Semarang Climate Strike: Aksi Peduli Iklim Angkat Isu Ketidakadilan

0
14
Zainul Fitroh
Kru Magang Justisia 2021 | + posts

Semarang, Justisia.com – Sekitar 60 warga Semarang dan sekitarnya melakukan aksi Semarang Climate Strike. Peserta aksi merupakan masyarakat umum, perwakilan organisasi, dan perwakilan komunitas. Aksi dilakukan dengan long march dari Masjid Nusrat Jahan Jalan Erlangga Raya Nomor 7A ke Patung Diponegoro Jalan Pahlawan, Jum’at (25/03).

Aksi ini diisi dengan orasi, pembacaan puisi, pentas teatrikal, dan doa bersama oleh pemuka berbagai agama. Selain di Semarang, aksi ini juga dilakukan di kota-kota besar lain seperti Jakarta, Depok, Sukabumi, Solo, Yogyakarta, Jember, Malang, Makassar, dan Medan.

Aksi ini merupakan bagian dari aksi solidaritas pegiat iklim dunia (Global Climate Strike) yang mendesak pemerintah di seluruh negara untuk melakukan transisi secara serius dari energi kotor ke energi bersih agar ambang batas aman kenaikan suhu bumi tidak terlewati. Menurut Ellen Nugroho, koordinator Jaringan Peduli Iklim dan Alam, suhu rata-rata bumi terus naik sebesar 0,2 derajat Celsius setiap 10 tahun.

“Menurut laporan Panel Internasional tentang Perubahan Iklim (IPCC), per 10 tahun suhu Bumi terus naik 0,2 derajat Celcius. Jika kecepatan pemanasannya seperti ini, ambang batas aman akan terlewati tahun 2040,” ujar Ellen.

Isu yang diangkat kali ini adalah ketidakadilan iklim. Menurut keterangan Soni, perwakilan Legal Resource Center untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia (LRC-KJHAM), negara-negara maju banyak membuang emisi karbon sebagai efek samping kemajuan ekonomi, sedangkan yang harus menanggung dampak buruknya adalah negara-negara berkembang.

“Isu kita adalah keadilan iklim. Saat ini yang terjadi adalah ketidakadilan. Negara-negara kaya yang menikmati keuntungan dari kemajuan ekonomi dengan membuang banyak emisi karbon, negara-negara berkembang yang harus menanggung dampak kerusakan Buminya,” ungkap Soni.

Dalam siaran pers yang dikeluarkan Jum’at lalu, Ellen juga mengungkapkan bahwa hal yang harus dilakukan untuk mengatasi isu krisis iklim ini adalah dengan ikut mengerem kenaikan suhu bumi.

“Satu-satunya hal yang masuk akal untuk kita lakukan adalah ikut serta mengerem agar kenaikan suhu bumi ini sebisa mungkin berhenti dan umat manusia sedunia terhindar dari bencana besar. Pesan yang kita ingin usung kali ini adalah utamakan manusia, bukan laba – people, not profit!” Ujarnya.

Aksi ini dikoordinasi bersama oleh Jaringan Peduli Iklim Alam yang terdiri dari Persaudaraan Lintas Agama, EIN Institute, Charlotte Mason Indonesia Semarang, YLBHI LBH Semarang, Klub Merby, Puanhayati, Gemapakti, Suster Penyelenggaraan Ilahi (SDP), KPA Pashtunwali, Walhi Jateng, UNISSULA, dan LRC-KJHAM. [Ed. Rakan/ Red.M2]

Baca juga:  Adakan Program BI Mengajar bersama UIN Walisongo sebagai Upaya Pemulihan Ekonomi Nasional

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here