Weh-wehan Sebagai Tradisi Yang Tak Luntur

0
28
potret tradisi weh-wehan di Kaliwungu, Kendal/ sumber foto: food.detik.com
Nafisah Azzahro
Kru Magang Justisia 2021 | + posts

Kendal, Justisia.com – Kaliwungu merupakan salah satu kecamatan yang berada di ujung timur Kabupaten Kendal, masyarakat mengenalnya sebagai Kota Santri. Kaliwungu selalu ramai ketika lebaran idul fitri karena adanya syawalan. Orang-orang datang untuk berziarah ke makam KH. Asy’ari atau lebih dikenal sebagai Kyai Guru dan makam ulama Kaliwungu yang lain. Banyak juga pedagang yang berjualan, kebanyakan mereka berjualan di area alun-alun yang berada di timur Masjid Besar Al-Muttaqin Kaliwungu dan sepanjang jalan yang melewatinya. Tak luput dari jamahan para pedagang daerah sekitar makam yang berada di Bukit Jabal Nur yang bertempat di Desa Protomulyo, Kecamatan Kaliwungu Selatan.

Terlepas dari itu, kaliwungu memiliki tradisi yang sangat unik, tradisi yang hanya ada di daerah tersebut. Tradisi itu adalah weh-wehan atau ketuwinan yang diadakan setiap 12 Robiul Awal. Dengan kata lain tradisi ini dilakukan untuk memperingati maulid Nabi Muhammad SAW,. Tradisi yang sudah turun temurun dari puluhan bahkan ratusan tahun lalu.

Berangkat dari kata aweh yang berarti memberi, weh-wehan adalah kegiatan saling memberi jajanan yang biasanya dilakukan pada sore hari. Ketika itu seluruh warga sibuk untuk menyiapkan makanan, jajanan ataupun minuman. Makanan yang dibagikan pun sangat beragam, mulai dari yang makanan ringan hingga makanan seperti jajanan kecil. Biasanya di depan rumah warga akan tersedia berbagai makanan yang siap untuk diberikan kepada warga yang akan datang. Ada juga warga yang berkeliling untuk membagikan makanannya tersebut. Biasanya orang yang lebih muda akan mendatangi kerabat, teman atau tetangga yang lebih tua.

Diantara makanan yang ada, beberapa makanan wajib disediakan pada tradisi ini, salah satunya adalah sumpil. Sumpil adalah nasi yang dicampur dengan kelapa kemudian dibungkus menggunakan daun bambu dan dibentuk segitiga. Pelengkap dari sumpil adalah kelapa dan bumbu sambal, yang dimakan bebarengan dengan sumpil. Sumpil ini juga memiliki makna filosofis yang melambangkan keseimbangan hidup antara sesama manusia.

Tujuan dari tradisi ini sendiri merupakan bentuk syukur kepada Allah dan turut memeriahkan maulid Nabi Muhammad. Mengajari tentang menghormati orang yang lebih tua dan rasa ikhlas dalam memberi. Mengajarkan anak-anak untuk bersosialisasi terhadap orang lain. Juga ikut serta dalam melestarikan tradisi yang sudah ada. [Red/M2]

Baca juga:  Nestapa Jamaah Ahmadiyah Desa Purworejo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here