Kopi dan Idealisme Perjuangan Wadas

0
69
Screenshoot on Youtube Channel Wadas Melawan video 'Wadas Subur'
Zusnia Galuh Wati
Kru Magang Justisia 2021 | + posts

Semarang, Justisia.com – Kondisi yang sudah berjalan sekian tahun di Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, dimana semakin hari keadaan belum juga kondusif. Rencana adanya tambang andesit yang sebagian besar ditolak oleh warga tak juga menghentikan sepak terjang pertambangan atas dasar pembangunan tersebut. Warga yang terus berjuang melakukan perlawanan mempertahankan tanahnya juga pihak-pihak yang turut mendukung perlawanan tersebut.

Pada jumat (18/02) dalam acara screening film Wadas Tetap Waras dan diskusi bersama jejaring warga Jawa Tengah, yang dilaksanakan di Kedai Wakamsi, Tembalang daerah sekitar Universitas Negeri Diponegoro Semarang. Dihadiri dari banyak golongan seperti para aktivis, pers mahasiswa, Walhi, seniman, dan tentunya warga asli daerah yang terdampak sebagai upaya aksi solidaritas untuk seluruh warga Jawa Tengah yang terdampak khususnya Desa Wadas.

Adanya pameran kopi setelah selesai acara merupakan salah satu strategi dalam menyiarkan bagaimana kondisi desa Wadas sesungguhnya. Bagaimana perlawanan yang terjadi di desa tersebut yang berisikan 7 (tujuh) RT dalam melakukan perjuangan mereka. Acara pameran yang melibatkan 22 seniman yang tersebar di Jawa Tengah dan sekitarnya berjalan di 6 (enam) kota di Indonesia, yaitu; Jakarta, Bali, Bandung, Malang, Semarang, dan akan berakhir di Yogyakarta.

Farid Stefy salah satu seniman besar dari Yogyakarta yang terlibat dalam acara ini turut memberikan keterangan bagaimana latar belakang adanya pameran kopi ini. Dalam pemaparannya, ide yang telah tersimpan sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di Wadas yaitu mereka ingin mengangkat isu tersebut dari sisi yang lain. Tak lain adalah Kopi yang berasal dari tanah Wadas.

“Wadas sebenarnya adalah lahan produktif yang menghasilkan banyak produk agraris salah satunya kopi, dan kebetulan juga kopi sekarang merupakan produk yang populer dan tersebar banyak dimanapun. Dapat kita lihat dengan banyaknya coffe shop yang tersebar di kota-kota dan menjadi tempat anak muda berkumpul. Dengan menggunakan media kopi ini merupakan strategi yang menarik untuk menyiarkan apa yang terjadi di wadas melalui seni.” Terangnya.

Pada awalnya pameran ini dilakukan di Yogyakarta yang melibatkan Farid dengan beberapa seniman untuk mengangkat hal ini dalam menyiarkan apa yang terjadi di Desa Wadas. Farid dan kawan-kawan berpikiran bahwa pameran kopi ini lebih baik diperbesar skalanya sekalian sehingga khayalak umum juga dapat mengetahuinya.

Dalam ceritanya, Farid mengatakan dalam perencanaan pameran kopi Wadas ia menghubungi sekitar 22 seniman untuk melaksanakan pameran kopi ini di Jawa. Selain mengenalkan betapa kayanya tanah Wadas juga untuk menyiarkan tentang kondisi Wadas saat ini.

“Hal ini juga merespon dengan adanya produk kopi yang memang diperjual belikan serta adanya perjuangan yang dilakukan setiap hari di Wadas. Berjuang mempertahankan tanahnya sebagai tempat pemenuh kebutuhan hidup. Bagaimana para petani berjuang dan bertahan dengan situasi yang seperti sekarang ini. Hal itu sangatlah berpengaruh pada pendapatan para petani yang menurun drastis,” jelasnya.

Pameran dengan media kopi ini sepenuhnya dikembalikan lagi ke Wadas. Dalam pembicaraan ini Farid berharap 145 kemasan kopi yang dijual dalam pameran ini dapat membantu perjuangan warga wadas yang masih panjang ini.

