Abhan Misbah : Politik Uang Sudah Membudaya di Masyarakat

0
213
Para pembicarafoto bersama usai acara bedah buku "Jejak Pidana Pemilu di Jawa Tengah" di Audit 1 Kampus 1 UIN Walisongo (31/10/2016) (dok : FB M. Ngainirrichard)
Para pembicarafoto bersama usai acara bedah buku "Jejak Pidana Pemilu di Jawa Tengah" di Audit 1 Kampus 1 UIN Walisongo (31/10/2016) (dok : FB M. Ngainirrichard)
Para pembicarafoto bersama usai acara bedah buku “Jejak Pidana Pemilu di Jawa Tengah” di Audit 1 Kampus 1 UIN Walisongo (31/10/2016) (dok : FB M. Ngainirrichard)

Abhan Misbah berpendapat bahwa politik uang sudah mengakar di masayarakat Indonesia. “Pemilihan kepala desa di setiap daerah sudah dibumbui politik uang. Jadi pemilihan bupati, gubernur dan presiden mengikuti alur yang sudah ada, seperti budaya,” ucapnya ketika ditemui reporter justisia.com setelah menjadi pembicara dalam bedah buku Jejak Pidana Politik di Jawa Tengah di Audit I Kampus I UIN Walisongo, Senin (21/10/2016) pagi.

Dia menuturkan untuk mengubah pola pikir masyarakat yang sudah sedemikian rupa. Diperluakan sinergitas antar komponen masyarakat untuk perlahan merubah budaya masyarakat dalam politik uang dalam Pilkada serentak 2017.

“Salah satu komponen yang harus bergerak secara partisipatif adalah mahasiswa. Biasanya mahasiswa hanya melakukan tugas sebagai pengawas saat pemungutan suara berlangsung, seharusnnya sekarang ikut mendidik masyarakat agar menolak politik uang,” ujar Ketua Badan Pengawas Pemilu Jawa Tengah.

Pendidikan antikorupsi di masyarakat seringkali tidak berlaku secara menyeluruh karena tokoh masyarakat yang justru menyetujui perilaku koruptif.

“Bagi-bagi uang itu sama seperti sodakoh,” ujar Abu Rohmad sambil meniru ucapan salah satu tokoh masyarakat.

Konsep membagikan uang yang disamakan dengan shadaqoh justru mempermudah terjadi koruptif di masyarakat dan mengaburkan perilaku buruk itu sendiri. “Membagi uang untuk kepentingan tertentu disamakan dengan sedekah akan mengaburkan makna dari korupsi. Mana yang politik uang mana yang sedekah kejelasannya hanya pada setiap politisi,” tukas pria asal Jepara. (j)

Editor : Fadli Rais