Warisan Pemikiran Gus Dur Terhadap Islam Nusantara

0
69
Warisan Pemikiran Gus Dur Terhadap Islam Nusantara
Foto Gus Dur. Sumber: tirto.id
M. Lutfi Nanang Setiawan
Sekretaris Redaksi Jurnal Justisia 2022 | + posts

justisia.com – Perkembangan keislaman di Indonesia selalu menarik untuk dikaji dari berbagai aspeknya, adalah lahir anak-anak bangsa dengan berbagai kreativitas dan kemampuan keislaman yang memadai. Mereka melontarkan pikiran-pikiran segar namun menghasilkan kontroversial.

Di antara sebagai tokoh tersebut, tanpa menafikan tokoh yang lain, seperti Nurcholis Madjid, Dawan Rahardjo, Amin Rais, Quraish Shihab, Munawir Sadzali, Moeslim Abdurrahman, dan Abdurrahman Wahid.

Tokoh-tokoh tersebut memiliki gagasan-gagasan yang sangat progresif dengan gaya bahasa yang khas, seperti Sekulerisasi Islam, Reaktualisasi Ajaran Islam, Tauhid Sosial, Membumikan al-Quran, Membumikan Islam, Teologi Transformatif da Pribumisasi Islam.

Gagasan Pribumisasi Islam Abdurrahman Wahid adalah salah satu trademark pemikirannya yang sangat menarik perhatian umat Islam, baik dari kalangan santri maupun masyarakat umum.

Ketika itu kalimat yang mengundang perdebatan adalah pergantian ucapan Assalamu’alaikum menjadi selamat pagi, selamat siang maupun yang lain. Dalam perspektif antroposentris ucapan itu adalah perkataan atau sapaan untuk berbuat baik jika ketemu orang lain.

Oleh karena itu, bisa saja diganti menjadi kalimat sapaan pada umumnya. Namun, Gus Dur mengingatkan bahwa ada batasan norma agama di dalamnya. Penjelasan Gus Dur terkait norma itu tidak dimuat dalam majalah tersebut, hingga menimbulkan polemik di kalangan cendekiawan Muslim atau masyarakat Islam.

Ide yang hampir mirip dengan Gus Dur adalah gagasan Quraish Shihab yaitu Membumikan al-Quran. Gagasan Shihab tersebut dapat ditelusuri dari berbagai makalahnya, sejak dari 1875-1999. Ia berusaha untuk menjawab persoalan umat yang terjadi melalui penafsiran al-Quran, bukan pada persoalan yang ngambang.

Menurut Amin Abdullah, istilah yang digunakan oleh tokoh Islam tersebut seperti istilah reaktualisasi, reinterpretasi, revitalisasi, kontekstualisasi, dan membumikan Islam memiliki makna yang relatif sama dengan istilah Islam transformatif, dan Islam substantif.

Keberanian dan konsistensi Gus Dur dalam mengemukakan idenya sebagaimana telah banyak dibukukan maupun yang dimuat ulang dalam media online, semakin menarik untuk dikaji.

Artinya, pengkaji atas pemikirannya akan banyak menghasilkan penafsiran, meskipun sang penafsir atau pembaca pikirannya tidak bisa menjamin akan kesesuaian antara produk tafsirnya dengan pengarang itu sendiri. Mungkinkah hal ini terjadi pada discourse atau wacana Islam Nusantara.

Secara sosiologis, ide Islam Nusantara ini sebagai penegasan terhadap realitas yang telah ada pada masa awal Islam berkembang hingga sekarang di Nusantara, dengan interpretasi serta ekspresi khas yang dikembangkan di wilayah Nusantara. Sedangkan secara geografis adanya Islam Nusantara sebagaimana pula adanya Islam Arab, Islam Afrika, dan Islam Eropa.

Maka, Islam Nusantara bukan berarti menegasikan interpretasi maupun ekspresi yang ada di berbagai belahan dunia Islam. Penegasan ini sah-sah saja, karena pemahaman umat Islam selalu mengalami perkembangan sehingga memunculkan pemahaman yang bermacam-macam. Termasuk pemahaman akan Islam Nusantara yang menjadi pijakan dasar atau word view dari komunitas atau kelompok yang mengusungnya.

Kendati demikian, Islam Nusantara bukanlah sesuatu yang baru. Karena sudah menjadi kajian akademik, seperti Azyumardi Azra pada tahun 2002, pada tahun 2008, jurnal Taswir al-Afkar No. 26 menerbitkan tentang Islam Nusantara.

