Mengakhiri Stigma, Mengakhiri Praktik Khitan Perempuan

0
104
sumber ilustrasi: https://magdalene.co
Fia Maulidia
Pimpinan Umum Justisia 2022 | + posts

Justisia.com – Begitu pedih saya membaca update status WhatsApp seorang teman yang baru saja dikarunia puteri. Tentu saja saya turut bahagia atas kehadiran buah hati mereka. Tapi, tidak pada khitan anak perempuannya yang bayi merah itu.

Saya faham, dia melakukan hal tersebut tanpa ada maksud buruk barang secuil pun. Saya meyakini cinta orang tua kepada anaknya adalah cinta yang paling tulus di dunia. Saya juga husnudzon bahwa yang ia lakukan semata menjalankan ‘anjuran’ yang pernah ia dapat saat ngaji di pondok.

Saya ingat betul, ada satu ustadz di Madrasah Diniyah yang kerap kali menyampaikan betapa penting khitan untuk perempuan.

“Biar syahwat dan nafsunya terkontrol” klaim yang beliau sampaikan, saat saya kelas tiga Madrasah Tsanawiyah. Kemudian teman-teman saya saling bertanya,

“Koe mbiyen sunat ta?”

Bila ada yang terang-terangan menjawab “tidak”, ledekan “nafsune gede” dialamatkan padanya. Saat itu saya hanya diam, saya tidak merasa pernah dikhitan. Saya tahu betul bagian vagina mana yang harus dikhitan, dan itu sepertinya tidak terjadi pada saya.

Walau begitu, klaim “besarnya nafsu” itu juga tidak bisa saya terima. Saya hanya diam, sebab dalam madzhab Syafi’i memang ada kewajiban khitan perempuan. Dan hal tersebut, oleh beberapa pendakwah, memang disampaikan terang-terangan, sampai hari ini. Bertebaran di Instagram dan media sosial yang lain.

Kelas tiga Madrasah Tsanawiyah, jiwa dan pikiran saya menolak ‘kewajiban’ tersebut. Namun saya tidak berdaya bahkan untuk menyampaikan keresahan mengapa saya menolak praktik ini.

Doktrin itu punya posisi yang kuat sekali; berasal dari salah satu wacana fikih otoritatif, disampaikan oleh seorang ustadz di pesantren, dan tidak ada alternatif pendapat lain yang saya ketahui maupun saya dapatkan. Walaupun pada kenyataannya, ada 3 mazhab besar selain Syafi’i, berbeda pendapat ihwal khitan perempuan, bahkan dalam sebagian kalangan Syafi’i sendiri terjadi selisih paham.

Saat mata pelajaran fiqih yang membahas khitan (laki-laki) di kelas 5 Madrasah Ibtidaiyah, penjelasan bahwa bagian penis yang dikhitan hanyalah ‘qulf’ -istilah yang dipakai dalam fikih- pertama kali saya terima.

Guru saya waktu itu berkata pada teman laki-laki di kelas, agar tidak takut untuk dikhitan sebab hal itu sama sekali ‘tidak mengurangi’ alat reproduksi mereka. Justru, akan lebih menyehatkan dan kelak saat berumah tangga akan lebih ‘bermanfaat’ sebab ‘helm’ yang menutupi itu sudah ‘dibuang’.

Banyak alasan medis yang kemudian diulas ihwal khitan laki-laki, selain syari’at lama yang telah dimulai sejak Nabi Ibrahim, ternyata banyak sekali benefit dan hikmah darinya. Sehingga, ketika saya mendapat wacana ‘khitan perempuan’ itu, hati saya bergejolak.

Klitoris, bahkan labia minora, bagian yang biasanya dikhitan pada vagina perempuan itu, jelas sama sekali bukan ‘penutup’ atau apapun yang “menghalangi” vagina. Klitoris bukan kulit, atau qulf yang dalam organ reproduksi laki-laki memang harus disingkirkan. Saya terus gelisah dalam hati, alangkah sakitnya pemotongan klitoris itu, Ia kan daging bukan kulit? Bukankah klitoris bagian ‘dalam’ vagina? Mengapa harus dipotong?

