Warga Jateng Gelar Diskusi Perampasan Ruang Hidup

0
46
Sumber Gambar: Instagram Wadas_Melawan
Septi Aisyah
Kru Magang Justisia 2021 | + posts

Semarang, Justisia.com – Perampasan lahan dan pencemaran lingkungan oleh pemerintah menggerakan warga Jawa Tengah untuk menggelar Sreening Film Wadas Tetap Waras dan Diskusi Bersama Jejaring Warga Jawa Tengah. Diskusi tersebut dilaksanakan bertempat di Kedai Wakamsi, Tembalang, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah pada Jumat, (18/02) malam.

Diskusi melibatkan korban perampasan ruang hidup, terlebih pada warga Wadas, Purworejo yang belakangan ini ramai kronologi pengepungan oleh aparat. Tim pengukur dari Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Purworejo memasuki Desa Wadas bersamaan ratusan aparat kepolisian, pukul 10.00 WIB, Selasa, (08/02).

Warga Desa Wadas, Siswanto mengatakan bahwa, aparat kepolisian merobek poster-poster penolakan pertambangan di Desa Wadas dan memaksa masuk ke rumah-rumah warga. Mereka merampas alat pertanian dan alat pembuat besek milik warga. Disamping itu, muncul beberapa kabar berita warga menggelar aksi dan memicu ricuh.

“Padahal sejak pagi, aparatlah yang datang menyebar, mengelilingi rumah-rumah, mengepung masjid, dan menangkap 67 orang termasuk anak di bawah umur dan lansia,” ungkap Siswanto kepada Wartawan Justisia pada Jumat (18/02).

Pada Rabu (09/02), aparat kepolisian yang datang ke Desa Wadas semakin banyak, mereka menutup akses masuk dan menebarkan teror serta intimidasi terhadap warga. Pada hari yang sama Gubernur Provinsi Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mendatangi lokasi menemui warga yang pro terhadap pertambangan. Sedangkan warga yang kontra tidak ditemui oleh Ganjar bahkan warga tidak bisa keluar dari kediaman dikarenakan penjagaan yang ketat.

“Polisi menuduh warga yang ditangkap membawa senjata tajam, padahal aparat kepolisian sendiri yang datang membawa senjata lengkap dan tameng,” ucap Siswanto.

Ia menambahkan, sekarang aktivitas yang sering dilakukan oleh warga menjadi terhambat. Terganggunya aktivitas ekonomi warga berdampak pada pemenuhan kebutuhan warga. Selain itu, juga menakut-nakuti anak-anak di Wadas hingga menyebabkan anak-anak merasa takut untuk pergi ke sekolah.

Sementara itu, Seniman Indonesia, Farid Stevy mengungkapkan keresahan yang dialami oleh warga Wadas dengan pameran kopi medium seni, bertempat di Matera Cafe, Semarang dekat dengan tempat diskusi.

“Kepedulian kepada saudara Wadas yang tertindas sama halnya seperti doa. Kejadian di Wadas bisa saja menimpa di tempat tinggal kita,” ujar Farid, ditemui di sela pameran.

Farid mengatakan, ia menyaksikan bahwa warga Wadas benar-benar memperjuangkan haknya. Mereka tidak ingin ruang hidupnya dirampas, maka tidak ada alasan ia membagikan apa yang warga Wadas alami melalui pameran ini. [Red. M2]

Baca juga:  Tanah Dirampas, Warga Pacel Melakukan Aksi Pendudukan Lahan Kembali

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here