Alaik Ridhallah; Keilmuan Falak itu Luas

0
80
Anita Agustika Jati
Kru Magang Justisia 2021 | + posts

Semarang, Justisia.com – Sidang Senat Terbuka Magister (S.2) Ke-50, dilaksanakan 8-11 Februari 2022 di Auditorium 2 UIN Walisongo semarang.

Alaik Ridhallah, Mahasiswa (S2) asal prodi Ilmu Falak. Menjadi peraih tesis terbaik dengan judul “Penerapan Metode Candrasengkala dan Metode Hisab Jumali dalam Visualisasi Tahun Perspektif Semantik dan Astronomi” dengan Indek Prestasi (IP) sebesar 3,81.

Alasan memilih judul tesis

“Berawal dari kebuntuan berfikir dan melihat yang dibahas di ilmu falak hanya berkutat di pembahasan Arah Kiblat, Awal Bulan Hijriyyah, Gerhana, dan Waktu Shalat.  Padahal ranahnya keIlmuan Falak itu luas.  Ilmu Falak identik dengan angka dan perhitungan,” jelas Alaik.

Ia mencoba mengawinkan ilmu falak dengan budaya. Satu sisi Candrasengkala itu budaya lokal Nusantara, sedangkan Hisab Jumali itu dari Timur Tengah, Arab.  Keduanya representasi dari dua budaya, Islam dan Jawa. Keduanya dapat digunakan dalam memvisualisasikan tahun, dengan caranya masing-masing.  Keduanya sama-sama memvisualisasikan tahun dengan kata-kata. Kemudian  dianalisis dengan menggunakan perspektif Semantik dan Astronomi.

“Dengan semantik saya mengetahui makna yang terdalam dari susunan kata tadi, fokus kajiannya pada Leksikal, Gramatikal dan Kontekstual. Sedangkan dari sisi astronomi saya menguak di dalamnya ada peristiwa apa saja yang berhubungan dengan peristiwa astronomi,” tuturnya ketika dihubungi via telepon Whatsapp.

Contoh yang sudah masyhur, pada tahun 1400 Saka diperingati dengan sengkalan Sirna Ilang Kertaning Bumi, tahun di mana awal dari keruntuhan Kerajaan Majapahit. Dengan bantuan aplikasi Stellarium, pada waktu itu di Nusantara terjadi gerhana Matahari yang hampir merata di seluruh wilayah Nusantara.

Namun Alaik sendiri percaya, bahwa semua kejadian astronomi atau alam semuanya adalah kehendak dari Allah Swt.  itu semuanya hanya kebetulan saja.

Sedikit penjelasan tentang Candrasengkala dan Hisab Jumali

Sengkalan atau Candrasengkala, ialah sistem perlambangan angka tahun dengan kata-kata bukan dengan angka. Jadi angka tahun di balik ungkapan. Berawal kata-kata yang mempunyai makna, digabungkan, kemudian menjadi sebuah kalimat yang bisa dibuat patokan tahun.

Sengkalan didefinisikan sebagai angka tahun yang dilambangkan dengan kalimat, gambar, atau ornamen tertentu. Bangsa Barat menyebutnya sebagai kronogram.

Sengkalan dapat ditemukan di dalam tulisan-tulisan karya sastra Jawa, benda-benda bersejarah, bangunan, karya seni, dan lambang atau simbol suatu daerah, lembaga atau

organisasi sebagai tanda atau sandi peringatan kala atau waktu tahun kejadian peristiwa penting yang terkait.

Sirna Ilang Kertaning Bumi yang berarti ‘sirna hilang kejayaan di bumi’. Sirna bernilai 0, Ilang

bernilai 0, Kerta bernilai 4 dan Bumi bernilai 1. Tahun keruntuhan Kerajaan Majapahit, 1400 Saka (S).5 Dari contoh tersebut maknanya bertepatan dengan maksud yang disengkalani.

Sebelum mengenal angka mereka menggunakan huruf Hijaiyyah secara numerik, kemudian huruf yang diangkakan itu disebut angka Jumali. Ilmu Hisab Jumali adalah ilmu mengonversi huruf

Hijaiyyah ke dalam nilai-nilai angka. Angka-angka hasil konversi tersebut biasanya digunakan oleh orang-orang terdahulu untuk membuka rahasia-rahasia ayat-ayat al-Qur’an, kalimat Thayyibah, dan lain-lain. Contohnya pada lafadz} Bismilla>h ar-Rahma>n ar-Rah}i>m, yang dikenal dengan nama Bismillah ini mempunyai sembilan belas huruf dan jika dijumlahkan mengandung nilai numerik 786.

Salah satu pula penggunaan Hisab Jumali dalam dalam visualisasi tahun, berdasarkan rumus huruf hijaiyyah secara numerik, kemudian dijadikan kata, selanjutnya dibuat kalimat, dan sebagainya.

Contohnya Kalam “Khuz} Badala>” disusun oleh Saifuddin Luthfi, secara hitungan Hisab Jumali Kho bernilai  600, Z}al bernilai 700, Ba bernilai 2, Dal bernilai 4, Lam bernilai 30, dan Alif bernilai 1 = total 1337 H., tahun berdirinya Madrasah Qudsiyyah Kudus. Kata-kata itu mempunyai arti “Carilah Penggantiku”.

Tips supaya menjadi wisudawan berprestasi

“Secara spesifik tidak ada ya, hanya saja yang saya lakukan fokus dengan planning. Pastikan planning kita itu baik, terstruktur dan logis. Selalu beribadah dan berdoa. Berbakti kepada orang tua, jangan lelah untuk mendoakan mereka,” Pesan Alaik.

Masih menurut Alaik, dirinya berpesan agar jangan hanya menjadi orang yang biasa-biasa saja. Tetap rajin membaca, diskusi, dan menulis. Menulis apapun, karena setiap tulisan kita itu pasti ada pasar pembacanya. Jaga silaturahmi dengan kawan dan senior. Yang terpenting, hindari konflik. [Ed. Fia/Red. IrchamM]

Baca juga:  Puncak Perayaan Milad ke-25 tahun, Pengunjung Datang Tak Terkira

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here