Jurgen Habermas; Komunikasi adalah Nyawa Demokrasi

0
100
sumber foto: britannica.com
Ivan Zulkarnaen
Sekretaris BPH Justisia 2022 | + posts

Justisia.com – Jurgen Habermas adalah seorang pemikir dan sosiolog asal Jerman. Ia merupakan generasi kedua dari Mazhab Frankfurt. Habermas menjadi penerus dari teori kritis yang ditawarkan oleh para pendahulunya (Max Horkheimer, Theodor Adorno, dan Herbert Marcuse). Bagi Habermas pengetahuan kritis dikonsepsikan sebagai pengetahuan yang memungkinkan manusia beremansipasi, berpartisipasi, dan berperan serta mengembangkan diri untuk keluar dari dominasi pemikiran.

Kritik Rasio Instrumental

Sebelum masuk kepada pembahasan komunikasi rasional, kritik rasio instrumental merupakan latar belakang munculnya pemikiran Habermas mengenai komunikasi rasional. Rasional menurut Habermas merupakan cara kita berpikir untuk memecahkan masalah dan untuk mencapai tujuan. Masyarakat modern menyebut rasional itu yang masuk akal. Rasio menjadikan akal pikiran sebagai alat untuk mengatasi sesuatu untuk mencapai tujuan Bersama. Rasio itu idealnya dipakai manusia ketika manusia berhadapan dengan sesuatu yang bersifat alamiah atau kebendaan.

Misalnya, ketika kita hendak menyeberangi sungai dimana disana tidak terdapat jembatan padahal kita harus menyeberangi sungai tersebut, maka kita bisa berpikir untuk menebang pohon untuk dijadikan jembatan atau perahu. Kita tidak memikirkan kepentingan kayu tersebut karena ia benda mati dan tentu tidak memiliki kepentingan. Berbeda dengan tatkala kita berhadapan dengan sesama manusia, yang sudah tentu memiliki kepentingan masing-masing.

Rasio Komunikatif

Ketika manusia menggunakan rasio instrumental saat berhubungan dengan manusia yang lain maka akan terjadi penjajahan atau dominasi, karena disitu cenderung manusia saling mengobjekan antar manusia. Maka Habermas menawarkan sebuah solusi untuk menggunakan rasio komunikatif ketika berhubungan dengan subjek atau manusia. Melalui rasio komunikatif manusia saling mengungkapkan kepentingannya, ketika manusia saling berhadapan akan terjadi pertemuan antar-kepentingan.

Kepentingan-kepentingan individu inilah yang harus disingkapkan dan dikomunikasikan agar masing-masing individu mengetahui kepentingan-kepentingan yang ada dan kemudian dicari irisan dari kepentingan-kepentingan tersebut guna memuaskan setiap individu yang memiliki kepentingan. Sangat jelas ketika kita berhadapan dengan orang lain maka berkomunikasilah agar tidak bertabrakan dengan kepentingan orang lain maka kita harus menggunakan komunikasi rasional. Kalau modelnya rasio instrumental malah akan terjadi saling memperalat antar manusia, sehingga tidak akan tercipta komunikasi dua arah.

Theory Communicative Action

Communicative action merupakan interaksi setidaknya dua orang untuk menemukan mutual understanding tentang satu kondisi spesifik untuk menghasilkan satu rancangan mengkoordinasikan tindakan mereka. Kritik ini awalnya muncul pada paradigma kerja yang dicanangkan oleh kelompok Marxis klasik yang menggunakan jalan revolusioner untuk menjungkirbalikkan struktur masyarakat demi terciptanya masyarakat sosialis yang dicita-citakan. Jadi modelnya Marxis klasik itu saling menaklukan, setelah kapitalisme hancur nanti muncul diktator proletariat setelah itu masyarakat tanpa kelas yang dikoordinasi oleh pengelolaannya dan seterusnya, saling balas-membalas.

Kata Habermas tidak akan ada selesainya model seperti itu, harusnya saling komunikasi. Karena komunikasi merupakan bagian dari tindakan manusia. Ada setidaknya empat macam tindakan yang disebut oleh Habermas. Pertama tindakan teologis yang berarti seseorang melakukan sesuatu karena ada tujuannya. Kedua, tindakan normatif yaitu seseorang melakukan sesuatu karena adanya perintah. Ketiga, tindakan dramaturgi yang mana seseorang melakukan sesuatu karena perihal pencitraan saja. Selanjutnya yang keempat ada tindakan komunikatif yaitu seseorang melakukan sesuatu karena telah ada kesepakatan sebelumnya.

Rasionalisasi & Komunikasi

Rasionalitas merupakan perhitungan yang masuk akal untuk mencapai sasaran berdasarkan pilihan-pilihan yang masuk akal dan dengan menggunakan sarana yang efisien. Masuk pada ranah rasionalitas harus adanya pembenahan dalam ranah (sains, teknologi, hukum, moralitas, dan seni). Selanjutnya Disenchantment of the world yaitu menganggap bahwa dunia ini tidak sacral agar kita hidup bisa menemukan rasionalitas. Ada pula birokrasi yang harus mencakup beberapa poin yaitu, jabatan administratif yang terorganisir atau tersusun secara hirarkis, setiap jabatan mempunyai wilayah kompetensinya sendiri, dan pegawai ditentukan berdasarkan pada kualifikasi Teknik. Terakhir harus ada rasionalitas komunikasi.