Khitan Perempuan dalam Fiqih

Kenyataan bahwa khitan pada laki-laki memberikan banyak dampak positif bagi kesehatan, juga kepuasan yang optimal secara seksual, berbanding terbalik dengan dampak yang ditimbulkan pada khitan perempuan; peredaman ‘agresivitas’ keinginan seksual itu, ironi yang begitu menyakitkan.

Saya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk kukuh pada posisi ini: menolak khitan atas perempuan! Setidaknya ada beberapa alasan kuat yang dapat kita temukan dalam buku Fikih Perempuan karya Buya Husein, mengapa kita harus mengakhiri praktik ini.

Pertama, tidak ada satu nas pun, baik Al Qur’an maupun hadits shahih yang memerintahkan khitan pada perempuan. Sebab itulah, mazhab Hanafi, Maliki, dan Hambali tidak mewajibkan khitan atas perempuan. Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Athiyah RA, yang menjadi dasar khitan perempuan seperti dalam kitab Fath Al Bari, menurut Abu Dawud, hadits ini lemah sebab ada perawi yang majhul.

Selain itu, peringatan Nabi pada Juru khitan perempuan Madinah untuk tidak mengkhitan secara berlebihan, sebab hal itu adalah salah satu kenikmatan seksual pada perempuan, memberikan sinyal pada kita bahwa kesehatan dan terjaganya hak seksual bisa menjadi syarat dalam pelaksanaan khitan.

Sehingga, apabila praktik khitan itu merusak dan tidak memberikan kenikmatan seksual bagi perempuan, bisa saja hukum khitan ini tidak diperbolehkan.

Sedangkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA ini;

“Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda; ‘Khitan adalah sunnah bagi lelaki dan sesuatu yang mulia bagi perempuan.” (HR. Ahmad)

Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan. Pertama, dalam hadits ini ada seorang perawi bernama Al Hajjaj, ia seorang mudallas sehingga kualitas hadits ini patut dipertanyakan. Imam Baihaqi bahkan mengatakan bahwa hadits ini dhaif dan munqothi‘.

Hal kedua yang harus kita perhatikan dalam memahami hadits di atas adalah, kita tidak bisa melepaskannya dari konteks sosio-historis zaman di mana para ulama salaf hidup. Selain mazhab Syafi’i, para ulama memilih predikat ‘kemuliaan’ saja untuk khitan perempuan, tidak wajib, bahkan sunnah.

Posisi perempuan yang lemah dan menjadi subordinasi dari laki-laki pada masa itu, mendesak perempuan untuk mengebiri organ yang mudah terangsang secara seksual sebelum menikah, yang dapat menyeretnya pada hal yang dapat ‘merusak kesucian’.

Tradisi teluk arab pada masa itu juga masih menempatkan perempuan sebagai ‘penjaga rumah tangga’ dibuktikan dengan kesediaannya untuk dipoligami-yang tentu saja menuntut kesiapan psikologis agar tidak ‘agresif’ secara seksual-,  seorang istri juga dituntut selalu siap untuk melayani kebutuhan seksual suami tanpa timbal balik.

Untuk itu, khitan perempuan yang ‘didukung’ oleh para ulama adalah cara untuk mendapatkan predikat ‘kemuliaan’ dari tradisi dan budaya dalam sebuah komunitas. Dalam Fikih Sunnah jilid 1, Sayyid Sabiq juga mengatakan bahwa seluruh hadits yang berkaitan dengan khitan perempuan adalah dhaif, tidak ada satupun yang shahih. (Red. IrchamM)

Baca juga:  Anggota LRC-KJHAM; Perempuan Tak Lagi Punya Ruang Aman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here