Pameran yang berjalan dengan baik ini diharapkan bisa membuahkan hasil yang sekiranya dapat membantu warga Wadas. Dilihat dari konteks politik warga menuntut adanya kebijakan ulang. Farid sendiri mengalami bagaimana rasanya hidup menghirup nafas dan rasa dari meminum air dari desa Wadas. Dimana ia dapat melihat bagaimana tatapan, gesture, serta setiap hembusan nafas para warga yang dimana hal itu tidak bisa diperlihatkan atau digantikan dengan apapun.

“Saya disana benar melihat mereka adalah warga yang memperjuangkan hak-nya,” tutur Farid.

Ibaratkan sebuah kopi yang dapat dicecap rasanya dan dihirup aromanya, itulah Wadas. Apa yang telah tersebar baik berupa foto ataupun berita tidak dapat merasakan sensasi tersebut. Hanya melihat, tidak seperti apa yang dilihat sehingga menimbulkan celah bagi orang-orang yang tidak bertanggung jawab dengan membuat informasi dari berbagai sisi yang tidak pasti kebenarannya.

Semua yang ada di tanah wadas sendiri bukanlah sesuatu yang sepele yang bisa ditutupi dengan adanya kata ‘kan diganti rugi’ semua yang ada di sana bukanlah sesederhana itu. Ibaratkan sebuah nyawa, tanah Wadas bukan hanya sebidang tanah yang bisa dibeli dengan uang 2 Miliyar, melainkan dimana tanah Wadas menjadi sumber kehidupan berbagai macam suka duka tertoreh di tanahnya.

“Hal ini bukan hanya sekedar materi saja, bukan hanya fisik tetapi sudah menjadi bagian dari jiwa warga Wadas,” lanjutnya.

Farid bertanya-tanya, semua yang telah dilakukan ini apakah hanya sekedar protes ataukah sebuah bentuk kritik atau hanya sekedar menguakkan apa yang sedang terjadi di Wadas. Tentunya ini merupakan hal murni sebagai kepedulian antar sesama manusia. Kepedulian terhadap saudaranya yang sedang tertindas.

Hal ini bukan terjadi di Wadas saja, banyak daerah yang juga terkena imbas dari yang katanya ‘pembangunan’. Farid juga memberikan pesan bahwa hal yang terjadi di tanah Wadas bisa terjadi di tanah kelahiran siapa saja, bisa saja lebih parah dari kasus ini.

“Pemerintah itu punya elemen, elemen tersebut berupa para aparat-aparatur negara. Apakah kita dapat meminta bantuan mereka yang jelas-jelas tidak berpihak pada kita ? Apakah kita bisa percaya pada mereka yang semena-mena menindas atas dasar pembangunan dan dengan dalih untuk kepentingan bersama ?” tanyanya dihadapan pengunjung diskusi.

Selain itu acara ini juga menimbulkan suatu idealisme baru yang berdasarkan asas kepedulian bersama, sebuah idealisme yang disepakati bersama dan tidak bersifat individualis. Tentunya sangat ideal serta dapat dipikir secara rasional. Dari semua ini, Farid menegaskan bahwa teman-teman seniman tidak ingin dengan aksi-aksi heroik dalam membantu warga Wadas. Tetapi dengan jalan lain berupa adanya pameran kopi Wadas.

“Semua bisa bersama-sama membantu warga Wadas dengan jalannya masing-masing. Tidak tahu apakah seberapa hal yang kita lakukan berfungsi atau tidak terhadap Wadas. Tapi yang terpenting dengan rasa ikhlas dan bersungguh-sungguh kita bergerak bersama membantu warga Wadas ” jelasnya.

Farid menuturkan jika yang dihadapi bersama ini merupakan entitas yang sangat kuasa. Hal ini menjadi sangat baik jika memiliki jaringan yang luas sehingga tidak mudah ditumbangkan begitu saja.

Seniman asal Jogja itu mengungkapkan bahwa salah satu jebakan yang paling memuakkan justru ketika kita merasa berkontribusi terhadap perjuangan Wadas. Sejatinya disini hanya berempati dan sekedar membantu, bukan berjuang. Warga Wadas yang benar-benar merasakan perjuangannya, dimana mereka merasakan kegelisahan mulai bangun hingga tidurnya dihadapkan dengan situasi yang tidak tenang. [Ed./ Red. M2]

Baca juga:  Potong Bebek Angsa Ala Pemerintah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here