Strategi Action VS Communicative Action

Untuk mewujudkan komunikasi rasional yang baik perlu dibedakan antara tindakan strategis dan tindakan komunikasi. Karena seringkali kita menjumpai di dunia nyata banyak orang yang salah dalam mengartikan dua hal tersebut. Tindakan strategis merupakan tindakan yang berorientasi pada kesuksesan atau kemenangan yang dilakukan dengan berbagai cara, seperti bujukan, iming-iming penghargaan, tekanan, hingga paksaan bahkan ancaman. Dalam tindakan strategis ini mengandung unsur rasio instrumental, manusia saling memperalat sesamanya untuk mencapai tujuan.

Berbeda dengan tindakan komunikatif, yaitu tindakan yang berorientasi saling pengertian, kesepahaman Bersama, dan konsensus. Tindakan komunikatif adalah tindakan rasional yang berorientasi kepada kesepahaman, persetujuan, dan rasa saling mengerti. Dalam tindakan komunikatif ini mengandung unsur rasio komunikatif, dimana manusia saling berkomunikasi untuk menyelaraskan kepentingan-kepentingannya.

System & Lifeworld

System merupakan institusi pasar dan birokrasi impersonal, dikoordinasikan melalui satu rasionalitas strategis. Sedangkan lifeworld merupakan dunia tempat manusia berbagi makna, dikoordinasikan melalui rasionalitas komunikatif. Kata Habermas yang menghambat serta mencegat komunikasi itu adalah pasar dan birokrasi. Dalam system tidak ada logika komunikasi tapi logika strategi, jadi sistem memiliki kecenderungan menjajah (kolonisasi) terhadap ‘lifeworld’ dan mengancam communicative action.

Komunikasi tidak hidup dalam sistem tapi lifeworld, sistem juga menjajah lifeworld. Walaupun ada diskusi atau tindakan komunikasi tapi dikasih rambu-rambu agar tidak menabrak system dan birokrasi. Misal (Universitas diatur dengan strategis pasar), manusia menjadi terpenjara di sistem yang mereka buat sendiri.

Demokrasi Deliberatif

Deliberatif memiliki arti konsultasi, musyawarah, atau menimbang-nimbang. Demokrasi bersifat deliberatif jika proses pemberian alasan atas suatu rencana kebijakan pihak diuji lebih dahulu lewat konsultasi publik atau diskursus publik. Demokrasi deliberatif memiliki keinginan meningkatkan intensitas partisipasi warga negara dalam proses pembentukan aspirasi dan opini, agar kebijakan-kebijakan dan undang-undang yang dihasilkan oleh pihak yang memerintah semakin mendekati harapan pihak yang diperintah.

Teori demokrasi deliberatif tidak memfokuskan pandangannya dengan aturan-aturan tertentu yang mengatur warga, tetapi sebuah prosedur yang menghasilkan aturan-aturan itu. Seperti bagaimana keputusan-keputusan politis diambil dan dalam kondisi bagaimanakah aturan-aturan tersebut dihasilkan sedemikian rupa sehingga warga negara mematuhi peraturan-peraturan tersebut. Jadi demokrasi deliberatif itu tidak melihat aturan tapi prosedur yang melahirkan aturan tersebut, melihat prosesnya.

Ruang Publik

Menurut Habermas untuk lahir demokrasi deliberatif harus dibutuhkan yang namanya ruang publik. Ruang publik merupakan ruang demokratis atau wahana diskursus masyarakat, yang mana warga negara dapat menyatukan opini-opini, kepentingan-kepentingan, dan kebutuhan-kebutuhan mereka secara diskursif. Ruang publik harus bersifat otonom, tanpa intervensi dari pemerintah. Ruang public nerupakan sarana warga berkomunikasi, berdiskusi, berargumen, dan menyatakan sikap. Ruang publik merupakan wadah yang mana warga negara dengan bebas dapat menyatakan sikap dan argumen mereka terhadap negara atau pemerintah.

Ruang publik bukan sebuah institusi atau organisasi yang legal. Ruang publik harus bersifat bebas, terbuka, transparan, dan tidak ada intervensi pemerintah atau otonom. Ruang publik itu harus mudah diakses oleh semua orang. Dari ruang publik ini dapat terhimpun kekuatan solidaritas masyarakat warga untuk melawan mesin-mesin pasar atau kapitalis dan mesin-mesin politik. Suatu negara dapat disebut berdaulat ketika negara (pada lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif) dapat tersambung secara diskursif dengan proses pembentukan aspirasi dan opini dalam ruang publik. [Red. IrchamM]

Baca juga:  LBH Semarang Gelar Studium Generale Pembukaan Kalabahu ke-23

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here