Kontribusi Ilmu dalam Membangun Peradaban

0
25
ilustrasi. sumber: geotimes.com
KH. Mohammad Muzammil
Ketua Tanfidziah PWNU Jawa Tengah

Semarang, Justisia.com – Alloh Ta’ala Maha berilmu. Seandainya seluruh ranting pohon dijadikan sebagai pena, dan air lautan dijadikan sebagai tintanya, niscaya tidak akan cukup untuk menuliskan ilmu Alloh Ta’ala. Alloh Ta’ala memberikan ilmu kepada umat manusia kecuali sedikit.

Manusia pertama yang dikasih pelajaran oleh Alloh Ta’ala adalah Nabi Adam as. Ia dikasih tahu tentang nama-nama benda semuanya. Kemudian Nabi Adam as mengajarkan kepada anak keturunannya. Malaikat pun mengakui keunggulan Nabi Adam as sehingga Malaikat mau menghormatinya atas perintah Alloh Ta’ala.

Para Malaikat berkata, “Maha suci Engkau, kami tidak mengetahui kecuali apa yang telah Engkau ajarkan, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

Karena itu dari sisi ketaatan kepada Alloh Ta’ala, Malaikat lebih ta’at. Namun dari sisi ilmu, manusia lebih banyak diberikan ilmu. Manusia, yang diwakili para Nabi dan utusan Alloh, lebih banyak diberikan ilmu ketimbang para Malaikat. Para Malaikat hanya diberikan ilmu sesuai bidang tugasnya. Untuk itu manusia lah yang diberikan amanat oleh Alloh sebagai pemimpin atau Khalifah di muka bumi ini.

Baca juga:  Kritik Sastra Perspektif Hermeneutika Kritis Habermas

Guna menjalankan tugas sebagai Khalifah, manusia diciptakan oleh Alloh Ta’ala dalam bentuk yang sempurna, diberikan panca indera, hati, akal dan nafsu. Juga diberikan petunjuk berupa Wahyu melalui para Nabi dan utusan-Nya. Dari sini sudah jelas bahwa yang disebut dalil terdapat dua, yakni dalil Naqli atau wahyu dan aqli atau pemikiran akal. Bahkan juga ada ulama yang menambahkan, yakni waqi’i atau dalil dari apa yang terjadi pada alam.

Karena itu yang dimaksud ilmu adalah penggunaan panca indera, hati dan akal dalam memahami wahyu di satu sisi dan memahami gejala alam di sisi yang lain.

Kedua hal ini tidak dapat dipisahkan karena merupakan satu kesatuan yang utuh. Para ulama terdahulu mulai dari generasi sahabat dan tabi’in serta ulama al-salafu sholih tidak memisahkan kedua ilmu pokok tersebut.

Kemudian karena kemampuan manusia terbatas maka kajian terhadap objek ilmu tersebut dibedakan bahwa pokok kajian yang pertama disebut ilmu agama dan yang kedua disebut ilmu pengetahuan alam atau ilmu umum.

Baca juga:  DEMA FDK : Saya Meminta Maaf Kepada Semua Pihak

Kedua ilmu yang pokok atau Ushul ini merupakan kebutuhan bagi umat, karena adanya pernyataan Baginda Nabi Muhammad Saw, “Barangsiapa yang menghendaki dunia maka harus menggunakan ilmu, barangsiapa yang menghendaki akhirat juga dengan ilmu, dan barang siapa yang menghendaki keduanya juga harus dengan ilmu”.

Dengan memilih ilmu, Nabi Sulaiman as mendapatkan kehormatan dan kemudahan dalam hidup. Ia menjadi Raja kaya raya dan memimpin dunia dengan adil serta memiliki istri yang cantik.

Karena itu awal mulanya dengan ketaatannya kepada Alloh Ta’ala dan utusan-Nya, umat Islam menjadi umat yang menguasai ilmu, baik ilmu dunia dan ilmu akhirat, sehingga masyarakat Islam menjadi rujukan dalam membangun peradaban umat manusia dengan ketinggian ilmu dan akhlak yang mulia. Namun pada perkembangan berikutnya terjadi kemunduran, karena terjadi pergolakan intern ummat Islam terkait politik atau kepemimpinan ummat.

Pergolakan ini terjadi karena faktor intern seperti menurunnya kualitas moral di satu pihak dan ekstern di pihak lain seperti adanya provokasi dan propaganda yang menimpa ummat.

Baca juga:  Anak-Anak Sampai Orangtua Harus Melek Budaya

Tentu sudah banyak ide dan pemikiran agar umat Islam dapat kembali memegang supremasi ilmu. Namun banyaknya ide dan pemikiran tersebut juga masih membuat umat Islam terkotak-kotak dalam gerakan ideologi dan politik.

Kecenderungan ilmiah yang terjadi, misalnya, kelompok Wahabi yang berkuasa di tanah suci sejak tahun 1924 lebih cenderung menggunakan dalil Naqli semata dan tidak mau menggunakan dalil aqli dan waqi’i, sehingga pemahamannya bersifat harfiah, tekstual.

Sementara itu dunia barat hanya mau menggunakan dalil aqli dan waqi’i semata, sehingga cenderung liberal. Perbedaan ini kemudian menimbulkan pertentangan dari kelompok jihadis dengan melakukan teror dan kekerasan.

Pada bagian lain, mestinya terdapat kelompok mayoritas yang moderat, yang menerima dalil Naqli, aqli dan waqi’i secara seimbang, namun umumnya berada di dunia ketiga, atau negara-negara yang berkembang. Meski besar jumlahnya, namun belum signifikan mengambil peranan, karena masih terbatasnya melakukan inovasi terhadap ilmu.

Wallahu a’lam.

Penulis merupakan Ketua Tanfidziah PWNU Jawa Tengah

Konten Kolaborasi NU Jateng bersama Justisia.com dan PMII Kom. UIN Walisongo selama Ramadhan 1443 H.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here