Semarak Ramadhan dan Jerat Konsumerisme Berbalut Agama

0
32
M. Taufiqurrohman
Kader PMII Komisariat UIN Walisongo Semarang | + posts

Semarang, Justisia.com – Marhaban Ya Ramadhan. Begitu ucapan yang sering kita jumpai saat memasuki bulan suci Ramadhan. Bagi saya ungkapkan tersebut kurang pas jika melihat kondisi saat ini. Untuk itu mungkin ungkapan Marhaban Ya Konsumerisme yang lebih cocok. Mungkin kalian akan bertanya-tanya kenapa saya mengatakan seperti itu.

Realita yang terjadi saat ini masyarakat Indonesia khususnya ketika ramadhan begitu kuat nafsu terkait Konsumerisme mereka, dan para kapitalis memainkan realita tersebut. Para kapitalis memanfaatkan potensi pengeluaran umat Islam dengan berbagai program yang terbidik. Banyak toko-toko yang menawarkan promosi belanja dengan iming-iming yang begitu menggiurkan. Selain itu operator seluler, televisi, berusaha menyuguhkan program-program yang menyentuh emosional. Ramadhan pun menjadi suatu event Komersial yang besar.

Hal yang di singgung di atas bisa kita tengok secara nyata. Coba kita nyalakan saja televisi begitu banyak program yang berbalut agama yang bisa di simpulkan secara sadar maupun tidak sadar menjadi suatu penanaman atas pembenaran atau islamisasi perilaku konsumtif umat Islam selama puasa.

Menarik memang, karena tanpa disadari umat Islam pada setiap perhelatan ramadhan selalu di posisikan sebagai konsumen potensial untuk meraup keuntungan berupa kapital. Perkembangan kapitalisme saat ini memaksa umat seolah-olah hasrat mengkonsumsi lebih di utamakan. Di samping itu sepertinya nanti ibadah puasa menjadi kurang sempurna jika tidak mengkonsumsi makanan serta minuman tertentu ataupun segala bentuk yang telah di sodorkan oleh media dengan mengatasnamakan agama.

Suka atau tidak, kapitalisme telah mengarahkan hidup manusia sedemikian rupa. Demi meraup keuntungan besar, kapitalisme membangun sistem di mana manusia dapat menjadi terhipnotis dibuatnya, masyarakat pun menjadi konsumtif. Kini orang membeli barang bukan atas dasar nilai kemanfaatannya namun karena gayaa hidup, demi sebuah citra yang telah diarahkan dan di bentuk oleh iklan dan mode lewat televisi dan media sosial.

Menyedihkan memang, bulan yang begitu di nanti-nanti itu tercederai dengan sikap konsumtif binaan kapitalis. Kenyataan ini sebetulnya juga bertentangan dengan anjuran syariah Islam untuk bersikap sederhana dan tidak berlebihan dalam mengkonsumsi barang kapanpun, apalagi di bulan suci ini. Tengok QS. Al Isra’ ayat 26-27 yang berarti “dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.  Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” Di ayat tersebut jelas adanya bahwa Allah SWT. Melarang untuk bersikap berlebihan dalam harta.

Puasa haarusnya kita pahami dan dilaksanakan dengan benar, hingga menghasilkan seorang pribadi yang taqwa. Dalam hal tersebut artinya perilaku konsumtif ketika puasa dapat dihindari. Karena manifestasi dari taqwa adalah tidak mengumbar suatu hawa nafsu, mampu mengendalikan keinginan, termasuk perilaku konsumtif.

Seperti apa yang telah Roy Murtadho katakan dalam sebuah tulisannya di Islam bergerak, yang paling penting adalah menempatkan puasa dan Ramadhan sebagai Medan bagi terbitnya nilai spiritual (qimah ruhaniyah), nilai kesadaran ( qimah syu’uriyah), nilai kemanusiaan (qimah insaniyah) setiap muslim yang menjalankan dan mengagungkannya. Tanpa itu puasa hanyalah ritus menahan lapar dan dahaga yang tercerabut dimensi sosialnya.

Menarik sekali memang tulisan dari Gus Roy ini, di sini juga perlu kita ketahui bahwasanya puasa haruslah juga mengedepankan dimenssi sosial, dimana kita juga di anjurkan untuk lebih banyak melakukan ibadah-ibadah sosial ketimbang melakukan perilaku konsumtif. Kita sendiri harus sadar bahwa budaya konsumtif merupakan kondisi yang di sebabkan oleh sistem kapitalisme yang telah membudaya.

Sebetulnya Ramadhan adalah upaya untuk melawan Perilaku konsumerisme dan kerakusan. Tapi, melihat kondisi di tengah komersialisasi serta materialisme yang begitu dahsyat, ramadhan harus sebagai suatu pengingat agar kita tidak terikat oleh kapitalisme, kehidupan yang tak membutuhkan konsumsi konstan untuk meraih sebuah kepuasan. Untuk itu,  nafsu kita untuk mengkonsumsi lebih diredam oleh perintah Ilahi dan teladan Nabi. Untuk fokus pada makanan spiritual dan sosial dibanding rasa lapar dan dahaga fisik.

Tulisan singkat ini sama sekali tidak ada pretensi terkait tawaran kerangka kepastian atas persoalan-persoalan diatas. Tulisan ini hanya sekedar refleksi atas realita yang terjadi dalam kehidupan kita saat ini. Semoga Ramadhan tahun ini dapat menjadi suatu momen yang baik bagi kita untuk melakukan penolakan terhadap budaya konsumerisme, dan semoga Ramadhan kali ini dapat menjadi momen yang baik bagi kita untuk meretas jalan berputar yang rumit itu; sebuah ritus primordial yang senantiasa diajarkan oleh para malaikat di atas langit, oleh bintang-bintang di semesta tata surya, oleh para pencinta Tuhan di sekeliling Baitullah. Barangkali inilah yang mendorong para sufi kerap menyitir firman Allah Swt, “Ke mana pun kamu menghadap, di sanalah wajah Allah.” [Red. M2]

Konten Kolaborasi NU Jateng bersama Justisia.com dan PMII Kom. UIN Walisongo selama Ramadhan 1443 H.

Baca juga:  Mengakhiri Asusila Pemuda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here