaratanmu itu,” jawabannya selalu meremehkan.

 

***

Sepuluh jam berlalu, kini pabrikku disibukkan oleh Sangkuriang yang tengah membuat getuk seberat 10 ton. Aku tak bisa membayangkan apa mungkin seorang diri mampu membuat getuk hanya semalaman. Kecuali jika Sangkuriang dibantu oleh makhluk halus.

Rasa kantukku mulai menerjang. Aku memutuskan untuk kembali ke kamar dan menunggu 10 ton getuk jadi. Lelap sekali rasanya, hingga tak terasa matahari telah berada di ufuk timur. Suara bising di pabrikku juga sudah tiada. Apakah Sangkuriang berhasil membuat getuk sebanyak-banyaknya hingga beratnya 10 ton? Dan apakah ia berhasil mengumpulkan 100 orang fakir miskin?

Kutanyakan pada satpam yang berjaga-jaga tadi malam. Dan ternyata Sangkuriang benar-benar memenuhi persyaratanku. Artinya Sangkuriang memenangkan taruhanku, dan ia akan segera mempersuntingku. Jangan sampai ini terjadi! Tapi tunggu, aku mendapat sebuah pesan messenger dari Sangkuriang yang berbunyi “Ada Getuk?”.

Hahahaha, pesan macam apa itu? Perutku terasa geli saat membaca pesan tersebut. Dan satpam tadi malam menjelaskan kepadaku, bahwa Sangkuriang memang benar-benar berhasil mengumpulkan 100 orang fakir miskin. Namun hanya 99 orang saja yang mendapatkan getuk, dan satunya lagi tidak mendapatkan jatah, dikarenakan getuk sudah habis. Maka dari itu Sangkuriang mengirimiku pesan yang berbunyi “Ada Getuk?”