PBAK 2018: Dana Minimalis, Tapi Fantastis

0
385
Presiden Dema U, Syarifudin Fahmi saat memberikan orasi kemahasiswaan di pembukaan PBAK 2018. Foto: Dok Justisia

Justisia.com– Pagi tadi, setelah pembukaan PBAK tahun 2018, Presiden Dewan Mahasiswa (DEMA) Universitas Islam Negeri Walisongo, Syarifudin Fahmi (23), menyatakan bahwa PBAK tahun ini adalah PBAK paling minimalis dan paling hemat sepanjang sejarah, dana tahun ini secara umum lebih sedikit daripada tahun kemarin.

“Untuk dana PBAK ini kita mandiri ya, jujur kalau boleh saya katakan secara anggaran PBAK tahun 2018 ini lebih sedikit daripada tahun kemaren, karena tahun kemaren itu mob ada anggarannya sendiri, kalau sekarang RKL nya itu tidak ada Mob, jadi untuk Mob sendiri kita mengambil dari saldo dari beberapa kegiatan yang lain, pos-pos seperti jas, pos-pos perlengkapan, pos kaos mahasiswa dan itu masih ada sisa, selanjutnya sisanya kita gunakan untuk Mob jadi tidak seperti tahun kemaren yang memang ada pos sendiri yang menyebut digunakan untuk Mob,”. Ungkap mantan DEMA Fakultas Syariah tahun ajaran 2016-2017 tersebut.

Ketika diwawancarai oleh reporter justisa, pria lulusan Tasywiquththullab Salafiyyah (TBS) ini tidak bisa mengungkapkan secara jelas mengenai nominal dana untuk PBAK “Karena ini sifatnya intim dan pribadi, yang jelas secara umum dana tahun lalu lebih besar daripada sekarang,”.

Aksi pom-pom mahasiswa baru. Foto: Dok Justisia

Minimnya anggaran yang ada, tak menghalangi Paper Mob (Man of Board) untuk tetap berlangsung. Bahkan bisa dikatakan lebih meriah dari tahun lalu. Tak seperti tahun sebelumnya, mob kali ini formasinya lebih banyak dan menggunakan campuran formasi 3D serta pom-pom.

“Kalau variasi pokoknya itu ada 18 tapi yang ingin kita tampilkan itu ada 73, take line untuk mob tahun 2018 ini ada 73 formasi tampilan untuk Indonesia merdeka dan 68 tahun dirgahayu Jawa Tengah,”. Terang laki-laki asal Demak itu.

Munculnya pom-pom sendiri sebenarnya dari tim kreatif beberapa kali telah mengevaluasi kegiatan mob dari tahun ke tahun. Yang kemudian mencari kekurangan dan yang belum ada di UIN Walisongo, serta mencoba membandingkan dengan beberapa universitas negeri di Indonesia. “(UIN) Walisongo itu kurangnya di semarak, jadi kita menginisiasi di tahun ini ada parade budaya yang lebih megah daripada tahun kemarin, walaupun hanya diikuti oleh 28 Orda, 6 UKM universitas, pom-pom ini sengaja kita buat untuk kegiatan lebih memeriahkan dari tahun-tahun sebelumnya,.

Parade budaya ini selain dihadiri oleh Kang Mas dan Denok UIN Walisongo, juga menampilkan beberapa Fashion showdari berbagai Orda dengan pakaian adat mereka, seperti Sumatera Utara dengan pakaian adat Batak Simalungun. Sedangkan beberapa UKM menampilkan bakat mereka, seperti UKM PSHT yang menunjukkan beberapa atraksi dari anggotanya.

Ketika parade budaya sedang berlangsung mahasiswa baru terlihat antusias dan bergembira, walaupun mereka sedang berada di bawah teriknya matahari Semarang. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu mahasiswa baru, Risda elfarian (17), “Wah, suka dan seneng banget, ada pelepasan balon, Parade budaya dan Paper Mob, semoga saja bisa mendapatkan Rekor Muri,”. Harap mahasiswi Hukum Ekonomi Syariah tersebut.

Dengan tema PBAK “Kesatuan Ilmu”, Presiden DEMA U mengharapkan agar generasi walisongo tahun 2018 harus cedas dan berkarya. “Pesan untuk mahasiswa baru sudah saya dengungkan berkali-kali bahwa mereka harus cerdas berkarya,”. Pungkasnya. (Husna/Afif)