Selain itu, yang sangat konsisten adalah Abdul Karim, ia mengusulkan Islam Nusantara sejak 2003, namun tidak direspon dengan baik. Di tahun 2005, ia kembali mengusulkan idenya hingga diterima dan mengahasilkan adanya mata kuliah wajib lokal Islam Nusantara.

Secara geneologi, Islam Nusantara sangat erat kaitan dan hubungannya dengan Pribumisasi Islam yang diintroduksikan oleh Gus Dur di era 1980-an.

Begitu juga temuan dalam sebuah laporan penelitian kelompok, yang diketuai oleh Hasbiyallah pada 2016 lalu, menyimpulkan bahwa gerakan-gerakan keislaman di Indonesia ala NU dengan berbagai varian, seperti Islam Indonesia, Pribumisasi Islam, dan Islam Nusantara sudah lama muncul ke ranah publik yang dibawakan oleh Abdurrahman Wahid.

Gus Dur sejak 1980-an sudah mendiskusikan “Pribumisasi Islam” sebagai sebuah kesadaran banyak orang bahwa Islam Indonesia memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dengan apa yang ada di belahan dunia Islam lain.

Islam Nusantara adalah suatu corak keagamaan yang terbentuk dengan kekhasan Nusantara. Terbentuknya corak tersebut tidak lepas dari mekanisme Islamisasi yang mengacu pada pribumisasi Islam. Hal ini memperkuat landasan dalam berdakwah atau menyelesaikan permasalahan yang terjadi di suatu kawasan dengan mempertimbangkan realitas sosial tertentu.

Misalnya pada aspek arsitektur masjid-masjid kuno, kekhasan itu terjadi karena ada faktor penting yang menjadi sebabnya. Pertama, yang disesuaikan dengan ekologi, yang artinya bangunan dengan bertingkat-tingkat yang berguna untuk memperlancar aliran air ketika hujan, dan tingkatan atap seperti pada bagian lowong adalah tempat ventilasi yang bisa memasukkan udara dingin.

Kedua, bangunan yang disebutkan di atas dinamakan dengan meru, yang dianggap sebagai bangunan suci para dewa pada masa Buddha dan Hindu.

Sudah menjadi pengetahuan umum dalam kajian keislaman Indonesia gagasan ini tidak bisa diabaikan begitu saja. Sebab, salah satu kontribusi Gus Dur dalam kehidupan sosial-budaya umat Islam Indonesia, ialah gagasannya yang bertajuk “Pribumisasi Islam.

Melalui gagasannya ini, Gus Dur mengkritik terhadap arus atau gejala yang ia sebut Arabisasi. Gejala Arabisasi yang sangat mendominasi adalah arena bahasa, baik kelembagaan maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Arabisasi ataupun mengenditifikasi diri dengan budaya Timur Tengah akan membahayakan dan mencabut kita dari akar-akar budaya sendiri. Ia menegaskan, bahkan lebih dari itu, kebutuhan kita belum tentu cocok dengan gejala Arabisasi.

Karena, tegas Gus Dur, mereka yang berdalih memperjuangkan atau membela Islam, dengan upaya menolak budaya maupun tradisi yang sudah menyatu dengan kehidupan bangsa Indonesia, lalu mereka menggantikannya dengan budaya serta tradisi ala Timur Tengah.

Asumsi Gus Dur bahwa umat Islam Indonesia, sedang asyik-asiknya mewujudkan berbagai ekspresi keagamaan mereka dalam bentuk dan nama dari bahasa Arab. Gejala ini sudah sangat umum dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti kulliyyat al-tarbiyah untuk fakultas pendidikan, kulliyyat al-Syariah untuk fakultas hukum Islam, atau sebutan hari “Minggu” diganti dengan kata ahad, ‘saudara’ atau sahabat’  diganti dengan ikhwan dan gejala-gejala lainnya. Merupakan suatu tawaran Gus Dur dalam ranah praksis, untuk mempertemukan hubungan yang harmonis tanpa kontradiktif antara Islam dan budaya dengan memanfaatkan kekuatan adaptif Islam.

Gus Dur dengan gayanya yang khas dan pemikirannya yang tak jarang mengundang kontroversi dan tanggapan dari beragam kalangan, tidak salah kalau beliau menjadi tokoh yang selalu dirindukan kehadirannya di tengah masyarakat. [Red. sI]

Konten ini diproduksi atas kolaborasi justisia.com dan NU Jateng selama bulan Ramadhan 1442 H.

Baca juga:  Selamat Hari Ibu di Bulan Gus Dur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here