Tren Konsumtif Ramadhan dan Lebaran

0
22
Ilustrasi. sumber: infojateng.com
Website | + posts

Oleh : M. Shodiq Al Hakim (Alumni PP Darul Ulum, Jombang)

Justisia.com – Bulan Ramadhan menjadi bulan kesembilan dalam kalender Hijriyah sekaligus bulan yang penuh berkah bagi umat muslim. Tidak hanya menjalankan ibadah puasa maupun peningkatan dalam ibadah lainnya. Akan tetapi bulan Ramadhan menjadi momentum yang cukup menarik untuk diperbincangkan khususnya dalam hal ekonomi. Di negara Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Bulan Ramadhan menjadi puncak meningkatnya daya beli dan perilaku konsumtif masyarakat muslim itu sendiri terhadap barang dan jasa.

Jika kita melihat realitanya di setiap bulan Ramadhan selalu muncul berbagai lapak baru yang bersifat musiman. Biasanya lapak ini menjual takjil yang didalamnya terdapat berbagai macam makanan dan minuman. Tak jarang di Indonesia setiap menjelang maghrib akan banyak sekali lapak baru yang menjual berbagai macam takjil untuk kebutuhan umat muslim berbuka puasa. Pada industri pakaian juga berlaku demikian. Tren membeli pakaian menjelang lebaran menjadi fenomena musiman yang melekat pada masyarakat Indonesia khususnya umat muslim. Meski hal ini bukan menjadi keharusan namun tradisi mengenakan baju baru di kala lebaran sudah ada di Indonesia sejak abad ke 16. Hal ini tentunya tidak bisa lepas dari masyarakat Muslim Indonesia.

Begitupun dengan industri transportasi yang meningkat di kala menjelang lebaran dan sampai pada waktu lebaran. Karena masyarakat muslim yang berada posisi jauh dari keluarganya akan pulang kampung untuk menemui keluarganya. Pada saat itulah daya beli masyarakat terhadap jasa transportasi meningkat. Fenomena ini juga masih berlanjut pada industri pariwisata. Masyarakat akan menikmati libur panjang mereka di kala lebaran. Karena lebaran menjadi momentum mereka untuk berkumpul dengan keluarga yang dilanjutkan dengan healing bersama keluarga ke tempat wisata.

Kegiatan ekonomi Ramadan dan kemudian dilanjutkan dengan kegiatan ekonomi Lebaran tetap menarik untuk dicermati baik dari sisi permintaan maupun penawaran. Fenomena dan masalah ekonomi yang timbul pada rangkaian peristiwa tersebut menjadi topik klasik tapi tetap kekinian. Hal ini menjadi tradisi yang unik di Indonesia setiap bulan Ramadhan dan Lebaran. Jika kita melihat dari sisi agama maka identik dengan proses pengendalian hawa nafsu duniawi. Namun menariknya daya beli masyarakat meningkat di kala bulan Ramadhan. Fenomena ini cukup berpengaruh terhadap roda perekonomian Indonesia. Karena melihat pergerakan ekonomi di bulan Ramadhan meningkat cepat yang akhirnya berefek pada likuiditas masyarakat. Uang yang awalnya diam kemudian bergerak menumbuhkan aktivitas ekonomi. Terjadi percepatan perputaran uang serta pergerakan barang dan jasa.

Konsekuensi logisnya ekonomi Ramadan memicu inflasi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada maret 2022 mengalami inflasi sebesar 0,66 persen secara bulanan (month to month/mtm). Penyumbang inflasi terbesar yakni minyak goreng, cabai merah, dan telur ayam ras. Inflasi ini terjadi dikarenakan naiknya harga barang di masyarakat. Bukan harga barang yang menjadi titik tekannya melainkan fenomena proses meningkatnya harga barang secara terus menerus disebabkan oleh berbagai faktor. Dalam ilmu ekonomi dikenal dengan demand pull inflation, yaitu inflasi yang disebabkan oleh peningkatan permintaan dalam waktu tertentu tanpa disertai peningkatan penawaran yang memadai. Inflasi jenis ini murni akibat terganggunya keseimbangan pasar. Di saat permintaan meningkat, penawaran justru stagnan atau bahkan berkurang. Harga-harga kemudian melonjak.

Perlu diingat bahwa tren meningkatnya inflasi pada bulan Ramadhan bukan sebuah hal baru dalam perekonomian Indonesia. Fenomena ini telah terjadi dari tahun ke tahun dan juga memiliki dampak positif guna menumbuhkan perekonomian Indonesia. Masyarakat pun sudah paham bahwa ekspektasi masyarakat secara subjektif bernilai bahwa pada bulan Ramadhan pasti terjadi peningkatan inflasi. Namun, bukan berarti pemerintah tidak perlu berbuat apa-apa. Pemerintah tetap perlu menjaga ketersediaan barang di pasar dan mengawasi pasar sebagaimana mestinya. [Red.Mzkr]

Konten Kolaborasi NU Jateng bersama Justisia.com dan PMII Kom. UIN Walisongo selama Ramadhan 1443 H.

Baca juga:  Telaah Pemikiran Filsafat Thales dan Anaximenes

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here