Kesehatan Reproduksi Menurut Pandangan Islam

0
22
Moh. Rizki Dunggio
Kru Magang Justisia 2021 | + posts

Semarang, Justisia.com – Menurut WHO, kata kesehatan berasal dari kata sehat. Sehat adalah keadaan yang sempurna baik dari segi fisik ataupun mental sosialnya yang bebas dari segala penyakit yang berkaitan dengan sistem reproduksi. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah suatu keadaan baik dari keseluruhan badan dan jiwa manusia yang bebas dari rasa sakit. Istilah kesehatan adalah suatu keadaan yang kesejahteraan badan, jiwa, dan sosialnya mengalami keadaan yang produktif sehingga rentan terkena penyakit.

Setiap manusia pasti menginginkan kesehatan rohani maupun jasmani. Oleh karena itu, setiap manusia akan berusaha untuk memelihara kesehatan dirinya semaksimal mungkin. Termasuk kesehatan reproduksi juga, yang menurut semua orang sangat penting untuk diperhatikan dan dijaga.

Islam juga sangat memperhatikan soal kesehatan reproduksi manusia. Dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah tertuang berbagai pedoman hidup bagi manusia yang membahas juga tentang dukungan kesehatan reproduksi, terutama posisi perempuan dimana Islam sangat memuliakan derajat perempuan.

Dalam menjaga kesehatan reproduksi manusia, Islam telah melarang untuk melakukan hubungan seks bebas atau diluar nikah, sesama jenis yang itu semua untuk manfaat bagi manusia itu sendiri. Larangan-larangan tersebut telah dijelaskan secara detail dalam Al-Qur’an, Hadits dan para Ulama.

Dalam QS. An-Nur ayat 31 yang artinya : Katakanlah kepada wanita yang beriman “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara mereka. Atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman, supaya kalian beruntung.”

Surah diatas menyebutkan beberapa hukum tentang orang yang tidak memelihara kemaluannya. Seperti perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina tanpa adanya ikatan suami-istri, serta hal-hal lain yang berkaitan dengan pemeliharaan kesehatan reproduksinya. Misalnya, menuduh orang berbuat zina, perintah agar menahan pandangan yang merupakan pendorong untuk berbuat zina, perintah kepada orang yang belum mampu menikah agar menjaga diri, dan larangan memaksa gadis remaja untuk melakukan perzinaan tanpa adanya ikatan yang sah menurut agama dan negara.

Dalam Islam, semua hal yang berkaitan dengan kajian kesehatan reproduksi sudah tersedia, tinggal kitanya sendiri yang perlu mengeksplor lebih banyak guna manfaat bagi kita bersama. [Ed. Lutfi/ Red. M2]

Baca juga:  Magang di Pengadilan Agama Membuat Saya Yakin, Patriarki dan Mirisnya Kehidupan Pernikahan Itu Ada

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here